TRANSPORTASI KE BAUBAU MAKIN EFISIEN

Hado Hasina, Kadis Perhubungan Sultra merangkap Pj Walikota Baubau

ARAH perkembangan Kota Baubau sebagai lokomotif pembangunan Provinsi Sultra di wilayah Kepulauan makin jelas sejalan dengan meningkatnya hubungan transportasi ke dan dari kota yang terletak di Pulau Buton itu. Terbukanya penerbangan langsung Ambon-Baubau sejak awal bulan Maret 2018 praktis menambah kapasitas transportasi udara bagi Baubau.

        Kemajuan sektor transportasi tersebut menjadi modal besar bagi Kota Baubau dan sekitarnya untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat. Sebab transportasi merupakan unsur sangat strategis dalam mendukung kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Aksesiilitas membuka ruang bagi tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi produktif yang dapat mensejahterakan para pelakunya yakni masyarakat sendiri.

        Hado Hasina selaku Penjabat (Pj) Walikota Baubau terus berusaha melahirkan ide-ide kreatif  dan inovatif bagi pembangunan Kota Baubau dalam masa transisi yang sangat singkat. Sebuah kejutan terjadi tak lama setelah Kadis Perhubungan Sultra tersebut dilantik sebagai Pj Walikota Baubau per 31 Januari 2018. Yaitu dibukanya jalur penerbangan Ambon-Baubau. Rute baru tersebut dilayani penerbangan pesawat Garuda dua kali dalam seminggu, setiap Rabu dan Minggu.  Penerbangan perdana dilakukan 7 Maret 2018.

        Ia mengatakan, pengembangan sektor transportasi merupakan kunci percepatan pembangunan Kota Baubau dan sekitarnya. Bukan hanya konektivitas udara tetapi transportasi darat dan laut juga harus disiapkan secara maksimal untuk mendukung kecepatan dan efisiensi kegiatan mobilitas orang dan barang.

        Hado Hasina merasa yakin bahwa terbangunnya pelayanan yang cepat dan efisien, ditambah penyediaan berbagai sarana kemudahan lainnya di Kota Baubau, maka daerah sekitar juga akan ikut tumbuh dan berkembang. Daerah sekitar Kota Baubau meliputi enam kabupaten, termasuk Bombana khususnya Kabaena.

        Dua kabupaten di daratan Pulau Muna pun akan terimbas tingginya dinamika pertumbuhan Kota Baubau. Sebab selain hubungan laut, transportasi darat Baubau dengan Muna telah berjalan lama melalui lintas penyeberangan kapal feri Baubau-Waara. Bahkan sudah ada rencana penyatuan Pulau Buton dengan Pulau Muna yang akan diwujudkan dengan pembangunan jembatan di Baruta.

        Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina menambahkan, dinamika pembangunan di wilayah Kepulauan akan terus meningkat pesat. Selain Baubau, Kabupaten Wakatobi dan Muna Barat juga telah mengoperasikan bandara masing-masing.

        Bahkan, Bandara Matahora di Wanci (Wakatobi) telah dioperasikan melayani penerbangan komersial dua kali sehari, sama seperti Bandara Betoambari Baubau. Rute penerbangan ke Wakatobi adalah Makassar-Kendari-Wanci, dan sebaliknya.

        Pengembangan transportasi di Wakatobi ditangani agak spesifik karena kabupaten itu telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonsia. Sekitar 1,3 juta perairan Wakatobi adalah Taman Laut Nasional. Taman laut ini didatangi banyak wisatawan dari Eropa dan Amerika. Mereka menyelam sambil menikmati keindahan terumbu karang dan aneka biota laut.

        Ada empat pulau agak besar berjejer di atas taman laut tersebut, yaitu Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Menurut Hado, gugusan pulau itu akan dirangkai dengan armada feri, dan direncanakan mulai dioperasikan tahun 2018. Ruas-ruas jalan poros di daratan puau-pulau itu, juga akan ditingkatkan kualitasnya bagi kelancaran mobilitas orang dan barang.

        Dari sisi pariwisata, wilayah Sultra di Kepulauan menampilkan ragam obyek destinasi yang  menarik. Wakatobi dengan taman lautnya, sedangkan Baubau bermegah dengan benteng Keraton Kesultanan Buton. Kota Baubau sekarang adalah representasi wilayah bekas Kesultanan Buton. Sebelum dikapling-kapling sebagai wilayah pemekaran, Kabupaten Buton dengan ibu kotanya Baubau meliputi seluruh wilayah bekas  Kesultanan Buton, kecuali Kabupaten Muna.

        Segala peninggalan kesultanan dapat dilihat di Keraton Buton, seperti istana (maliga), batu tempat pelantikan raja/sultan, masjid kesultanan, makam raja yang kemudian bergelar sultan setelah memeluk Islam yakni makam Murhum di atas sebuah bukit. Keraton, sekitar 1,6 Km dari pusat Kota Baubau, merupakan pusat pemerintahan kesultanan di atas areal hampir 40 hektar (401.911 meter persegi). Areal ini berada dalam benteng dengan konstruksi susunan batu gunung, ketebalan dua meter dan tinggi hingga empat meter.

        Sebagai Pj Walikota Baubau Hado mengaku berpegang pada falsafah pemerintahan Kesultanan Buton di masa lalu. Falsafah  itu, katanya, menjadi pedoman para sultan dalam menjalankan kekuasaan yang sangat demokratis. Falsafah itu disebut Sara Pataanguna yang terdiri dari 4 butir: Pomae-maeaka (saling menghargai), Poangka-angkataka (saling menghormati), Pomaa-masiaka (saling menyayang), dan Popia-piara (saling memelihara).

        Hado menekankan, setiap pemimpin di Baubau (walikota) harus mempedomani Sara Pataanguna, nilai kearifan lokal yang masih sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di NKRI. Ia berjanji akan memformalkan Sara Pataanguna dengan keputusan DPRD Kota Baubau. Begitu juga kedudukan protokoler Sultan Buton perlu diatur dengan keputusan DPRD atau walikota. Dewan adat atau Siolimbona juga harus dihidupkan agar penunjukan sultan lebih tertib dan prosedural seperti di zaman dulu.

        Siolimbona adalah representasi rakyat yang bertugas memilih raja/sultan  dari keturunan bangsaswan yang terbaik. Jadi Kesultaan Buton tidak mengenal putra mahkota. Raja/sultan diartikan sebagai tunas yang tumbuh dari rumpun besar yang disimbolkan buah nanas dan menjadi lambang Kesultanan Buton.

        Hado mengatakan, peninggalan kebesaran Kesultanan Buton di masa lalu tersebut,   justru menjadi ikon wisata Kota Baubau. Unggulan ini akan lebih dioptimalkan dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk memudahkan aktivitas wisatawan maupun warga kota yang ingin terlibat dalam kegiatan kepariwisataan.

        Unggulan lainnya adalah Pantai Nirwana dan air terjun Tirta Rimba. Kedua destinasi wisata tersebut juga masih harus dibuatkan infastruktur berupa akses jalan dan halte alat angkutan umum. Warga sekitar juga harus diberikan kemudahan untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan obyek-obyek wisata tersebut.

           Daerah-daerah sekitar Kota Baubau mestinya juga ikut menggeliat di bidang kepariwisataan sejalan dengan berkembangnya transportasi saat ini. Daerah-daerah memiliki potensi yang menarik. Menurut Hado, Kabupaten Buton Tengah memiliki banyak goa yang angker. Di Kabupaten Buton Utara terdapat kawasan hutan mangrove yang luasnya puluhan ribu hektar. Daerah-daerah tersebut telah terakses dengan Baubau, baik dengan transportasi darat maupun laut.***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>