KAKAO MEMUDAR KELAPA DILIRIK

OLEH YAMIN INDAS

Dr Ir Yesna Swarni MSc, Kadis Perkebunan dan Hortikultura Sultra

DINAS Perkebunan Sultra bikin kejutan. Menjelang akhir 2018, dinas ini menerbitkan buku Master Plan Pengembangan Kawasan Kelapa di Sultra. “Kami menyadari produksi tanaman kakao kian menurun. Oleh karena itu kami ingin mengembangan tanaman kelapa bagi kesinambungan daya saing wilayah”, begitu komentar Kadis Perkebunan dan Hortikultura Sultra Dr Ir Hj Yesna Suarni MSc.

Prakarsa tersebut patut diapresiasi. Mengapa? Kelapa nyaris dilupakan. Atau kurang populer dibanding kakao. Tanaman kakao pada awalnya dikembangkan  dari Kolaka Utara. Cepat menyebar ke wilayah lain karena usia panennya cepat dan nilai jualnya tinggi.

Demam kakao lebih meluas di era Gubernur Sultra Ir H Alala (1982-1992). Konsep pembangunan Alala yang disebut Gerakan Desa Makmur Merata (Gersamata) diisi antara lain dengan penanaman kakao.

Kebijakan itu tidak sekadar bersifat anjuran tetapi Pemda Sultra menyediakan bibit bagi petani melalui APBD. Mendiang Alala tidak hanya duduk di belakang meja melainkan turun langsung melakukan penyuluhan.

Kelapa makin ‘hilang’ dari perhatian ketika terjadi krisis moneter. Nilai dollar Amerika Serikat naik drastis terhadap rupiah dari 2.400 hingga titik kulminasi 15.000. Jika harga ekspor kakao 2 dollar per Kg, maka nilai yang diterima petani adalah Rp 30.000 per Kg. Padahal sebelumnya adalah sekitar Rp 6.000 per Kg.

Harga kakao pada saat ini pun masih lebih tinggi, sekitar Rp 22.000/Kg, sementara kopra tercatat di bawah Rp 5.000/Kg. Persoalannya adalah produksi dan produktivitas kakao kian merosot. Selain faktor usia tanaman yang sudah tua, juga tekanan hama penggerek batang kakao (PBK) maupun penyakit lain.

Kejayaan kakao yang kian memudar mendorong Dinas Perkebunan Sultra untuk mengembalikan kultur budidaya kelapa kepada penduduk setempat. Hampir semua penduduk di semenanjung tenggara Sulawesi menanam dan memiliki pohon kelapa, kecuali tentu saja di perkotaan dan puncak-puncak bukit batu.

Namun, sebagian besar penduduk menanam kelapa hanya satu dua pohon di pekarangan rumah, hanya untuk kebutuhan sayur. Lebih sedikit yang menanam secara massif. Sentra-sentra yang sedikit itu terdapat di Poleang (Bombana), Kulisusu (Buton Utara), Lasolo (Konawe Utara), dan Wawonii (Konawe Kepulauan).

Pengolahan produksi menjadi kopra di sentra-sentra itu masih tradisional. Mulai pengupasan sabut, pengeringan hingga pencungkilan daging kelapa dilakukan secara manual. Cara pengeringan dilakukan dengan pengasapan ditambah energi  panas matahari.

Dalam rencana aksi Master Plan Pengembangan Kawasan Kelapa disebutkan, semua kabupaten di Sultra merupakan pusat-pusat pengembangan kelapa, kecuali Wakatobi dan perkotaan. Tetapi Wakatobi dan perkotaan direncanakan sebagai pusat-pusat pengembangan industri terpadu komoditas kelapa.

Sebab rencana aksi Pengembangan Kawasan Kelapa mencakup perluasan tanaman dalam rangka peningkatan produksi yang akan di-backup dengan industri. Industri ini akan mengolah semua potensi ekonomi kelapa, mulai batang, daun, hingga buah. Buah kelapa sendiri terdiri dari 4 komponen  yaitu daging, sabut, tempurung, dan air kelapa. Sabut masih diurai lagi menjadi dua produk: coco fibre dan coco feat.

Ir Sapoan MSi, Kabid Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindag Sultra menjelaskan, coco fibre (kandungan serat) pun bisa diekstraksi lagi menjadi bahan pembuatan tali dan bahan jok mobil dan spring bed. Lalu serbuk dari serat atau coco featadalah bahan media tanam di Jepang, sedangkan di Eropa digunakan sebagai lapisan rumput untuk lapangan sepak bola.

Maka lengkaplah keunggulan kelapa sebagai sumber daya ekonomi. Tanaman kelapa bisa memakmurkan dua generasi petani sebab usia produktif tanaman ini bisa 50 tahun. Di lain pihak, produksi kelapa bisa menggerakan gerbong industri di perkotaan dalam rangka penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi daerah.

Yesna berharap para pimpinan daerah dapat berkenan mendukung rencana aksi Master Plan Pengembangan Kawasan Kelapa. Bukan saja dalam aspek pembiayaan pembangunan perkebunan rakyat tetapi juga mendorong penduduk untuk menanam kelapa seluas mungkin sebagai sumber ekonomi nyata.

Sebenarnya, jika para kepala daerah (baca gubernur, bupati/walikota) serius menangani peningkatan pendapatan warganya sesuai janjinya saat kampanye, rencana aksi (action plan) Master Plan Pengembangan Kawasan Kelapa merupakan salah satu pintu masuk.

Masalah kecil bagi program atau rencana aksi tersebut lebih pada kegiatannya yang bersifat lintas periode. Artinya, seorang kepala daerah belum tentu dapat menyaksikan keberhasilan program ini dalam masa jabatannya. Tetapi sebagai pejuang dia tidak perlu terhalang oleh masalah psikologis tersebut.

Sultra sebagai daerah pertanian agaknya masih membutuhkan figur pemimpin seperti Ir H Alala dan Drs H La Ode Kaimoeddin. Mendiang Gubernur Alala juga mengelola proyek-proyek fisik infrastruktur. Pada saat bersamaan dia juga punya ‘mainan’ mendorong petani untuk meningkatkan produksi tanaman industri.

Kaimoeddin ketika menjabat Bupati Muna hanya satu periode mampu menjadikan Muna sebagai penghasil jambu mete. Segala upaya ditempuh untuk menyukseskan program jambu mete, termasuk memindahkan penduduk ke Buton Utara karena lahan pertanian di sana lebih luas.

Di jaman mereka tidak ada yang mengutak-atik proyek yang beranggaran besar. Mereka sibuk dengan ‘mainan’ sendiri untuk memenuhi obsesi yaitu perbaikan hidup rakyat yang dipimpinnya. ***

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>