PENGUATAN PETANI

PENGUATAN PETANI

 OLEH YAMIN INDAS

 

Wakil Gubernur Sultra Dr H Lukman Abunawas SH

PEMERINTAH mendorong petani dan pelaku usaha kecil untuk meningkatkan produksi. Terkait dengan itu Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyediakan bantuan langsung dan insentif kepada para pelaku ekonomi di lapis bawah tersebut.

Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas dalam suatu perbincangan di ruang kerjanya, Selasa 4 Desember 2018, mengatakan, ukuran keberhasilan pembangunan salah satu di antaranya adalah peningkatan produksi. Gejala ini menunjukkan terjadinya perkembangan ekonomi dan terwujudnya kesejahteraan.

Pasangan Ali Mazi – Lukman Abunawas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra yang dilantik Presiden Joko Widodo awal bulan September lalu, telah menetapkan lima sektor prioritas pembangunan Provinsi Sultra dalam 5 tahun ke depan. Ke-5 sektor tersebut merupakan kondisi riil daerah yang direkam pasangan ini saat mereka menyisir hampir seluruh pelosok dalam rangka sosialisasi dan kampanye Pilkada 2018.Secara konsepsional ke-5 sektor tersebut adalah Sultra Berbudaya dan Beriman, Sultra Cerdas, Sultra Sehat, Sultra Produktif, dan Sultra Bantuan Masyarakat Miskin.

Dalam perbincangan tadi kami hanya fokus pada sektor Sultra Produktif. Penjabaran Sultra Produktif menurut Wagub Sultra, lebih ditekankan pada penyediaan bantuan langsung dan insentif. Sasarannya adalah petani tanaman pangan, petani perkebunan, peternak sapi, nelayan. Selain itu para pelaku industri kecil menengah (IKM) juga menjadi perhatian.

Khusus kepada petani sawah maupun petani kakao disebutkan bakal mendapatkan bantuan langsung berupa pupuk gratis. “Terobosan ini kita tempuh untuk mengatasi kesulitan petani selama ini. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk. Padahal pupuk adalah salah satu unsur sarana produksi yang sangat vital dalam rangka meningkatkan produksi maupun produktivitas”, papar mantan Sekda Provinsi Sultra tersebut.

Petani sawah didorong untuk lebih produktif. Kecuali pupuk gratis, mereka (petani sawah) akan disediakan bibit dari varitas unggul yang usia panennya hanya sekitar 2,5 bulan. Wagub Sultra mengatakan, varitas unggul tersebut akan diimpor dari Thailand.

Bagi peternak sapi, seperti biasa disediakan sapi bibit untuk dikembangkan. Selain dengan pengembangan sapi secara konvesional, peternak juga diarahkan pada usaha penggemukan agar lebih cepat menghasilkan uang.

Pemda Provinsi juga kini memantapkan program pengelolaan ladang ternak sapi (ranch) di Wawolemo, 42 Km barat Kota Kendari. Selama ini ranch pemda seluas kurang lebih 500 hektar dalam keadaan mangkrak.

Lukman Abunawas berharap, produksi sapi rakyat dan ranch Wawolemo akan memasok kebutuhan sapi potong bagi provinsi lain. Beberapa tahun silam, Sultra sering memasok sapi potong untuk DKI dan Papua.

Adpaun sentuhan program bagi nelayan dan mayarakat pesisir pada umumnya, dalam lima tahun ke depan Pemprov Sultra akan menyalurkan alat-alat tangkap seperti kapal dan jaring. “Dengan dana APBD kita akan membangun kapal mulai dari 10 hingga 30 GT (gros ton) dan selanjutnya dibagikan kepada nelayan”, kata mantan Bupati Konawe dua periode tersebut.

Untuk kelompok lain seperti pelaku IKM, Lukman Abunawas menyebutkan, program pelatihan menjadi prioritas karena terkait masalah pengangguran. Anak-anak usia muda akan dibekali keterampilan seperti pertukangan, perbengkelan, dan lain-lain. Selanjutnya mereka diberi modal kerja dalam bentuk peralatan, misalnya. Mereka harus produktif dan mandiri.

Wagub Sultra juga menyatakan, pembangunan dan perbaikan infrastruktur akan berlanjut terus untuk mendukung kegiatan sektor-sektor lain. Sektor yang terkait erat dengan infrastruktur jalan, misalnya, adalah bidang pariwisata.

Pemprov Sultra secara bertahap akan membangun jalan sepanjang kurang lebih 18 Km dari jantung Kota Kendari ke Tanjung Toronipa, tujuannya untuk mendukung kegiatan pariwisata. “Pulau Bokori berpeluang untuk berkembang lebih cepat sebagai sebuah destinasi wisata, bila jalan raya tersebut telah berfungsi”, ujar Lukman Abunawas.

Jalan raya yang direncanakan lebar 40 meter, itu akan melintasi pelabuhan khusus wisata Pulau Bokori di Desa Bajo. Pelabuhan khusus tersebut dibangun Dinas Perhubungan Sultra, dan sudah mulai dimanfaatkan. Umumnya para turis lokal pergi ke Pulau Bokori melalui pelabuhan transit tersebut.

Dalam perencanaan Dinas Perhubungan Sultra disebutkan, di pelabuhan khusus itu akan dibangun subterminal. Subterminal ini akan terkoneksi dengan Bandara Haluoleo dan terminal kota, dengan armada bus maupun angkutan umum lain.

Di pelabuhan khusus itu kini mulai dibangun rest area. Rest area adalah tempat beristirahat sejenak setelah melakukan perjalanan agak melelahkan. Di situ tersedia kios makanan dan minuman, kebutuhan kecil seperti handuk, pasta gigi, rokok, mushalla, toilet. Bahkan, villa pun ideal dibangun di situ. ***

.

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>