LONCATAN KEMAJUAN TRANSPORTASI

 OLEH YAMIN INDAS

Penerbangan ke Kendari dari Baubau (29-10-2017). Salah satu pramugari pesawat Garuda jenis atr 72-600 saat melayani penumpang. Foto yamin Indas

SULAWESI Tenggara kini mengalami loncatan kemajuan di bidang transportasi. Indikasi yang segera terlihat ialah mulainya  berkembang jaringan penerbangan antar kota dan kabupaten di provinsi tersebut. Maka, konektivitas antar kota dan antar provinsi dengan wilayah Indonesia pun makin meningkat.

        Terbukanya penerbangan ke beberapa  kota kabupaten sebetulnya telah dimulai sejak akhir 1970-an. Ketika itu maskapai penerbangan MNA (Merpati Nusantara Airlines)  ditunjuk pemerintah melaksanakan penerbangan perintis ke Baubau, Raha, dan Kolaka. Kondisi pelabuhan udara  setempat disiapkan untuk menampung pendaratan pesawat jenis Twin-Otter atau Cassa dengan kapasitas tempat duduk 12 kursi.

        Adalah penerbangan ke Baubau yang lebih cepat berkembang. Pasalnya, Walikota Baubau dua periode Amirul Tamim (2003-2008 dan 2008-2013) ikut bicara. Dia berkontribusi menyediakan dana tambahan subsidi bagi penerbangan perintis tersebut. Jika semula hanya dua kali seminggu maka atas dukungan dana APBD, MNA lantas meningkatkan frekuensi penerbangannya ke Baubau melampaui target frekuensi penerbangan perintis.

        Subsidi tambahan dari Walikota Baubau tersebut bersifat ganti rugi, yakni penggantian biaya setiap kursi pesawat yang kosong (tak terjual) dalam setiap kali penerbangan dari dan ke Baubau. Kebijakan seperti itu tidak dilakukan pemda lain sehingga perkembangan proyek penerbangan perintis di daerah bersangkutan sangat lamban.

        Peran MNA ke rute Baubau kemudian digantikan penerbangan komersial oleh Lion Air. Terakhir, Garuda pun ikut melayani rute penerbangan Makassar-Kendari-Baubau. Baik Garuda maupun Lion Air menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas sekitar 78 kursi penumpang. Bandara Betoambari Baubau kini mengelola penerbangan dua kali dalam sehari. Masing-masing sekali oleh pesawat Garuda dan Lion.

        Dua bandara lainnya juga telah melayani penerbangan komersial setiap hari, yaitu Bandara Matahora di Wakatobi, dan Bandara Ni Bandera di Kolaka. Padahal, kedua bandara tersebut baru dibangun di era reformasi. Adapun Bandara Sugimanuru di Muna sangat terlambat penyiapannya untuk difungsikan. Bandara yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Muna Barat, itu  baru dioperasikan untuk melayani penerbangan komersial pertengahan tahun 2017.

        Kemajuan konektivitas udara yang segera direspons oleh berkembangnya jaringan penerbangan antar kota dan kabupaten, telah memacu kecepatan dan efisensi mobilitas orang dan barang baik di tingkat regional Sultra  maupun secara nasional. Kondisi ini sesungguhnya sangat ideal bagi dunia usaha dan kegiatan investasi.

        Saya agak tersentak saat pramugari mengumumkan bahwa penerbangan dari Baubau ke Kendari akan ditempuh dalam waktu 37 menit. Tidak ada perbedaan waktu antara Baubau dan Kendari!

        Tigapuluh tujuh menit? Masya Allah. Saat itu saya baru sadar bahwa Sultra kini rupanya telah memasuki fase takeoff di bidang transportasi. Perjalanan secepat itu bukan baru terjadi pada hari Minggu siang, tanggal 29 Oktober 2017 tatkala saya mau balik ke Kendari dan naik pesawat jenis ATR 72-600 milik Garuda tetapi telah berlangsung 1-2 tahun ke belakang. Saya sajalah yang memang baru pertama kali itu menggunakan pesawat komersial dari Baubau ke ibu kota provinsi.

         Saya tersentak karena sangat kontras dengan pengalaman saya di masa lalu. Di era kapal kayu, pelayaran dari Baubau ke Kendari menghabiskan waktu 16-17 jam. Berangkat dari pelabuhan Murhum Baubau sekitar pukul 13.00 Wita, dan tiba di pelabuhan Raha (ibu kota Kabupaten Muna), sekitar pukul 17.00 Wita.

 Perjalanan ke Kendari dilanjutkan pada pukul 22.00 Wita, dan tiba di pelabuhan khusus kapal kayu di Kendari sekitar pukul 04.00 pagi. Perjalanan sebaliknya dari Kendari ke Baubau, lamanya  seperti itu juga. Tidak kurang dan tidak lebih!

        Perjalanan, baru agak lebih cepat di era kapal cepat (jet foll). Bila tembak langsung Baubau – Kendari bisa ditempuh 2,5 jam. Tetapi karena jet foll harus menyinggahi pelabuhan Raha, maka total waktu perjalanan mencapai paling lama 5 jam.

        Moda angkutan memang berbeda. Perjalanan kapal laut dan pesawat udara, gapnya seperti bumi dan langit. Akan tetapi dalam konteks waktu,  pengumuman pramugari tadi adalah surprise buat saya. Dari 16 jam, 5 jam, hingga tinggal sekian puluh menit untuk tiba di Kendari. Artinya, jarak Baubau-Kendari kini ditempuh tinggal hanya 37 menit. Luar biasa! Saya bersyukur masih dapat menyaksikan loncatan itu.

        Menjelang akhir musim panas tahun ini, saya memang ingin mengunjungi Baubau melalui perjalanan darat. Sekalian melihat geliat pembangunan infrastruktur transportasi.   Perjalanan itu kemudian difasilitasi Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasina.

        Ada dua jalur hubungan darat ke Baubau, saat ini. Pertama, jalur Pulau Muna. Jalur ini ditempuh melalui dua lintas penyeberangan kapal feri. Yaitu lintas Torobulu – Tampo, dan lintas Waara – Baubau. Saya sudah pernah lalui jalur ini di awal tahun 2000-an. Jarak tempuhnya agak panjang. Berangkat pagi dari Kendari, dan tiba di Baubau menjelang malam. Perjalanan yang agak melelahkan. Tapi stamina waktu itu masih bagus sehingga rasa lelah tak lama menjadi segar kembali.

        Adapun jalur kedua hubungan darat ke Baubau ialah melalui lintas penyeberangan kapal feri Amolengu-Labuan. Jika lintas Torobulu-Tampo menyatukan daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara dengan Pulau Muna, maka lintas Amolengu-Labuan menyatukan daratan besar jazirah sultra dengan Pulau Buton.

        Jalur kedua ini baru dibuka setelah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meresmikan penggunaan pelabuhan feri Amolengu dan Labuan pada bulan Februari 2016. Karena itu, saya memutuskan lewat jalur kedua agar dapat mengenal dan menambah pengalaman di daerah tersebut.

Perjalanan dimulai dari Kendari dengan mobil Dinas Perhubungan Sultra. Dikemudikan Nuriono Efendy (28), mobil itu melaju di atas jalan beraspal mulus, dan tanpa terasa kami tiba di pelabuhan Amolengu. Jarak  sekitar 100 Km itu  ditempuh hanya dua jam lebih sedikit.

        Mobil kami langsung naik kapal, dan selanjutnya KMP Semumu bergerak menuju Labuan di ujung utara daratan Pulau Buton. Lintas ini pendek, hanya 8 mil. Dalam sehari kapal itu bolak-balik 3-4 kali di lintas ini mengangkut penumpang dan kendaraan bermotor. Saat kami naik, pelayaran merupakan trip kedua bagi Semumu. Trip pertama dilakukan tadi pagi dari Labuan, tempatnya menginap.

        Pada pelayaran trip kedua dari Amolengu, muatan Semumu tampak sarat juga, terutama ruang angkutan kendaraan. Sedangkan kursi penumpang terisi lebih dari separuh. Dari sekian banyak lintas penyeberangan kapal feri di Sultra, lintas Amolengu-Labuan merupakan jalur yang dioperasikan tanpa subsidi. Artinya langsung menjadi jalur komersial dengan memberlakukan tarif penuh (full tariff) sesuai ketentuan yang ada.

Baik di Amolengu maupun Labuan, kami hanya sight seeng.  Kami memang agak terburu-buru karena mengejar waktu shalat Jumat di masjid mana saja dalam perjalanan lanjutan menuju Baubau. Akhirnya, kami pun berhenti di sebuah masjid mungil di Desa Baluara. Warga setempat tampak mulai berbondong-bondong menuju rumah ibadah tersebut.

Babussalam, nama masjid itu dibangun dengan swadaya. Fasilitas wudhu’ dan toilet masjid itu ditunjang tersedianya air bersih yang menyembur dari pipa sumur bor, juga hasil swadaya masyarakat Baluara. Dalam kesederhanaan warga desa tersebut tampak hidup sejahtera dalam suasana kehidupan bernuansa religius.

Perjalanan ke Baubau terasa menyenangkan. Seluruh ruas jalan sepanjang kurang lebih 200 Km beraspal mulus. Di sebelah kiri jalan, kebun kelapa dan  jambu mente milik penduduk tampak berlarian ke arah berlawanan saat mobil kami melintas cepat. Agak jauh ke dalam,  hutan menghijau kendati kurang lebat karena lantai lahannya berbatu dan bergelombang. Populasi penduduk di sepanjang jalan  masih longgar sehingga pemanfaatan lahan untuk pertanian belum maksimal.

   Pemandangan di sebelah kanan lebih menarik karena kita merasa seperti sedang menyusuri tepian danau besar. Itulah bentangan laut yang memisahkan daratan Pulau Buton dari Pulau Muna. Panorama alam tersebut tampak senyap dari deburan ombak dan tak terdengar alunan lagu “sio sayang” dari para nelayan. Di musim panas (kemarau), perairan Selat Buton memang tenang tak berombak. Nelayan di sana juga masih langka sehingga tak terlihat kesibukan perahu atau kapal motor berlalu lalang mengangkut hasil tangkapan.  Potensi laut dan lahan pertanian di sepanjang jalan poros Labuan-Baubau boleh dibilang “masih tidur”, belum banyak disentuh tangan-tangan produktif.

Setelah bertualang lebih separuh dari jalan poros ini, kami menemukan 2-3 rumah penduduk menjual makanan dan minuman. Tempatnya di ketinggian menghadap ke laut Selat Buton. Sensasi pemandangan alam nan indah tersebut praktis menambah nikmat menyantap kuliner yang tersedia. Kendati di situ cuma ada nasi kuning, nasi biasa dan lauk ikan seadanya, lalu mi instan, kopi hitam, kopi mix, serta kue-kue kering kemasan pabrik. Maklum, penyediaan usaha kuliner tersebut merupakan kreasi dan prakarsa warga desa setempat. “Nama desa Ini ialah Tumada”, tutur Nuriono menjelaskan.

Idealnya,  di situ harus ditempatkan halte dan areal parkir kendaraan lainnya. Makin ramai kendaraan berhenti, usaha kuliner warga pasti berkembang pesat. Apalagi, beberapa ratus meter dari rumah makan tersebut ada sekolahan, salah satu SMA Negeri di Kabupaten Buton. Tetapi sepanjang perjalanan, kami tak melihat alat angkutan umum beroperasi di ruas ini.

Tidak hrean jika di sepanjang ruas jalan ini hingga Kota Baubau belum ada sarana penunjang transportasi seperti terminal, halte, rambu jalan, dan sebagainya. Ruas jalan ini sebenarnya telah berfungsi cukup lama. Bahkan, jalan pantai barat Buton ini konon telah dibuka sejak zaman Belanda.

Dalam perencanaan Dinas Perhubungan Sultra, sebuah terminal tipe B akan dibangun di sebuah pertigaan di daerah Kapantori. Di situ ruas jalan Labuan-Baubau  bertemu dengan ruas jalan dari Ereke (Buton Utara) yang juga menjadi akses jalan ke Baubau. Di pertigaan itulah bakal dibangun terminal.

Petualangan ini berakhir di Kota Baubau. Kami tiba di kota itu sekitar pukul 15.00 Wita. Pengalaman yang bisa dibagi dari perjalanan darat ini antara lain adalah fakta bahwa kondisi infrastruktur jalan dan jembatan yang kami lalui, umumnya  sangat baik. Kondisi aspalnya masih mulus. Jadi, masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir menghadapi musim hujan tahun 2017/2018.***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>