PEMERINTAHAN TRANSISI BAUBAU BERGERAK CEPAT

Pj Walikota Baubau Hado Hasina

OLEH YAMIN INDAS

        KOTA Baubau tidak bakal terlelap hanya karena belum memiliki walikota definitif. Justru dalam masa transisi ini kegiatan penataan dan pembangunan kota itu akan bergerak lebih cepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi warga kota.

        Terkait pilkada serentak 2018, Walikota Baubau AS Tamrin mengundurkan diri karena dia ikut  nyalon/dicalonkan untuk masa jabatan periode kedua. Untuk mengisi kekosongan itu, Menteri Dalam Negeri menunjuk Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sultra Dr Ir Hado Hasina MT sebagai Penjabat Walikota Baubau.

        Penunjukan Hado oleh Menteri Tjahyo Kumolo sesuai usulan Plt (Pelaksana tugas) Gubernur yang juga Wakil Gubernur Sultra HM Saleh Lasata. Pak Saleh tidak asal ngusul dalam rangka formalitas belaka tetapi penuh pertimbangan berdasarkan kondisi dan permasalahan Kota Baubau. Maka ia mencari pejabat senior di lingkup Pemprov Sultra yang tupoksinya dekat dengan permasalahan kota wisata tersebut

        Segera setelah dilantik, Hado pun memotret permasalahan Kota Baubau. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) produk pemerintahan AS Tamrin bersama wakilnya Waode Waasara. Hado kemudian menyusun RPJMD Transisi. Isinya berupa program dan kegiatan yang mengacu pada kebutuhan riil dan strategis serta mempertimbangkan pula masa kerja yang sangat singkat sebagai Pj Walikota.

        Namun demikian, RPJMD Transisi diharapkan menjadi titik tolak pembangunan Kota Baubau setelah memperoleh walikota definitif hasil pilkada. Pemerintahan baru tidak perlu lagi meraba-raba dan berspekulasi dari titik mana pembangunan dan penataan kota harus dilanjutkan. Bila demikian halnya berarti, Baubau akan bergerak lebih cepat dalam kompetisi pembangunan meraih dan menciptkan daya saing.

        Baubau sangat berpotensi untuk berperan sebagai lokomotif pembangunan Provinsi Sultra di wilayah Kepulauan. Wilayah ini meliputi 6 daerah otonom, termasuk Kota Baubau. Gerbong ini makin besar jika Muna masuk dan ikut menjadi satelit Baubau. Saat ini Muna terdiri atas dua daerah otonom: Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat.

Salah satu keunggulan Kota Baubau adalah posisinya sebagai pelabuhan transit kapal-kapal penumpang milik PT Pelni maupun armada niaga swasta dalam pelayaran dari wilayah barat ke timur Indonesia, dan sebaliknya. Bahkan posisi strategis ini telah diperankan Baubau sejak zaman Kesultanan Buton.

VOC pun, organisasi dagang yang menjadi cikal bakal kekuasaan penjajahan Belanda di Hindia (Indonesia) telah menaruh perhatian terhadap posisi strategis pelabuhan Baubau dalam arti militer, dalam rangka mengamankan dan mengawasi lalu lintas kapal rempah baik milik VOC maupun bangsa Eropa lainnya dalam pelayaran mereka dari dan ke Maluku. Namun, secara tersurat hanya dipuji pesona keindahan alamnya pelabuhan tersebut oleh petinggi VOC (Vereniging Oost Company) bernama JP Coen, ketika berkunjung ke Buton tahun 1613.

Dalam program tol laut pemerintahan Jokowi-JK, seperti dijelaskan Pj Walikota Hado Hasina,  pelabuhan Murhum Baubau merupakan salah satu jalur tol laut nasional  dengan rute Tanjung Perak – Baubau – Manokwari, dan sebaliknya ke Tanjung Perak lagi. Ini berarti, Baubau akan berfungsi sebagai distributor barang-barang strategis bagi daerah-daerah sekitarnya.

Sekaligus juga Baubau akan menjadi pusat akumulasi barang-barang muatan balik (return cargo) bagi semua armada nasional yang melintasi pelabuhan Murhum.

Potensi besar lainnya yang dimiliki Baubau adalah pariwisata. Baubau yang juga dijuluki Kota Keraton tengah berusaha menjadikan Keraton Buton tersebut sebagai tujuan utama wisatawan,  baik domestik maupun mancanegara. Di dalam benteng keraton selain terdapat perkampungan penduduk, juga terdapat masjid tua atau Masjid Keraton, makam Sultan Buton pertama Murhum, batu ritual pelantikan raja/sultan, dan lain-lain.

Kekayaan budaya seperti aneka seni musik dan tari tradisional, kuliner, ragam tenun kain khas Buton, panorama alam seperti kemolekan Teluk Baubau, air terjun Tirta Rimba serta masih banyak lagi yang lain merupakan obyek wisata menarik yang dimiliki Baubau.

Sebagai kota wisata, Baubau telah didukung Bandara Betoambari yang didatangi pesawat komersial Garuda dan Lion Air dua kali sehari. Kecuali konektivitas udara, tentu saja ada jalur pelabuhan Murhum, pelabuhan ferry Batulo, dan terminal darat angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang masih sementara disiapkan pembangunannya, yaitu terminal Lakologou.

Persoalan mencolok Kota Baubau adalah kegagalannya  menampilkan kesan aristokrat sebagai  ibukota kesultanan (di masa lalu). Sebaliknya Baubau terkesan kumuh akibat kesemrawutan lalu lintas di hampir semua akses jalan utama di kota kecil itu.

Misi RPJMD Transisi antara lain menyasar masalah tersebut. Menurut Pj Walikota, memang  ada tiga isu strategis yang akan ditangani dalam masa yang singkat. Pertama, permasalahan transportasi dan lalu lintas. Akar masalahnya ialah terjadinya peningkatan kendaraan bertonase berat, belum adanya terminal,  parkir liar di mana-mana. Kemudian ini yang lebih penting: kurangnya kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas.

   Isu kedua adalah infrastruktur pariwisata. Potensi pariwisata Baubau masih miskin sarana dan prasarana sehingga sektor ini bergerak agak lamban. Partisipasi masyarakat juga masih rendah. Partisipasi itu minimal dalam hal perawatan lingkungan yang rapih an bersih.

Isu ketiga menyangkut penanganan pedagang kaki lima, PKL. Kelompok pelaku sektor informal tersebut cukup punya andil bagi semrawutnya Kota Baubau. Sebab konsentrasi PKL bukan saja di jalur-jalur akses pasar tradisional melainkan juga di ruas-ruas jalan utama.

Langkah-langkah  dan kegiatan operasional yang saat ini mulai dilancarkan meliputi pembangunan akses jalan dari kawasan terminal (sementara) Waramesiu menuju pusat kota termasuk pelabuhan Murhum; pengaturan sistem jalan satu arah untuk mengurangi kepadatan di jalur-jalur tertentu dalam kota maupun keluar kota; menata obyek wisata religi sekitar Masjid Keraton serta membuat aturan pengeleolaan obyek wisata oleh masyarakat;  menyiapkan area penampungan PKL.

Tidak kalah pentingnya dalam rangka mewujudkan misi dan program  RPMJD Transisi adalah perbaikan tanggul Kali Baubau, pembuatan tanggul pesisir, dan penyadiaan fasilitas pemecah gelombang (break water). Semua kegiatan ini bersifat tindakan pencegahan bencana alam yang mengancam ketenangan hidup warga kota.

Hado Hasina merasa optimistis,  masa kerja yang kurang dari satu tahun sebagai Pj Walikota, dapat menghasilkan perubahan, perbaikan, dan kemajuan   Kota Baubau yang pernah menjadi pusat Kesultanan Buton di masa lalu. Keyakinan itu dilandasi komitmen dan semangat kerja aparat maupun warga kota yang terlihat cukup tinggi. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>