SENSASI ‘GOLDEN WATER’ DI DESA WISATA TANGKENO

Gubernur Nur Alam diapitt Kades Abdul Madjid Ege dan istrinya Suriati, serta Pj Bupati Bombana Sitti Saleha (kanan)

        NAMA sebenarnya adalah Ee Wulaa (huruf e dibunyikan seperti menyebut ember). Ee Wulaa dalam bahasa kabaena terdiri dari kata ee yang berarti air, dan wulaa yang berarti emas. Jadi arti frasa ini ialah air yang mengandung emas.

        Maka, supaya keren dan menyesuaikan predikat desa itu sebagai desa wisata, saya alihbahasakan menjadi “Golden Water”.

        Golden Water adalah sebuah sumber mata air menyembur dari permukaan tanah di sebuah lereng pegunungan, di Desa Tangkeno. Semburan air ini kemudian tertampung pada sebuah cerukan sebagai kolam alam yang tidak begitu besar. Nah, kolam inilah yang disebut Ee Wulaa, Golden Water.

        Mengapa orang Kabaena, khususnya warga Desa Tangkeno   menyebutnya Ee Wulaa?

        Dahulu kala, once upon a time, ada seorang warga pergi ke hutan. Saat melewati sumber air tersebut ia melihat bongkahan batu kekuningan seperti emas muncul di atas permukaan air kolam. Padahal, biasanya permukaan air kolam itu bersih dari dedaunan maupun ranting-ranting kayu.

        Warga itu kemudian bergegas balik ke kampung dan menceritakan benda aneh yang  baru dilihatnya di kolam. Dalam keterangannya ia juga secara dramatis melukiskan bongkahan batu berwarna emas itu tampak bergerak laksana seekor belibis sedang berenang.

        Akan tetapi, ketika bongkahan hendak dilihat dan dicermati ulang oleh dia bersama beberapa teman sekampung, benda aneh itu sudah tak ada. Lenyap tanpa bekas. Air kolam dan suasana sekitar tetap tenang dalam kesenyapan. Sementara desau angin tetap bernyanyi memecahkan kesenyapan itu. Hukum keseimbangan alamlah yang  berlaku.

        Orang Tangkeno dulu jujur dan kuat memegang tradisi. Keterangan penemu bongkahan batu menyerupai emas harus dipercaya tanpa reserve. Soal bongkahan tak ada lagi adalah  masalah lain. Perkara ini kemudian dialihkan ke ranah mitos.

Dikatakan, bongkahan itu adalah penampakan bahwa di tempat itu memang terdapat  mineral berupa bijih emas.

Kolam Golden Water. Tidak seluas dulu lagil

        Sejak saat itu sumber mata air pegunungan tersebut disebut dan dikenal sebagai Ee Wulaa, dan selanjutnya kita sebut Golden Water.

        Tangkeno adalah sebuah kampung tua, pusat peradaban masyarakat Kabaena yang secara etnologis merupakan suku Moronene dari daratan besar (wita ea) jazirah Sulawesi Tenggara. Kampung ini (kini desa wisata) terletak di kaki lereng Gunung Sangia Wita, atau di ketinggian 620 meter dpl (dari permukaan laut).

        Untuk mendapatkan lokasi Golden Water, kita harus naik ke atas lagi hingga di ketinggian sekitar 650 meter dpl. Dari sebuah jalan sederhana yang menjadi akses Desa Tangkeno dengan Benteng Tontontari, kita harus menuruni tebing agak landai sekitar 300 meter.

        Agak surprise juga ketika saya ditelepon Penjabat Bupati Bombana Hj Sitti Saleha SE MSi, tentang keinginan Gubernur Nur Alam menikmati sensasi air pegunungan Ee Wulaa di Tangkeno. “Maunya Pak Gub hanya kita bertiga ke Tangkeno,” kata Leha, panggilan akrabnya.

        Saya dalam keadaan kurang fit sebenarnya, akibat nyeri sendi lutut. Tetapi karena harus “mengantar” orang besar ke kampung sendiri, maka saya sanggupi saja.

        Dalam hati terbersit harapan, mudah-mudahan Gubernur Nur Alam trenyuh hatinya melihat kondisi infrastruktur di pulau yang potensi nikelnya nyaris habis oleh keserakahan pengusaha bebarapa waktu lalu.

        Kurang empat hari masuknya Ramadhan 1438 H, persisnya Selasa 13 Juni 2017, kami ke Kabaena. Ternyata tidak hanya bertiga. Dari Kendari ada Komandan Korem 143/Haluoleo Kolonel (Inf) Andi Perdana, ikut pula Kadis Infokom Sutra Kusnadi, Halim Ahmad dari Metro TV, dan tentu saja ajudan gubernur.

        Pj Bupati Bombana yang menunggu di Kasipute, ibu kota kabupaten, juga membawa beberapa staf. Dia menyiapkan speed boat yang membelah laut sekitar dua jam hingga merapat di Sikeli. Cuaca bagus, laut tak berombak. Sikeli adalah pelabuhan paling ramai di Pulau Kabaena setelah Dongkala di ujung timur.

        Rombongan tidak segera “nancap” ke gunung (Tangkeno). Gubernur Nur Alam tertarik terhadap rangka tulang ikan paus sepanjang 12 meter yang terpajang di dekat pelabuhan. Rangka itu diletakkan di sebuah bangsal sederhana. Pajangan ini kemudian menjadi obyek tontonan para pengunjung Kabaena.

        Sikeli telah dibuka sebagai pelabuhan sejak zaman Belanda. Daerah hunian (perkampungan)  makin luas. Tetapi wajahnya tetap kusam. Mungkin karena belum memiliki  infrastruktur jalan yang baik. Jaringan jalan yang  berupa jalan tanah, berlumpur bila hujan.

        Jalan poros yang membelah Sikeli berlubang-lubang, tampak seperti bekas aspalan yang telah keropos. Kondisi jalan seperti ini sama keadaannya hingga ke Teomokole, sejauh kurang lebih 5 kilometer.

        Kondisi jalan jelek lebih parah lagi saat hendak menapak naik ke gunung menuju Tangkeno. Ruas jalan Tangkeno – Sikeli sebenarnya hanya kurang lebih 18 kilometer. Namun, rombongan kami menempuhnya sekitar satu jam dengan mobil-mobil kijang Innova.

        Desa ketinggian pertama setelah lepas Teomokole adalah Rahadopi. Aksesnya berupa jalan tanah yang di sana sini telah dikeraskan dengan kerikil (sirtu: pasir batu) namun telah tergerus run off.

        Keadaan jalan hingga Tangkeno lebih memprihatinkan. Suasana juga terasa agak sempit karena rumput dan pepohonan liar di kiri kanan jalan, jarang dipangkas. Pendek kata, akses ke desa wisata ini belum baik. Badan jalan yang ada tak terpelihara.

        Kondisi infrastruktur jalan di Kabaena sangat kontras dengan kondisi ruas jalan Kendari – Kasipute (180 Km). Ruas tersebut merupakan jalan nasional beraspal campuran panas (hotmix).

Gubernur Nur Alam berbincang dengan perempuan tuna netra di Tangkeno., dipandu Kades Abdul Madjid Ege. Konon Sumna diberi uang Rp 1 juta oleh gubernur.

  Nyaris senada dengan kondisi  jalan jelek, lahan pertanian di sepanjang jalan ruas Teomokole – Tangkeno belum terolah maksimal. Masih lebih luas hutan belukar muda dari kebun-kebun jambu mete dan cengkeh. Pemandangan seperti itu lebih tegas setelah kita memasuki wilayah Desa Tangkeno.

        Kunjungan pribadi Gubernur Nur Alam ke Tangkeno rupanya bocor juga. Warga telah terkonsentrasi di balai desa saat kami tiba di sana. Ada sejumlah camat dan staf, anggota TNI dan Polri. Gubernur hanya senyum-senyum saja. Ia berbaju kaos  warna cerah berkerah.

        Rombongan terus bergerak langsung menuju lokasi Golden Water. Naik ke atas lagi. Obyek ini ternyata sederhana dan alami. Kolamnya kecil saja sehingga tidak mungkin kita mandi dengan mencebur ke dalamnya.

        Kolam itu berlokasi di ujung akar-akar  sebuah pohon beringin yang tidak terlalu angker. Untuk tempat mandi, warga membuat pancuran yang tersambung langsung dengan semburan air dari dalam tanah tebing.

        Air pancuran dijatuhkan ke sebuah bilik kecil. Di sinilah Gubernur Nur Alam mandi, menikmati sejuknya air pegunungan Tangkeno Golden Water. Ia bergantian dengan Komandan Korem Andi Perdana.

        Kepala Desa Tangkeno Abdul Madjid Ege (76), mengatakan,   di zaman dia kecil kolam itu besar dan airnya melimpah jernih. Semburan-semburan air dari tanah tebing juga kencang mengucur kemudian tertampung di kolam alam itu.

        Berkurangnya volume air yang membuat kolam juga makin menyempit disebabkan penebangan hutan di sekitar sumber air tersebut. Penebangan itu untuk keperluan ladang dan bahan bakar kebutuhan rumah tangga dan kerajinan membuat gula aren.

        Madjid masih merasa optimistis, volume air Goldan Water bisa kembali seperti semula bila kawasan hutan di sekitarnya direhabilitasi. Pekerjaan itu tentu harus ditangani pemerintah. Warga setempat hampir tak mungkin melakukannya sebab hidup mereka sendiri susah, ditambah miskinnya kesadaran lingkungan.

        Madjid menyatakan ingin sekali obyek permandian ini dikembalikan ke lingkungan alamnya yang asli. Dalam rangka itu kawasan hutan sekitarnya perlu ditanami kembali dengan pohonan berdaun rimbun, pohonan bambu, pandan, dan sebagainya.

        Usaha pemulihan itu sangat diperukan. Pasalnya, Golden Water telah melegenda. “Hari ini sudah dua Gubernur Sultra yang mandi di sini,”  ujarnya bangga.

Sebelum Nur Alam, pendahulunya Drs H La Ode Kaimoeddin juga telah lebih dulu menikmati kesejukan air pegunungan tersebut. Tetapi saat itu mendiang  Kaimoeddin belum menjadi gubernur. Dia masih menjabat Pembantu Gubernur Sultra Wilayah Kepulauan.

        Kendati demikian keadaannya itu, Gubernur Nur Alam terlihat senang dan sangat menikmati kesejukan air Golden Water. Setelah shalat jamak/qasar dan makan siang di rumah Kades, Nur Alam menyempatkan ramah tamah dengan warga. Sebagian warga berjingkrak kegirangan karena mendapat saweran lembaran-lembaran uang merah dari tangan gubernur.

        Setelah kurang kurang lebih dua jam di Tangkeno, Gubernur Nur Alam bersama rombongan kembali ke Kasipute, ibu kota Kabupaten Bombana, dan bermalam di sana. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>