PELAYANAN DI RS BAHTERAMAS DIAKUI SUDAH STANDAR

 

Dirut RS Bahteramas dr HM Yusuf Hamra MSc sp PD

PADA waktu tertentu Anda dapat menyaksikan orang hilir mudik mengayuh sepeda di koridor-koridor dalam sebuah gedung pusat pelayanan kesehatan di kawasan timur Indonesia.

Berwajah serius dalam seragam putih-putih, mereka keluar masuk ruang-ruang perawatan, tentu saja setelah mereka menyimpan sepeda di tempat yang telah ditentukan.

Ihwal tersebut adalah cuplikan suasana pelayanan di RSUP (Rumah Sakit Umum Provinsi) Sultra Bahteramas. Setiap pasien yang baru masuk dipasangkan gelang di tangan atau kakinya. Di gelang itu terdapat data rekam medik, umur, dan alamat pasien bersangkutan.

Kendati serius dan cermat, segenap petugas di sini tidak boleh berwajah cemberut. Dalam melayani pasien mereka memiliki semboyan: senyum, sapa, tanya, bantu (SSTB). Semboyan ini tertulis besar-besar di hampir semua sudut dan ruangan. Bahkan, saat memasuki pekarangan dan lapangan parkir, kita akan langsung disambut oleh kata-kata slogan tersebut.

SSTB diharapkan menjadi sumber motivasi dan semangat bagi segenap karyawan untuk memberikan dan meningkatkan kualitas pelayanan secara optimal kepada pasien dan masyarakat pada umumnya.

Tidak sia-sia manajemen RS Bahteramas melakukan berbagai upaya terkait peningkatan pelayanan di rumah sakit tersebut. Manajemen itu dipimpin dr HM Yusuf Hamra MSc, Sp PD (spesialis penyakit dalam, internis) sebagai Direktur Utama RSUP Bahteramas.

Terhitung sejak bulan Desember 2016 RSUP Bahteramas telah mendapatkan pengakuan dari sebuah lembaga akreditasi independen, bahwa rumah sakit ini telah memenuhi standar yang berlaku secara nasional.

Sebagaimana dijelaskan Yusuf Hamra, lembaga independen yang memutuskan RSUP Bahteramas sebagai sebuah rumah sakit standar ialah Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Menurut KARS, RSUP Bahteramas kini berada di level akreditasi paripurna yang setara dengan rumah sakit bintang lima, seperti antara lain RS Fatmawati dan RS Pondok Indah Jakarta.

Paling sedikit ada empat kelompok standar akreditasi untuk mendapatkan predikat paripurna, atau bintang lima bagi RSUP Bahteramas. Yaitu kelompok pelayanan pasien, manajemen rumah sakit, keselamatan pasien, dan sasaran Millenium Development Goals.

Terkait persoalan manajemen, Yusuf Hamra menjelaskan, ada beberapa pekerjaan non-medis yang penanganannya diserahkan kepada pihak ketiga (kontraktor). Antara lain cleaning service dan parkir. “Jadi, kami lebih fokus pada pelayanan,” ujarnya.

RSUP Bahteramas memiliki 540 tempat tidur, termasuk 84 tempat tidur VIP ditambah 5 unit untuk super VIP. Yang terakhir ini berupa paviliun.

RSUP Bahteramas Kendari

Tangan dingin Yusuf Hamra dibantu antara lain Amin Yohanis, membuat nama rumah sakit ini cepat melambung tinggi. RSUP Bahteramas tak hanya mampu meraih kelas bintang lima tetapi juga mampu mandiri di bidang pembaiayaan.

Seluruh biaya operasional dipenuhi dari penerimaan rumah sakit. Kecuali gaji dan tunjangan, dananya berasal dari kas Pemprov. Begitu pula biaya pembangunan sarana-sarana penunjang dan pengadaan alkes, tentu saja dari pemda.

Fokus Yusuf saat ini ialah perbaikan alat CT scan agar segera beroperasi kembali. Alat canggih ini mengalami sedikit kerusakan akibat seringnya padam lampu listrik PLN secara mendadak. Kerusakan tersebut masih menjadi tanggung jawab pihak kontraktor dari Belanda, tempat CT scan merek Philips itu diproduksi.

Computerized tomography scan (CT scan) adalah mesin berbentuk kapsul yang dapat dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring. Mesin ini digunakan untuk mendeteksi berbagai penyakit dan kondisi kesehatan manusia pada umumnya. Dengan demikian, diagnosis dan proses pengobatan akan lebih akurat.

Kecanggihan alat ini dikatakan oleh Gubernur Nur Alam, “hanya dosa manusia yang tidak bisa direkam oleh alat tersebut”. Bahasa promosi buat RSUP Bahteramas tersebut disampaikan Gubernur dalam berbagai kesempatan setelah mesin tersebut tiba dari Belanda, kemudian diinstal di RSUP Bahteramas Kendari.

Ia mengatakan, Pemprov Sultra membangun rumah sakit modern bagi masyarakat Sultra. Penyediaan alat canggih seperti CT scan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara optimal. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi ke Makassar atau Jakarta untuk mendapatkan pelayanan optimal.

Harapan Gubernur Nur Alam mulai terwujud. Beberapa bupati di Sultra makin sering terlihat memanfaatkan jasa RSUP Bahteramas. Bupati Konawe Kerry Konggoasa, misalnya, tercatat sebagai pengguna super VIP selama hampir satu bulan, belum lama ini.

RSUP Bahteramas adalah salah satu dari sekian karya monumental Nur Alam di awal masa jabatannya sebagai Gubernur Sultra. Tidak heran jika proses pemilihannya ke periode kedua lebih mulus karena rakyat Sultra telah merasakan hasil pembangunannya.

Ia membangun RSUP Bahteramas dengan cara meminjam dana PIP (Pusat Investasi Pemerinbtah) Kementerian Keuangan. Pinjaman itu untuk penguatan APBD agar infrastruktur dasar itu cepat selesai.

Kebijakan tersebut adalah sebuah terobosan, yang kemudian diikuti banyak pemda lain terutama di kawasan timur Indonesia. Dengan terobosan membuat kesulitan rakyat cepat teratasi, dan biaya proses pembangunan terhindar dari jebakan inflasi. Sebab proyek multiyears biasanya lebih banyak menelan biaya akibat inflasi yang berekses pada ekskalasi kenaikan harga bahan-bahan bangunan.

RSUP Bahteramas diresmikan setahun menjelang berakhirnya masa jabatan Nur Alam sebagai Gubernur Sultra periode pertama. Tepatnya 21 November 2012 rumah sakit itu diresmikan Menko Perekonomian Hatta Radjasa.

 

 

 

 

 

 

Top of Form

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

Bagikan

Bottom of Form

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>