PETANI COKLAT PETANI MANDIRI

OLEH YAMIN INDAS

KADIS PERKEBUNAN DAN HORTIKULTURA SULTRA DR IR YESNA SUARNI MSC

  Petani coklat (kakao) adalah kelompok masyarakat yang denyut nadi ekonominya tidak tergantung pada kegiatan proyek-proyek APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Mereka tergantung pada situasi ekonomi global,  sebab produksi yang dihasilkan dinilai dengan harga internasional dalam mata uang dollar AS.

        Kendati ekspor coklat melemah selama 2017, harga komoditas tersebut masih tetap kompetitif sejalan dengan kurs dollar AS yang masih terus menguat terhadap rupiah. Seperti dijelaskan Dr Ir Yesna Suarni MSc (Kadis Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sultra), petani coklat saat ini masih menikmati harga sekitar Rp 25.000 per kilogram.  Harga tersebut pukul rata baik coklat fermentasi maupun coklat asalan.

        Dulu, ketika Indonesia diterjang krisis ekonomi, petani coklat dan dunia agribisnis pada umumnya justru berjingkrak-jingkrak karena nilai dollar AS  atas rupiah sangat tinggi.Dari Rp 2.400 hingga Rp 17.000 per dollar AS. Ketika itu serta merta harga coklat melambung sampai tiga kali lipat dari semula hanya Rp 6.000 per Kg.

        Tidak heran jika petani coklat berharap agar nilai dollar  tetap bertengger jauh di atas nilai rupiah. Sebab dengan  demikian berarti, harga coklat dan komoditas pertanian lainnya yang mendapatakan harga internasional akan terus menguntungkan petani.

        Produksi coklat Sultra bersumber dari perkebunan rakyat, yang luasannya saat ini tercatat 255.000 hektar. Luasan tersebut menghasilkan sekitar 140.000 ton setahun. Produksi tersebut dinilai Yesna Suarni tidak lagi maksimal akibat berbagai hal seperti kondisi tanaman yang semakin tua, gangguan hama PBK (penggerek buah kakao), dan masalah lainnya. Namun demikian ia mengatakan, tingkat produksivitas coklat di Sultra masih tergolong baik, sekitar 748 Kg per hektar.

        Tanaman coklat berbuah sepanjang tahun. Artinya, petani melakukan panen hampir setiap minggu. Kegiatan itu menunjukkan bahwa transaksi ekonomi dalam masyarakat perkebunan khusus komoditas coklat berlangsung sepanjang tahun. Sehingga kehidupan mereka lebih mandiri dan tidak tergantung pada kegiatan proyek-proyek pemerintah.

        Masalah yang merisaukan Yesna, ahli seranngga yang menyelesaikan pendidikan S2 di Pilipina, adalah kurangnya perhatian pemerintah pusat tentang pengembangan usaha perkebunan rakyat. Tetapi ke depan ini, katanya berharap,  APBN sudah akan memberikan porsi bagi pembinaan dan pengembangan perkebunan rakyat, khususnya tanaman coklat.

        Kita berbesar hati karena petani coklat telah dapat menikmati harga yang makin meningkat sesuai perkembangan kurs dollar AS terhadap rupiah. Namun, yang kemudian masih diperlukan adalah memelihara kelangsungan usaha perkebunan petani, peningkatan produksi dan produktivitas, penyediaan bibit yang baik.

 Tersedianya lahan dan bibit unggul akan menghasilkan produksi berkualitas  tinggi sehingga kakao Indonesia bisa bersaing dengan kakao Pantai Gading, misalnya, di pasar dunia. Terkait dengan itu tidak bisa lain pemerintah (pusat) harus menyediakan dana melalui APBN bagi pembinaan perkebunan rakyat.***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>