KOTA BAUBAU JANGAN SEMRAWUT

OLEH YAMIN INDAS

-

Suepan Pasasana semrawut ini dipotret di jalan depan Pasar Anugrah Baubau, Minggu 29 Oktober 2017

BAUBAU adalah sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Tetapi semrawutnya nyaris tak terkendali. Keadaan tersebut terlihat di jalan raya. Baik pada hari kerja maupun hari libur, penyempitan  ruang jalan terasa dan terlihat di mana-mana.

        Mungkin tidak terlalu tepat disebut macet sebagai gejala kepadatan lalu lintas di Kota Baubau. Sebab kendaraan masih mengalir. Hanya, pergerakan berlalu lintas terasa lambat akibat padatnya berbagai jenis alat angkutan yang berebut tempat untuk melaju ke tujuan.

         Suasana kepadatan lalu lintas di hampir semua jalur jalan Kota Baubau terkesan sebagai denyut nadi kota industri yang memang harus sibuk. Padahal tidak demikian. Tak tercatat sebuah pun industri di sana, kecuali beberapa cold storage yang dibangun di masa kekuasaan Amirul Tamim sebagai Walikota Baubau, untuk menyimpan stok ikan beku dalam menghadapi kemungkinan pacelik pada musim angin barat.

        Kekumuhan Kota Baubau dalam aspek manajemen transportasi lebih disebabkan wilayah kota memang sempit. Sebuah permukiman sekitar 200.000 penduduk di atas areal 221 kilometer persegi atau 0,58 persen dari luas Sultra (38.140 Km2) terasa timpang dari segi daya dukung wilayah. Fisik kota itu terletak di kawasan tanah bergelombang, dan hampir separuh darii pantainya merupakan tebing curam.

        Sebagai pendukung aktivitas sosial ekonomi warga kota, di Baubau tercatat 243,13 Km jaringan jalan. Jaringan jalan ini hanya 62 Km yang tercatat sebagai jalan national. Selebihnya jalan kabupaten/kota. Jalan provinsi tidak ada. Sedangkan alat transportasi yang bergerak di atas jalan tersebut kurang lebih 10.000 unit, termasuk sekitar 8.000 unit sepeda motor.

        Alat transportasi tersebut belum termasuk berbagai jenis kendaraan dari luar kota yang setiap saat memasuki Baubau. Kota itu telah terkoneksi dengan semua kabupaten dan kota di Sultra maupun dengan Makassar di Sulawesi Selatan melalui sistem angkutan darat yang ditunjang konektivitas penyeberangan kapal-kapal ferry.

Masalah serius yang menyebabkan kesemrawutan lalu lintas Kota Baubau ialah faktor manajemen transportasi yang tak jalan. Manajemen tersebut adalah “makanan” Hado Hasina, master transportasi dari Institut Teknologi Bandung. Dia diangkat sebagai Kadis Perhubungan Sultra bulan Juli 2016 oleh Gubernur Nur Alam. Sebelumnya dia menjabat Kadis Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Buton Utara, kemudian  Pelaksana Sekda kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Buton itu.

Dalam program Dinas Perhubungan Sultra, ada empat kota di Sultra yang diberi prioritas tinggi terkait pelaksanaan manajemen transportasi dalam rangka menciptakan kenyamanan, kelancaran, dan keamanan berlalu lintas. Selain Baubau, ketiga kota lainnya adalah Kendari, Kolaka, dan Wanci (Wakatobi).

Mengapa? Ke-4 kota tersebut kini telah terkoneksi multi moda angkutan. Memiliki bandar udara (lapangan terbang), pelabuhan laut dan kapal ferry, serta tentu saja kota-kota tadi telah memiliki terminal angkutan darat.  “Konektivitas itu mendorong laju pertumbuhan kota-kota tersebut untuk berkembang pesat”, ujar Hado di Kendari, Selasa 31 Oktober 2017.

Baubau telah ditangani mulai awal tahun ini. Fundasi yang diletakkan pertama adalah penyiapan lahan terminal tipe B di Lakologou, dan penyiapan fasilitas rest area di tiga tempat: Waramesiu, kompleks pelabuhan ferry, dan di pelabuhan (laut) Murhum Baubau. Rest area merupakan tempat peristirahatan sementara. Dia berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP). Rest area akan dilengkapi dengan fasilitas peristirahatan seperti pajangan kuliner, hotel, pusat souvenir dan swalayan.

Hado optimistis, impiannya itu dapat diwujudkan jika program pembangunan infrastruktur transportasi seperti yang dipaparkan di atas didukung pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota.

Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina di lokasi calon Terminal Lakologou Baubau

Hado kemudian menjelaskan tentang fungsi terminal. Bagi penumpang, fungsi terminal adalah fasilitas kenyamanan saat menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda ke moda yang lain, sarana informasi dan area parkir kendaraan pribadi. Fungsi terminal bagi pemerintah ialah terkait perencanaan dan manajemen lalu lintas untuk menghindari kemacetan, pos pemungutan retribusi, dan sebagai pengendali kendaraan umum. Sedangkan fungsi terminal bagi pengusaha adalah sarana pengaturan operasi bus, penyediaan fasilitas istirahat.

Menurut Hado, terminal tipe B di Lakologu (ujung barat kota) merupakan moda transportasi sentral perjalanan kendaraan angkutan kota dalam provinsi (AKDP). Terminal ini akan dihubungkan dengan rest area Waramesiu, pelabuhan ferry, dan pelabuhan Murhum.

Bahkan, dia merencanakan pembangunan jalan arteri di sepanjang garis pantai dari Terminal Lakologou hingga terminal pelabuhan Murhum. Pekerjaannya bersifat penimbunan laut sepanjang kurang lebih 2 Km. Di sepanjang jalan tersebut bisa dibangun sarana perekonomian yang akan melibatkan warga setempat sebagai pelaku mulai dari usaha ekonomi mikro hingga mall dan pasar modern. Ini sejalan dengan arah pengembangan Baubau sebagai kota perdagangan.

Lokasi Rest Area di Waramesiu Baubau, saat mulai diuruk 2017

Ketersediaan sarana dan fasilitas tersebut akan merangsang para penumpang kapal-kapal Pelni untuk memanfaatkan waktu buat berwisata belanja dan kuliner sambil menunggu keberangkatan kapal untuk melanjutkan perjalanan.

Pelabuhan Murhum Baubau adalah pintu penghubung wilayah barat dan timur dalam lalu lintas pelayaran armada penumpang milik BUMN tersebut. Frekuensi persinggahan ke pelabuhan itu minimal sekali sehari, baik yang pulang ke barat maupun kapal yang menuju timur seperti Ambon, Bitung, Tidore, Manokwari, Kaimana, Merauke, dan lain-lain.

Rekayasa Lalu Lintas

        Soal kepadatan, terutama di jalur-jalur  tertentu merupakan program jangka pendek yang akan segera dbenahi. Rest area Waramesiu dalam satu dua bulan ke depan akan difungsikan sebagai terminal sementara, menggantikan terminal yang selama ini menumpang di lahan di kompleks Lapangan Tembak Baubau.

        Hado mengatakan, dalam manajemen rekayasa lalu lintas ada beberapa macam kebijakan yang bisa diambil untuk meningkatkan kapasitas jalan. Di antaranya pelebaran dan pelurusan jalan. Tetapi langkah ini membutuhkan dukungan politik karena terkait penggunaan dana APBD dan koordinasi dengan instansi lain. Maka prosesnya agak lama.

        Langkah yang lebih praktis untuk mengatasi kemacetan ialah mengatur jalan satu arah. Ruas-ruas  yang padat dialihkan sebagian bebannya  untuk menciptakan jalan satu arah. Di Kota Baubau lebih pas dan perlu  dengan sistem satu arah karena ruas-ruas jalan di sana sempit, rata-rata lebar badan jalan beraspal hanya sekitar 3 meter.

        Untuk melaksanakan manajemen rekayasa lalu  lintas di Baubau, Dinas Perhubungan Sultra akan melibatkan selain Polresta, juga Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan, dan asuransi Jasa Raharja. Akan direkrut pula warga masyarakat dari kalangan anak muda yang akan diperbantukan pada polisi dalam mengatur lalu lintas. Mereka disediakan seragam dan atribut.   Ada pula uang jasa untuk setiap kali mereka bertugas di lapangan.

        Kota Baubau dituntut untuk semakin berkualitas sebab dia kota wisata yang menawarkan banyak pesona. Baubau adalah kota budaya dan sejarah. Oleh karena itu, pengelolaan pemerintahan dan pembangunan kota tersebut harus menampilkan pencitraan yang baik. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>