SITTI SALEHA ‘WANITA BESI’ DARI BOMBANA

 OLEH YAMIN INDAS

Hj Sitti Saleha SE MSi

SITTI SALEHA adalah anak petani yang sukses membangun kariernya di birokrasi pemerintahan. Pangkat maupun jabatannya sekarang sudah top sebagai pegawai negeri sipil daerah. Dia golongan IV/d dengan jabatan struktural Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Masih setingkat lagi untuk kenaikan pangkat ‘jenderal’ atau bintang empat di militer. Tapi bagi pegawai negeri sipil daerah tersedia hanya satu-satunya jabatan puncak untuk mendapatkan pangkat tertinggi, yaitu Sekretaris Daerah Provinsi dengan pangkat/golongan IV/e. Namun, untuk meraihnya sangat ketat dari segi persyaratan maupun  persaingan.

Leha, panggilan akrab Saleha tidak ke sana lagi pikirannya. Dia sudah puas dengan apa yang di tangannya saat ini. Toh, kalau memasuki masa pensiun, sekitar 4 atau 6 tahun dari sekarang, secara otomatis dia akan mendapatkan kenaikan pangkat tertinggi tersebut.

Bagi Saleha, karier yang diraihnya saat ini tidak datang begitu saja. Tapi merupakan buah dari pendirian dan kemauan yang kuat. Karakter dan semangat tersebut membuat dirinya bisa disebut ‘wanita besi’ dari Bombana. Tentu Julukan itu berlaku pada saat dia sedang berdinas. Pasalnya, Saleha tampak teguh memegang prinsip disiplin sebagai pegawai negeri sipil.

Suatu pagi di awal tahun 2019, pintu masuk Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sultra tampak tertutup. Pintu itu dipalang lagi dengan sebuah mobil yang diparkir dan bumpernya menempel di daun pintu pagar.

Dari luar terlihat ruang parkir mobil Kadis, kosong. Saya pikir beliau sedang keluar, atau ada kegiatan bersama di internal kantor. Saya masuk lewat pintu keluar dan menuju ke belakang untuk parkir. Ibu Kadis ternyata masih eksis di kantor. Staf tampak silih berganti keluar masuk ruangan kerjanya.

Setelah dapat giliran saya masuk dan to the point: “Pintunya kok ditutup dan dipalang lagi”. “Supaya anak-anak (maksudnya pegawai) tidak seenaknya keluar keluyuran tanpa urusan yang jelas”, jawabnya spontan.

Ketika menjadi Pembina Upacara dalam kapasitasnya sebagai Pj Bupati Bombana beberapa waktu sebelumnya, Sitti Saleha turun dari mimbar lalu memeriksa barisan peserta upacara. Dia sempat memplototi beberapa orang karena sikap maupun tata cara berpakaian kurang sempurna.

Beberapa kali dia juga melakukan inspeksi mendadak ke kantor-kantor SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Kabupaten Bombana. Bila halaman kantor kotor dan ditumbuhi rumput liar, Pj Bupati tersebut langsung mengajak pegawai kantor bersangkutan untuk kerja bakti, bergotong royong,  membersihkan dan merapikan halaman kantor mereka sendiri.

Sikap disiplin dan concern terhadap pekerjaannya  adalah obsesi Saleha. Dalam hal itu, dia  ingin berbagi dengan sesama ASN (Aparatur Sipil Negara). Bagi ASN yang dipercaya menjadi pimpinan unit, menurut dia,  yang bersangkutan harus mampu memberi solusi setiap persoalan di unit organisasinya.

Menjelang akhir tahun 2018, sekitar 30 pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) bertatap muka dengan Saleha. Mereka menyampaikan banyak hal kepada Kadis Perindag Sultra tersebut. Salah satu di antaranya, penolakan produk mereka oleh mini market yang beroperasi di daerah tersebut.

Sitti Saleha bersama suami, Gubernur Sultra dan Ny Tina Nur Alam. Gambar diambil seusai pelantikan di Kantor Gubernur Sultra.

Produk dimaksud adalah produk makanan olahan dari berbagai komoditas Sultra, seperti ikan, sagu, kakao, aneka kue, dan lain-lain. Para pelaku UMKM mengharapkan pihak mini market menyediakan  tempat agar produk mereka ikut dijajakan di situ.

Saleha belum mengambil suatu keputusan. Dia mengundang mereka bertatap muka lagi minggu depan. Di pertemuan berikutnya itu Kadis Perindag ternyata menghadirkan para pengelola mini market dari beberapa kabupaten, termasuk para Kadis Perindag setempat.

Alhasil, dalam pertemuan tiga pihak itu tercapai kesepakatan mini market bersedia menampung produk makanan olahan dengan syarat kualitas harus lebih ditingkatkan, harus diberi label, dan lain-lain.

Julukan sebagai ‘wanita besi’, sebetulnya  tak lebih hanya sebuah sikap apresiatif kepada Saleha, satu-satunya wanita Bombana yang ikut berkibar di provinsi saat ini. Saya tidak bermaksud menyetarakan beliau dengan beberapa tokoh wanita dunia yang diberi julukan tersebut oleh pers. Misalnya, PM Inggris Margaret Thatcher dan PM India Indira Gandhi.

Wanita besi Margaret Thatcher disegani para pemimpin dunia lainnya karena dia lain sangat keras mengecam Uni Sovyet yang lebih mengutamakan penguatan militer dibanding soal-soal ekonomi dan kemanusiaan. Hanya untuk dikatakan kekuatan militernya jauh di atas kemampuan Amerika Serikat.

 

Ramah dan Hangat

Bagi Saleha, julukan ‘wanita besi’ juga agak kontroversi dengan tampilan fisik dan kesehariannya. Berkulit putih bersih, Saleha selalu tampil ramah dan hangat. Terasa ada kelembutan terpancar dari hatinya bila dia berbicara. Namun tatapan matanya tajam.

Dalam pergaulan dengan masyarakat dari semua lapisan, Saleha dikenal baik hati. Suka membantu pikiran maupun materi bagi yang dianggapnya membutuhkan.

Ketika dia menjabat sebagai Pj Bupati Bombana, rombongan Gubernur Sultra termasuk para sopir merasa gembira bila berada di kabupaten baru tersebut. Sebab tak bakal kelaparan dan tangki mobil juga full.

 

Mandiri Sejak Kecil   

Secara ekonomi Saleha tidak ada masalah untuk mencapai cita-citanya. Sebagai sulung dari 7 bersaudara, dialah  yang pertama menjadi tumpuan segenap kasih sayang kedua orangtuanya, HM Saleh dan Hj Juhaniah.

Pak Saleh adalah wiraswasta. Dia memiliki perusahaan CV Poleang Indah yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Pak Saleh juga tetap menggarap lahan pertanian. Dia membuka beberapa hektar kebun kelapa, tambak, dan sawah di Poleang Timur, Kabupaten Bombana. Tepatnya di kawasan yang disebut Mambo.

Mendiang ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur untuk membuka daerahnya dari isolasi. Dia rela mengorbankan pohon kelapanya ditebang untuk pembuatan badan jalan. Tak lupa juga ia mewakafkan sebidang tanahnya dan menyediakan dana buat pembangunan masjid di Mambo.

Terkait kehidupan keluarga, Pak Saleh ingin agar anak-anaknya bersekolah dan tidak ngumpul terus bersama orangtua di kampung. Harapan tersebut sejalan dengan keinginan gadis ciliknya, Saleha. Maka, setamat SD Negeri 3 Bombana (1977), Saleha cabut diri dari Bombana. Dia dibawa ayahnya ke Kendari, untuk melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 2 di kota itu.

Pak Saleh kemudian membeli sebuah rumah di ibu kota provinsi buat tempat tinggal Saleha dan adik-adiknya jika ada yang mau menyusul ke Kendari. Salah satu kerabat dekat ditempatkan di rumah itu sekaligus dalam rangka mengurus keperluan Saleha.

 

Merawat Pertemanan

Ketika usia beranjak dewasa dan telah mengantongi ijazah SMPP Negeri 9 Kendari (kini SMA Negeri 4), gelora hatinya untuk hidup mandiri kian bulat. Dengan ijazah itu ia melamar sebagai calon pegawai negeri sipil ke Kantor Gubernur Sultra, dan goal.

Dia bersuka cita luar biasa karena telah memiliki penghasilan sendiri dari gaji golongan II/a, titik start kariernya sebagai PNS.

Di tengah eforia masa-masa remaja, dia menikah dengan Mustafa Syarif, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo. Mustafa berdarah Moronene juga.

Sejak di SMA, Saleha pandai membangun dan merawat pertemanan hingga masa perkuliahan di Unhalu. Di antara teman-temannya, termasuk Nur Alam. Sosok ini dikenal kreatif dan mandiri secara ekonomi. Nur Alam kemudian terpilih sebagai Gubernur Sultra dua periode (2008-2018). Tentu saja, Nur Alam sedikit banyak ikut mewarnai perjalanan karier Saleha.

Terbentuknya Bombana sebagai daerah otonomi baru hasil pemekaran Kabupaten Buton, juga menjadi peluang besar bagi Saleha terkait pengembangan kariernya sebagai kader birokrat. Dia pulang kampung untuk ikut  membangun Bombana.

Hampir semua anak daerah dari sana memiliki peluang yang sama. Namun, Saleha memiliki nilai tambah karena dia berlatar belakang pengalaman di bidang administrasi pemerintahan. Sementara yang lain kebanyakan dari guru berbagai jenjang pendidikan.

Di bawah kepemimpinan Bupati Bombana yang pertama, Atikurrahman, Saleha dipercaya menduduki berbagai jabatan eselon III hingga eselon II/B, jabatan struktural tertinggi di kota/kabupaten setelah Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten di eselon II/A.

Kesibukan dengan karier yang kian bersinar,  membuat Saleha secara perlahan bangkit dari kesedihan mendalam akibat kematian sang suami tercinta. Mustafa meninggal karena sakit tatkala anak bungsu Sitti Firqa Meirna Nadila baru mulai masuk SD. Kini, Firqa kuliah di jurusan Psikologi salah satu universitas swasta di Jakarta.

Dua kakaknya, Muh Irzal SE dan Muh Ishar Adrian Fadly masih mencari peluang terbaik untuk memasuki dunia profesional sambil melanjutkan pendidikan, atau berkonsentrasi saja di pekerjaan sekarang.

Saleha sendiri menyelesaikan pendidikan pasca sarjana S2 Administarsi  Pembangunan Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2003. Adapun S1 Fakultas Ekonomi Unhalu Kendari diselesaikan tahun 1990.

Di antara 7 bersaudara, Saleha memang menjadi bintang. Anak kedua, Hidayah memilih jadi ibu rumah tangga, istri Drs Abdul Razik Makurasa (pegawai BPKP di Makassar). Sedangkan Hajar Salhan S.Kom bekerja di Bank Sultra, Halma Saleh Putri SH di Pemprov  Sultra (PNS), Idha Salhan DM (PNS, guru). Dua adik laki-laki Tanaka dan Bengki berwiraswasta di Bombana.

Kendati bukan PNS, adik-adik Saleha tersebut hidup mandiri di kampung. Tidak ada yang main jual aset peninggalan orangtua. Ayah mereka, HM Saleh telah meninggal beberapa tahun silam. Ibu Hj Juhaniah kini hidup bersama sulungnya, Saleha, di Kendari.

Saleha tak sendiri lagi. Sebab dia menikah lagi dengan H Samsahril Kamal,  setelah ketiga putra-putrinya beranjak dewasa ini. Kamal sejak lama membangun karier sebagai wiraswasta di Jakarta, dan pernah bekerja di LPU (Lembaga Pemilihan Umum) pada era Menteri Dalam Negeri Rudini.

Dalam masa jabatan periode kedua sebagai Gubernur Sultra, Nur Alam memutasi Saleha dari jabatan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bombana  dengan menempatkannya sebagai Kadis Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sultra.

Dalam tahun 2016 Hj Sitti Saleha SE MSi diberi amanat dan diangkat sebagai Pj Bupati Bombana oleh Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo atas dasar usulan Gubernur Sultra Nur Alam. Makna dari pengangkatan ini adalah penegasan bahwa banyak juga kader dari komunitas  Moronene berpotensi menjadi bupati.

Pelantikan Sitti Saleha mempunyai warna tersendiri dalam sejarah kepemimpinn daerah di Sulawesi Tenggara. Dia merupakan wanita pertama di Sultra yang diberi kepercayaan menjadi Pj Bupati.

Adapun jabatan wakil bupati, bukan kejutan lagi. Sebab jabatan itu telah dibuka Masyhura Ladamay sebagai Wakil Bupati Bombana periode 2012-2017. Dia mendampingi Tafdil sebagai Bupati Bombana. Dalam Pilkada serentak 2017, Ilmiati Daud juga terpilih bersama pasangannya Arhawi sebagai Wakil dan Bupati Wakatobi.

Meskipun menjabat hanya kurang lebih setahun, Saleha dinilai banyak kalangan cukup sukses menjalankan tugasnya. Tugas nasional Pilkada dapat diselenggarakan dengan lancar, aman. Ada gugatan ke MK tapi di Indonesia tidak ada peserta pilkada maupun pilpres yang tidak menggugat ke MK jika dia kalah.

Salah satu nilai positif kepemimpinan Saleha adalah penegakaan sikap disiplin PNS. Tradisi apel sebelum masuk kantor dihidupkan. Dia sendiri masuk kantor  paling lambat sekitar pukul 07.00 Wita.

Tantangan di Provinsi

Sebagai pembantu teknis gubernur,  Kadis Perindag Sultra melakukan koordinasi dan bersinergi dengan para bupati/walikota dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan.

Menurut Saleha, misi tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya karena pihak mitra tadi tak didukung konsep dan program kerja yang terkait pelayanan masyarakat di lapangan.

Banyak proposal diusulkan, misalnya, pengadaan resi  gudang, pembangunan pasar rakyat. Tetapi  ketika infrastruktur ekonomi tersebut dihadirkan, tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan terkesan mubazir karena ada resi gudang yang kemudian digunakan untuk main bulu tangkis.

Resi gudang mestinya difungsikan sebagai tempat penyimpanan produksi petani atau pengusaha kecil tatkala harga sedang anjlok. Sambil menunggu harga pasar yang baik, pemilik barang dapat menggunakan dokumen bukti kepemilikan atas barang tersebut untuk meminjam uang dari bank. Dokumen itu dikeluarkan pengelola resi gudang. Jadi dia tidak bakal jadi korban tukang ijon (tengkulak).

Contoh lain adalah pemanfaatan pasar rakyat yang dibangun pemerintah pusat. Kondisinya hampir sama, lokasi pasar jauh dari akses jalan dan transportasi. Jika bupati atau walikota concern terhadap kepentingan pelayanan rakyat, mestinya lokasi pasar itu ditunjang infrastruktur transportasi yang memadai. Tersedia akses masuk dan ada semacam terminal angkutan umum.

Saleha melihat, adalah aparatur di bawah gubernur yang sebagian besar harus dibenahi, dipertajam programnya dan dilatih kepekaannya merespons permasalahan yang dihadapi rakyat. Provinsi cukup melakukan fungsi koordinasi, supervisi dan penguatan (sinergitas).

Sebagai Kadis Perindag Provinsi Sultra, Saleha kini juga  mempunyai pekerjaan mendesak yaitu pembangunan instalasi BP SMB (Badan Pengujian Sertifikasi Mutu Barang) di Kendari. Pembangunan itu meliputi penyediaan gedung, pengadaan peralatan gital, dan laboratorium, serta program diklat sumber daya manusia yang mengelola lembaga tersebut.

Bila semua perangkat lunak dan keras telah siap dioperasikan, maka setiap produksi yang diantarpulaukan dari Sultra diwajibkan memiliki  Sertifikat Mutu Barang (SMB). Dinas Perindag Sultra telah dan akan bekerja sama dengan otoritas pelabuhan laut maupun bandar udara terkait plaksanaan pungutan SMB tersebut.

Sasarannya adalah peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Payung hukumnya bisa Pergub (Peraturan Gubernur) atau Perda (Peraturan Daerah).

Sitti Saleha mengatakan, realisasi antarpulau berbagai macam komoditas dari Sultra selama tahun yang baru lalu bernilai sekitar Rp 7 tiliyun. Sebagian besar nilai tersebut tak terjaring sebagai sumber PAD. ***

         

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>