INVESTASI SEKTOR PERHUBUNGAN TINGKATKAN PAD

Gazebo di pelabuhan feri Kendari rute Wawonii.Fasiitas ini digunakan pedagang makanan minuman dan mereka tidak keberatan jika dipungut sewa Rp 50.000 per bulan.

        KURANG dari setahun penataan sektor perhubungan di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup bagus. Indikatornya adalah meningkatnya penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor ini.

        Seperti dikatakan Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasina,  target PAD tahun lalu ditetapkan Rp 4 miliar. Realisasinya adalah Rp 6 miliar. Tahun ini bisa tercapai Rp 10 miliar dari target Rp 6 miliar.

        Arti dari kenaikan PAD tersebut sesungguhnya merupakan penegasan bahwa dana APBD yang dikeluarkan untuk membangun sektor perhubungan, tidaklah sia-sia. Dana itu pasti kembali dan guliran bolanya akan semakin membesar bak es salju (snow ball).

Maka, Gubernur bersama DPRD Sultra jangan ragu melakukan investasi untuk mendukung program pembangunan sarana perhubungan baik darat, laut, maupun udara. Dampaknya tidak hanya menjamin kelancaraan arus barang dan orang tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

        Hado Hasina bergelar master transportasi dan doktor tentang modifikasi aspal Buton. Ia dilantik sebagai Kadis Perhubungan Sultra bulan Oktober 2016. Hado kemudian membuat pola penataan dan pembangunan transportasi Provinsi Sulawesi Tenggara dalam satu kesatuan (sistem) yang terpadu, disebut Tataran Transportasi Wilayah Sultra. Landasan program ini telah  diformalkan dalam suatu peraturan gubernur (Pergub).

        Program di subsektor laut meliputi penataan dan pengembangan 6 pelabuhan yang telah diusahakan selama ini, termasuk pelabuhan Kendari dan Bau-Bau sebagai gerbang utama. Empat lainnya ialah pelabuhan Raha, Kolaka, Pomalaa, Langara.

        Selain itu masih ada sekitar 24 pelabuhan laut dan pelabuhan kapal feri di daerah-daerah pemakaran kabupaten yang juga menuntut perhatian dalam rangka  mendukung percepatan  pembangunan ekonomi di kawasan-kawasan pertumbuhan baru tersebut.

        Semua pelabuhan tersebut  adalah titik perhentian atau tempat transit perjalanan barang dan orang. Di setiap titik dibutuhkan penyediaan sarana dan fasilitas pelayanan publik. Jasa yang disediakan sarana dan prasarana dalam bentuk terminal laut dan darat, ini dibayar oleh pengguna bagi pundi-pundi APBD.

        Hado mengatakan, Sultra sangat tertinggal dalam hal penyediaan sarana pendukung infrastruktur terutama di subsektor perhubungan darat. Sampai saat ini Kendari belum memiliki terminal penumpang angkutan darat.

        Padahal, ibu kota provinsi Sultra tersebut sejak lama menjadi titik tujuan dan atau tempat transit perjalanan darat dalam sistem angkutan antarkota, antarkabupaten, dan antarprovinsi. Sejak tahun 1970-an hubungan darat Kota Kendari dengan Makassaar  telah berjalan baik.

        Lintas penyeberangan Kolaka – Bajoe (Kabupaten Bone, Sulsel) merupakan jalur pelayaran kapal-kapal feri sebagai mata rantai hubungan darat kedua ibu kota provinsi tersebut.  Belakangan berkembang pula pelabuhan feri dalam wilayah lokal Sultra. Sehingga hubungan darat Kota Kendari dengan daerah-daerah di kepulauan pun makin ramai dan lancar.

        Perkembangan tersebut tidak diikuti penyediaan terminal darat minimal kelas B di Kendari. Hado mengatakan, terminal atau titik simpul dalam jaringan transportasi jalan adalah sarana pelayanan publik.

        Biaya pembangunan terminal baik kelas A maupun kelas B adalah porsi APBN. Daerah tinggal mengajukan proposal. Kemudian pemerintah kota juga harus berkontribusi terkait penyiapan lahan (lokasi).

        Terkait pembangunan terminal darat maupun laut, Hado ingin menerapkan pola kerja sama pemerintah dengan masyarakat (privat public partnership). Konsep ini sudah mulai dilaksanakan sehingga target-target penerimaan PAD belakangan ini makin lancar.

        Contoh kecil adalah penyediaan gazebo berukuran 4 kali 4 meter di beberapa tempat dalam kawasan pelabuhan feri maupun halte bus atau angkot (angkutan kota). Warga setempat menyediakan lahan kemudian mereka diberi hak berjualan aneka makanan dan minuman di situ. Gazebo tetap disewa dengan murah.

        Obsesi yang ingin segera diwujudkan Hado Hasina ialah hadirnya terminal di setiap titik perhentian atau tempat transit yang menyediakan kenyamanan dan kemudahan bagi masyarakat pengguna jasa angkutan darat dan laut. Di situ ada ruang tunggu, depot makanan dan minuman, kamar mandi dan toilet, ruang shalat (mushala), ruang penginapan, toko aneka barang kebutuhan, dan sebagainya.

        Pembangunan fasilitas dan sarana kemudahan pendukung infrastruktur transportasi tersebut dapat melibatkan masyarakat pengusaha  melalui kerja sama pola  privat public partnership seperti diinginkan Hado.

        Dengan demikian, pembangunan sektor perhubungan merupakan salah satu strategi percepatan pertumbuhan bagi peningkatan daya saing provinsi ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>