WARTAWAN BISA DISIPLIN

OLEH YAMIN INDAS

DRS H KUSNADI MSI

POLA hidup wartawan alias jurnalis nyaris tak berstruktur. Tidak teratur. Jam kerja tak terikat waktu. Pola hidup ‘amburadul’ ini lebih ditujukan kepada wartawan yang beroperasi di lapangan memburu berita.

Untuk meliput suatu digging news atau agenda news, misalnya, dia menyesuaikan waktu yang tersedia atau appointment dengan sumber yang akan diwawancari. Aktivtas ini agak terpola. Tapi liputan spotnews atau kejadian, nah ini yang tak mengenal waktu bagi kehidupan jurnalis. Peristiwa kebakaran besar terjadi pukul tiga dinihari, misalnya, dia harus hadir di situ pada menit-menit pertama kebakaran tersebut.

Maka, aktivitas yang berstruktur apalagi disiplin jangan dicari pada kehidupan profesi wartawan. Tapi sosok Kusnadi ada sedikit kekecualian. Mantan reporter RRI Kendari tersebut termasuk cepat menyesuaikan diri dengan dunianya yang baru, birokrat.

Pengakuannya sama saya, dia masuk kantor sebelum jam delapan pagi. “Saya tiba di kantor rutin sekitar pukul 07.30 Wita, kecuali kalau ada acara di luar”, katanya serius.

Keterangannya itu betul karena bebarapa kali terkonfirmasi melalui telepon. Saya menelepon dia bukan karena mau mengecek soal itu. Saya menghubungi dia untuk mengetahui antara lain kegiatan atau agenda gubernur. Atau masalah pribadi. Dan setiap kali kami berkomunikasi, waktunya nyaris ‘terpola’, sebelum atau pada pukul delapan. “Saya di kantor”, ujarnya setiap kali.

Disiplin waktu yang terlihat pada rutinitas Kusnadi sebagai ASN (Aoaratur Sipil Negera), sebenarnya surprise buat saya. Saya bangga ternyata mantan wartawan pun bisa menegakkan disiplin di lingkungan kerjanya.

Harap maklum, di sekitar kantor Kusnadi ada 2-3 kantor dinas provinsi. Namun, hampir setiap kali terpantau bahwa pimpinan kantor tersebut belum masuk kantor pada jam yang seharusnya dia sudah memulai pekerjaannya. Padahal mereka merintis kariernya sejak dari awal diangkat sebagai PNS (Pagawai Negeri Sipil).

Drs H Kusnadi MSi hampir dua tahun ini menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Sultra, Kadis pertama setelah dinas baru itu terbentuk. Sebelumnya dia menjabat Kepala Bagian Humas Pemprov Sultra selama enam tahun.

Nur Alam adalah sosok yang mengkatrol karier Kusnadi hingga mencapai puncak seperti sekarang ini, eselon II-A dengan pangkat/golongan IV-C. Tetapi jangan salah paham. Dia tidak meraih jabatan itu dengan mudah.

Walaupun teman dekat Gubernur Nur Alam sejak masih jungkir balik sebagai reporter RRI, Kusnadi ternyata harus juga jungkir balik dengan berbagai penugasan, termasuk tugas-tugas khusus.

Nur Alam, Gubernur Sultra dua periode juga tidak gegabah mengangkat orang tanpa mengetahui persis kemampuan yang bersangkutan, terutama untuk lembaga strategis seperti Biro Humas dan kemudian Dinas Kominfo.

Sebelum pindah instansi ke Sekretariat Gubernur Sultra di kompleks Bumipraja Andonhu Kendari, Lebih separuh karier Kusnadi diabdikan pada Lembaga Penyiaran Publik RRI Kendari. Lebih banyak dia bergerak di lapangan memburu berita.

Terakhir kariernya naik dari reporter menjadi Manajer Pemberitaan RRI Kendari. Lighting Kusnadi di RRI tersebut, memang ada beberapa yang kariernya berkembang. Lasirama, misalnya, terakhir menjabat Kepala RRI Sentral Jakarta. Kemudian Nurhanuddin Ar saat ini menjadi Direktur SDM LPP RRI Pusat Jakarta.

Kusnadi (59), bukan saja sukses dalam meniti karier tetapi juga dalam pembinaan keluarga. Pria berdarah Ambon-Bugis ini berpasangan dengan Jasni sejak 1983, guru senior dan malang melintang sebagai Kepsek (Kepala Sekolah) SD. Mereka menikah saat Kusnadi masih berstatus reporter pemula.

Pasangan Kusnadi-Jasni dikarunai tiga anak. Mereka adalah Sri Husniati SKM, bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Sultra. Anak kedua, dokter Citra Kusratniaty. Kemudian anak bontot adalah Alzulham Kusnadi SE alias Lapopo, bekerja di Bank Sultra (dulu Bank Pembangunan Daerah Provinsi Sultra).

Dari ketiga putra-putri Kusnadi, dokter Citra lebih menonjol. Citra saat ini bekerja di Klinik Kantor Gubernur Sultra. Dia memang dokter umum alumna Universitas Musim Indonesia (UMI) Makassar, tetapi memiliki keahlian di bidang kecantikan. Dia mengikuti pendidikan khusus kecantikan di Jakarta.

Keterampilan itu dimanfaatkan untuk membantu kalangan masyarakat, terutama kaum wanita di Sulawesi Tenggara yang suka merawat diri untuk mempertahankan dan menambah estetika yang dimilikinya. Maka, Citra kemudian membuka usaha salon Klinik Citra Medika beralamat di bilangan Lepo-Lepo, Kendari.

Ibu-ibu maupun pria yang ingin agar wajahnya tetap kencang, tak berkerut, datang saja ke salon Klinik Citra Media memasang beberapa helai semacam benang di wajah yang mulai mengendor karena faktor usia. ***

FOTO Drs H Kusnadi MSi

 

 

 

Top of Form

30Sukarman Ak, Djufri Rachim M dan 28 lainnya

17 Komentar7

Bottom of Form

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>