JOKOWI PENUHI JANJINYA UNTUK BAUBAU

 

OLEH YAMIN INDAS

Pj Walikota Baubau Hado Hasina bersalaman dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Juli 2018.

SETIAP kepala daerah memang diharapkan rajin menjemput dan menangkap bola untuk kepentingan daerah dan rakyat yang dipimpinnya. Jangan cuma menunggu dan menatap bintang di langit yang mustahil dia tahu berapa banyaknya.

 

Kendati hanya berstatus penjabat (Pj) Walikota Baubau, Hado Hasina telah memberikan contoh yang baik dalam memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Dalam pertemuan para bupati dan walikota se-Indonesia dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, bulan Juli 2018, dia meminta bantuan mobil bus kepada Presiden.

 

Warga Kota Baubau membutuhkan sarana angkutan umum tersebut untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Begitu alasan yang dikemukakan Hado yang juga Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sultra.

 

Tanpa banyak pertimbangan, Presiden menyanggupi bantuan 10 unit bus buat warga kota tersebut. Sosok Hado Hasina spontan menjadi perhatian ratusan bupati dan walikota yang hadir di Istana Bogor saat itu.

 

Sampai masa tugas Hado sebagai Pj Walikota berakhir (dilantik 31 Januari 2018) saat pelantikan walikota terpilih tanggal 24 September 2018, mobil bus bantuan Presiden belum ada kabar beritanya. Dalam kondisi kesehatan yang belum pulih, dia ke Jakarta melacak posisi bantuan tersebut. Tentu saja pelacakan itu melalui jalur Kementerian Perhubungan.

 

Alhasil, Senin 10 Desember 2018 Hado mengatakan, bantuan Presiden Jokowi buat warga Kota Baubau kini dalam perjalanan menuju Baubau. “Persisnya hanya 5 dari 10 yang kita minta. Namun demikian kita sangat bersyukur karena yang datang itu kita anggap sebagai pengadaan tahap pertama”, ujarnya.

 

Kadis Perhubungan Sultra tersebut sebenarnya berharap agar bantuan Presiden itu diserahkan Gubernur Ali Mazi sebagai sosok wakil pemerintah pusat. “Mestinya Pak Gubernur yang menyerahkan bantuan kepada Walikota Baubau”, katanya menambahkan.

 

Soal mekanisme itu dianggap penting oleh Hado Hasina dalam rangka pengawasan gubernur kepada daerah subordinasi. Targetnya menyangkut penggunaan bantuan agar sesuai azas dan misi pemerintah yaitu melayani kepentingan publik.

 

Menurut Kadis Perhubungan tersebut, pemberian bantuan dan penggunaan angkutan umum bus bertujuan untuk mendorong masyarakat agar membiasakan diri menggunakan angkutan umum bila bepergian. Sebab angkutan umum lebih praktis dan nyaman. Dengan demikian, masyarakat tidak cenderung memiliki mobil pribadi yang memadati jalan raya. Sehingga kemacetan dan kondisi lalu lintas yang semrawut tak terhindarkan.

 

Ia menekankan, mobil bus bantuan Presiden itu harus digunakan untuk beroperasi sebagai sarana angkutan umum dalam Kota Baubau. Dengan kapasitas sekitar 20 penumpang, berarti sekali pemberangkatan bus tersebut dapat mengangkut sekitar 100 penumpang.

 

Pengoperasian armada tersebut harus dengan pengelolaan bersifat bisnis. Bila manajemennya baik, armada itu bisa bertambah. Itu berarti, akan bertambah pula tenaga kerja  yang digunakan. Dengan 5 unit saat ini menunjukkan serapan 10 tenaga kerja, terdiri dari sopir dan kernet.

 

Hado mengungkapkan, tahun lalu ia berhasil memperoleh bantuan 10 unit bus dari Kementerian Perhubungan. Bantuan itu disalurkan kepada Kota Kendari sebanyak 5 unit, Kabupaten Muna 2 unit, dan Kota Baubau, juga 3 unit.

 

Akan tetapi, sarana angkutan umum tersebut tidak digunakan melayani angkutan publik melainkan untuk melayani angkutan aparat pemerintah daerah. Paling digunakan untuk mengangkut tamu-tamu pemda. Ini menurut Hado Hasina,  menyalahi tujuan kebijakan pemerintah di bidang transportasi yaitu mengurangi penggunaan mobil pribadi di jalan raya. ***

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>