ASRUN LIO DI ANTARA CANBERRA DAN ROUTA

 OLEH YAMIN INDAS

Kadis Dikbud Sultra Drs asrun lio m.Hum PhD

JARAK Canberra  dengan Routa, memang jauh. Namun, keunikan masyarakat Routa membuat Asrun Lio tidak patah arang untuk bolak balik menempuh jarak antara ibu kota Australia tersebut dan Routa, sebuah wilayah pedesaan yang  tak termuat di peta Provinsi Sulawesi Tenggara berskala 1:500.000.Asrun Lio baru beberapa bulan ini diangkat Gubernur Ali Mazi sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra. Sebelumnya dia adalah tenaga pengajar di Univsrsitas Haluoleo dengan jabatan struktural setara dengan Kadis Dikbud saat ini

Asrun, anak kedua pasangan Asmar Lio dan Munira, tumbuh dan berkembang sebagai ilmuwan di almamaternya, Unhalu. Program S1 Bahasa Inggris dia selesaikan tahun 1990.  Adapun gelar S2 Linguistik, Asrun raih dari Universitas Hasanuddin Makassar pada  tahun 1997. Selanjutnya gelar PhD dengan bidang keahlian Antropologi, Budaya, Sejarah, dan Bahasa diperoleh dari Australian National University (ANU) di Canberra, Australia pada tahun 2015.

Bisa dipahami mengapa Asrun memilih ANU untuk menyelesaikan program pendidikan pasca sarjana S3. ANU alias Universitas Nasional Australia dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di dunia. ANU berada di peringkat 23 dari 200 universitas terbaik di dunia. Unhalu tentu patut berbangga bisa meloloskan mahasiswanya ke perguruan tinggi terkemuka tersebut.
Dengan fasilitas dan sarana yang serba lengkap termasuk perpustakaan yang dimilikinya, ANU sangat mendukung kegiatan penelitian  Asrun dalam rangka program Doctor of Philosophy (PhD)  dengan disertasi tentang Perubahan Identitas: Studi kasus Masyarakat Routa di Sulawesi Tenggara (Shifting Identities: a case Study in Routa, Southeast Sulawesi).

Berinteraksi 5 bahasa

Seperti diungkapkan Asrun dalam suatu perbincangan dengan saya, Routa merupakan sebuah wilayah pedesaan sangat terpencil di Kabupaten Konawe. Sulit diakses dari sudut manapun dari Konawe. Asrun sendiri selama kurang lebih setahun melakukan penelitian di sana, selalu menempuh jalur berliku bila ke Routa. Yaitu melalui wilayah Sulawesi Selatan dengan akses antara lain menyeberang Danau Towuti, lalu  dilanjutkan  dengan perjalanan darat lewat Malili, kemudian masuk wilayah Routa.

Kendati berliku, akses tersebut dianggapnya lebih praktis dan ringkas dibanding melalui wilayah Konawe maupun Konawe Utara yang batas wilayahnya bersinggungan dengan Routa.

Menurut Asrun, masyarakat Routa ialah masyarakat majemuk (multikultural) yang rukun dan kompak satu sama lain, tanpa meninggalkan tradisi dan budaya masing-masing. Dalam pergaulan sehari-hari mereka menguasai dan menggunakan 4 bahasa daerah yakni  bahasa Tolaki, Toraja, Bugis Makassar, dan bahasa Routa. Ini masih ditambah lagi dengan bahasa Indonesia.

Berinteraksi dan berkomunikasi setiap saat dalam 5 bahasa, termasuk bahasa Indonesia,   boleh jadi adalah sebuah fenomena budaya yang langka di negeri ini. Bukan tak mungkin, fenomena itu adanya hanya di Routa.

Asrun mengatakan, bahasa apa yang mau digunakan pada saat berinteraksi, tergantung suasana percakapan. Bila percakapan atau pembicaraan dibuka dengan bahasa Toraja, misalnya, maka bahasa itu yang digunakan. Tapi bisa juga diganti dengan bahasa daerah lain pada momen atau suasana yang lain pula. Begitu seterusnya.

Seperti diungkapkan Asrun, fenomena sosial ‘bhineka tunggal ika’  di Routa muncul jauh sebelum Indonesia Merdeka. Sekitar 1911 pasaran  damar memanas. Permintaan pasar meningkat. Penduduk Routa kewalahan mengolah damar di hutan melebihi kemampuannya. Maka berdatanganlah orang-orang Toraja melakukan pengolahan secara besar-besaran.

Kegiatan tersebut kemudian diikuti orang Bugis Makassar yang berperan sebagai pedagang hasil hutan yang melimpah di Routa. Ketika booming damar berakhir, sebagian imigran memilih tetap tinggal dan menggarap lahan subur di daerah tersebut.

Masih Terisolasi

Hingga era reformasi, Routa hanyalah sebuah desa terpencil di Kabupaten Konawe. Gubernur Sultra maupun Bupati Konawe (dahulu Bupati Kendari) silih berganti, namun  desa itu tak kunjung dibebaskan dari isolasi.

Di era reformasi yang menghembuskan badai pemekaran daerah dalam rangka demokratisasi,  Desa Routa ditingkatkan statusnya menjadi sebuah kecamatan.

Kecamatan baru tersebut dibagi menjadi 7 desa ditambah satu kelurahan, yaitu Kelurahan Routa. Total penduduk pada tahun 2015 disebutkan 700 kepala keluarga.  Akan tetapi, perubahan lain tidak terjadi. Routa tetap terpencil jauh di pedalaman Konawe.

Terkait ekistensi bahasa daerah di sana, Asrun Lio kemudian menyatakan rasa keprihatinannya karena salah satu dari 4 bahasa daerah yang berlaku di Routa menunjukkan tanda-tanda akan punah. Yaitu bahasa Routa sendiri. “Penuturnya tinggal 6 orang”, ujarnya.

Menurut antrpolog tersebut, bahasa Routa sebenarnya merupkan dialek bahasa Bungku, sebuah subtenik di pesisir selatan Sulawesi Tengah. Nasib bahasa tersebut, kemungkinannya bisa lenyap di Routa namun akan tetap eksis di negeri asalnya, Bungku.

Namun demikian, Asrun menyatakan perlu dilakukan langkah-langkah intervensi untuk  mempertahankan dan melestarikan bahasa ibu tersebut. Pihak yang diharapkan Asrun  dapat melakukan hal itu  adalah pemerintah.

Sebagai seorang ilmuwan, Asrun telah memulai usaha  penyusunan buku ajar bahasa Routa dalam rangka melestarikan bahasa yang terancam punah itu. Dalam 5 tahun terakhir, tercatat 3 buku ajar bahasa Routa karya Asrun Lio yang diterbitkan Unhalu Press Kendari.

Ketiga judul buku tersebut adalah Mepokonda’u Bitara Routa (Belajar Bahasa Routa),  Buku Ajar: Translation Text Book, dan Buku Ajar: Kuto’orio Bitara Routa.

Ingin Jadi Guru Sejak Kecil

Lahir di Pasar Wajo 25 Mei 1968, Asrun mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi guru. Mungkin termotivasi oleh ayahnya, Asmar Lio, yang berprofesi  guru SD di Pasar Wajo, maupun ibunya, Munira juga bekerja sebagai guru SD di kota tambang aspal tersebut.

Berkat doa kedua orangtua ditambah kemauan keras dari dirinya sendiri, Asrun telah berhasil mewujudkan cita-citanya bukan sekadar guru biasa melainkan guru berpredikat sangat terpelajar  dengan sederet gelar akademik di belakang namanya.

Dua orang anak Asrun hasil pernikahannya dengan Waode Munana, juga telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi. Anak sulung Tiara Mayang Pratiwi Lio bergelar S.Ked; MSi (Magister Ilmu Forensik). Sedangkan anak kedua Dela Puspa Mawarni Lio adalah S1 akuntasi.

Apa enaknya jadi guru? “Senang bisa berbagi ilmu dengan mahasiswa”,  Asrun menjawab spontan. Bagi Asrun, mahasiswa adalah kolega, tanpa sekat status sosial.

Setelah diangkat sebagai Kadis Dikbud Sultra, aktivitas Asrun berbagi ilmu terpaksa dihentikan sejenak. Dia akan berkonsntrasi membantu Gubernur Ali Mazi menyusun dan merumuskan  kebijakan pembangunan Provinsi Sultra di sektor pendidikan, baik dalam bentuk program baru (inovtif) maupun program lanjutan.

Menurut Asrun, tantangan ke depan masih agak berat, terutama yang terkait dengan kualitas pendidikan menengah. “Dari segi kualitas, kita masih berada di peringkat 32 dari 34 provinsi di Indonesia”, ujarnya.

Pengelolaan pendidkan menengah baru sekitar dua tahun terakhir ini  ditangani pemda provinsi. Sebelumnya pendidikan menengah dikelola pemda kabupaten/kota dalam rangka memperkuat pelaksanaan otonomi daerah.

Kadis Dikbud Sultra Asrun Lio menegaskan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak bisa lain harus disediakan sarana dan prsarana yang memadai. Harus ada ruang belajar, peralatan, laboratorium, perpustakaan. Selain itu tenaga guru juga harus siap dan  memenuhi syarat kompetensi berupa sertifikat mengajar.

Sultra masih kekurangan guru pendidikan menengah. Karena itu, Gubernur Ali Mazi mendorong semangat tenaga guru non-PNS agar mereka tetap mengajar. Sebanyak 3.750 guru non-PNS oleh Pemprov Sultra disediakan honorarium Rp 400.000 per orang setiap bulan. Kebijakan gubernur tersebut berlaku mulai tahun anggaran 2019.

Masih terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia, Asrun menjelaskan bahwa Gubernur Ali Mazi akan membangun perpustakaan bertaraf internsional di Kendari. Perpustakaan tersebut akan melayani pengguna dengan sistem online. Semua informasi dan buku di dunia yang diminati bisa diakses dari perpustakaan itu.**

 

 

.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>