BAUBAU DAPAT PJ WALIKOTA KREATIF

 OLEH YAMIN INDAS

DALAM waktu enam sampai 10 bulan ke depan ini, Baubau akan dipimpin Hado Hasina sebagai pejabat walikota. Dia adalah salah satu dari sedikit kader birokrat Sultra yang selama ini saya lihat cukup kreatif. Bagi  orang sekelas dia, masa penugasan sependek itu lebih dari cukup untuk dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat..

        Tetapi, sayang sekali saat dia menerima tugas tersebut, APBD (Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah) Baubau telah ditetapkan DPRD bersama Walikota AS Thamrin. Maka, boleh jadi Hado Hasina akan kurang maksimal mewujudkan misinya terkait peningkatan pelayanan publik dan pembenahan fisik Kota Baubau.

        Dr Ir Hado Hasina MT (54) memang telah memiliki konsep pembangunan Baubau sebagai kota pariwisata berintikan obyek wisata budaya, sejarah,  dan keindahan alam. Konsep itu tidak terlalu jauh dari tupoksinya sehari-hari sebagai Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sultra.

        Ada beberapa prioritas yang ingin ditangani Hado sebagai Pj Walikota Baubau. Prioritas tersebut tentu berdasarkan kondisi obyektif maupun road  map permasalahan Kota Baubau. Prioritas-prioritas itu di antaranya adalah menata wajah benteng Keraton Buton agar lebih memikat sebagai core business pariwisata, baik bagi Kota  Baubau maupun Provinsi Sultra. Konon, di dunia ini hanya ada satu benteng terluas, yaitu benteng Keraton Buton di Baubau. Luasnya meliputi 401.911. meter persegi.

        Hado berharap agar benteng tersebut menjadi pusat perhatian wisatawan mancanegara maupun domestik. Dalam rangka itu ia ingin merapikan kembali susunan batu benteng ke posisi semula, membangun aksesoris di tempat-tempat bersejarah di dalam benteng untuk menambah daya tarik. Di kompleks Masjid Keraton, misalnya, ia akan memasang alas semacam karpet agar pengunjung melepas sepatu saat memasuki halaman masjid. Dengan demikian pengunjung akan merasa lebih santai dalam beraktivitas. Di lain sisi kesucian masjid akan tetap terjaga.

        Kecuali masjid yang mulai dibangun tahun 1712 di masa pemerintahan Sultan Sakiuddin Darul Alam, di dalam benteng juga terdapat batu ritual pelantikan para raja dan sultan Buton yang disebut Batu Popaua, Batu Wakaka, makam Sultan Murhum. Dia ini raja pertama yang memeluk Islam dan bergelar sultan. Ada juga beberapa istana (kamali), dan makam para sultan.

        Prioritas tinggi yang menjadi obsesi Hado sebagai Kepala Dinas Perhubungan Sultra adalah mengubah kesan Baubau sebagai kota kumuh. Predikat ini tercermin pada semrawutnya lalu lintas di hampir semua ruas jalan utama. Gejala kemacetan itu menunjukkan volume kendaraan dan alat transportasi yang beroperasi telah melampaui kapasitas dan daya dukung ruas-ruas jalan tersebut.

        Dalam jangka pendek masalah tersebut akan diatasi dengan pengaturan aliran kendaraan angkutan umum dalam kota maupun  mobil penumpang dari luar kota. Terminal sebagai sarana pengatur akan segera disiapkan di Waramesiu. Mobil penumpang dari luar kota  akan berhenti di sini, selanjutnya para penumpang akan diteruskan angkutan kota ke halte atau tujuan akhir.

        Pada tahap berikutnya sebagai program jangka menengah, akan dibangun Terminal B di Lakologou untuk melayani angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP). Kelak, bila Lakologou telah beroperasi maka terminal Waramesiu akan berfungsi sebagai rest area. Rest area lainnya adalah kompleks pelabuhan ferry dan pelabuhan Murhum. Dua yang terakhir ini akan disiapkan bersamaan dengan pembangunan Waramesiu.

        Namun, sekali lagi sayang,  program-program jangka pendek dalam rangka pembenahan sistem transportasi  Kota Baubau, tipis harapan dapat diimplementasikan secara maksimal. Pasalnya, APBD Baubau telah ditetapkan sebelum Hado dilantik sebagai Pj Walikota, per 31 Januari 2018. Hado pun belum tahu prioritas-prioritas APBD Baubau untuk tahun 2018.

        Namun demikian masyarakat Kota Baubau haruslah tetap optimistis, bahwa Hado akan melaksanakan tugasnya dengan amanah. Penunjukannya  sebagai Pj Walikota merupakan wujud perhatian dan kecintaan HM Saleh Lasata kepada rakyat Baubau dan rakyat Buton pada umumnya di ujung masa jabatannya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur maupun sebagai  Wakil Gubernur Sultra.

        Hado Hasina saya sebut kader yang mumpuni. Kariernya sebagai PNS dimulai dari Kabag Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muna, kemudian ke Pemprov Sultra. Di provinsi dia menduduki beberapa jabatan eselon II seperti Wakil Kepala Dinas Perhubungan dan Wakil Kepala Dinas Pertambangan Prov Sultra.

        Ketika menjabat Wakadis Perhubungan Sultra dua bandara berhasil dia perjuangkan pembangunannya. Yaitu Bandara Matahora di Wakatobi dan Bandara Ni Bandera di Kolaka. Kala itu Kementerian Perhubungan melakukan moratorium penerbitan izin pembangunan bandara baru. APBN juga tak menyediakan dana untuk pembangunan bandara baru..

Kalau pun daerah seperti Wakatobi membutuhkan sarana perhubungan udara, maka dianjurkan memanfaatkan bandara terdekat yakni Bandara Betoambari Baubau. Begitu juga Kolaka, dia bisa menggunakan Bandara Pomalaa milik PT Aneka Tambang.  Tetapi Hado berdalih, Sultra hanya butuh izin. Sedangkan biaya pembangunan bandara akan ditanggung sendiri oleh daerah melalui APBD.

Hado kemudian ditugaskan Gubernur Nur Alam sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Buton Utara atas permintaan bupati setempat. Di kabupaten baru itu dia tertantang memanfaatkan potensi aspal alam yang tempatnya hanya beberapa kilometer ke selatan wilayah Buton Utara. Selama ini  masalah pemanfaatan aspal alam itu belum terpecahkan.  Belum ada keputusan politik pemerintah untuk memanfaatkan aspal buton bagi proyek-proyek pengaspalan jalan di Indonesia.

Dia kemudian melakukan eksperimentasi pemanafaatan aspal alam itu, paling tidak untuk daerahnya sendiri Buton Utara.  Ia membuat modifikasi aspal buton yang disebutnya Butur Seal Asbuton. Modifikasi ini memanfaatkan potensi batu kapur setempat sebagai unsur campuran butiran aspal alam sebelum dihampar dalam rangka pengaspalan jalan di Buton Utara.

Alhasil, aspal minyak impor tak digunakan di kabupaten tersebut. Kebijakan pembangunan jalan di Buton Utara diputuskan harus menggunakan aspal buton produk Butur Seal Asbuton. Menurut Hado, daya saing Butur Seal Asbuton cukup tinggi. Selain bisa menghemat anggaran sampai 30 persen, penggunaan Butur Seal Asbuton juga bisa melibatkan tenaga lokal.

       Salah satu karya monumental yang diukir Hado saat bertugas di Buton Utara adalah sebuah stadion olahraga yang disebut banyak kalangan sebagai stadion termegah di kawasan timur Indonesia. Stadion itu kemudian diberi nama Stadion Bahteramas. Stadion itu difungsikan pertamaa kali sebagai arena Pekan Olahraga Provinsi Sultra, yang digelar bulan Desember 2014.

       Sebelum dilantik sebagai Kadis Perhubungan Sultra bulan Juli 2016, Hado Hasina sempat menjabat Pelaksana Tugas Sekda Kabupaten Buton Utara sambil tetap merangkap seagai Kadis PU dan Tata Ruang.

       Kehadirannya kembali di provinsi Hado segera memetakan permasalahan perhubungan dan transportasi di Sultra. Ia mengambil peran aktif dalam pembangunan dan pengembangan Pulau Bokori sebagai destinasi wisata yang dekat dengan ibu kota provinsi. Di bawah arahan Gubenur Nur Alam, ia membangun pelabuhan dan terminal di Desa Bajo Indah untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke pulau eksotik tersebut. Semacam pelabuhan khusus wisata ke dan dari Pulau Bokori.

       Bukan hanya infrastruktur transportasi Pulau Bokori,  Hado juga ikut membangun fasilitas cottage baik dalam bentuk bangunan beton maupun rumah konstruksi kayu (model rumah panggung). Pendek kata, kehadiran Hado terasa ada dinamika dan semangat kompetitif di kalangan pejabat dalam lingkup Pemprov Sultra.

       Sambil mendukung program yang menjadi prioritas tinggi Gubernur Nur Alam, Kadis Perhubungan tersebut mulai melaksanakan pembangunan terkait pelayanan publik, seperti pembangunan terminal angkutan darat di berbagai kota dan kabupaten. Kegiatan ini juga ikut membuka lapangan usaha ekonomi produktif bagi penduduk sekitar terminal. PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor perhubungan juga ikut terangkat.

Hado pertama kali melihat sinar matahari di Kaledupa (Wakatobi),  3 September 1963. Anak ke-3 dari 5 bersaudara hasil pernikahan pasangan La Hasina dan Hipani,  itu mengaku melamar  jadi PNS hanya setengah hati. “Saya ingin jadi konsultan”, ujarnya. Pada tahun 1990, dia menikah dengan Sulastri SH. Sulastri, pejabat senior di Biro Hukum Sekretariat Kantor Gubernur Sultra.

Pasangan tersebut dikaruniai satu-satunya anak perempuan bernama Tiqa Rezky Hado. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2015, Tiqa Rezky melanjutkan studinya ke program S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tiqa mengikuti jejak ayahnya di jalur pendidikan tinggi. Hado meraih gelar S1 dari Faktultas Teknik Unhas, kemudian melanjutkan ke ITB untuk S2 dengan gelar Master Transportasi (MT). Terakhir gelar S-3, doktor (Phd) bidang sumber daya manusia dari Universitas Negeri Jakarta, UNJ, (2016). ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>