DESEMBER YANG INDAH DI PULAU BOKORI

Gubernur Nur Alam membahas pembangunan infrastruktur dengan Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina

INI kunjungan saya yang pertama ke Pulau Bokori setelah mengikuti upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2016. Sebuah speedboat, kendaraan dinas Gubernur Sultra untuk kegiatan di wilayah pesisir jarak-jarak dekat, terasa lincah membelah air laut yang tenang.

Cuaca menjelang siang Minggu 11 Desember 2016, memang cerah. Langit bersih. Hanya awan tipis putih yang bergerak bebas di cakrawala. Kapal kami kemudian agak terguncang saat berpapasan dengan sebuah kapal nelayan yang meluncur kencang menuju pelabuhan perikanan di salah satu sudut Teluk Kendari.

Kurang dari 20 menit dari Kota Kendari, kapal kami telah mendarat dan menurunkan Gubernur Nur Alam di sebuah dermaga kayu di Pulau Bokori. Matahari makin terik. Pasir putih pulau ini terasa agak menyengat bila tersentuh kaki. Namun, angin semilir yang terus berhembus membuat alam tetap nyaman dan segar.

Pulau Bokori terlihat ramai. Para pengunjung berkelompok-kelompok di bawah pepohonan yang masih tegak. Tentu setelah mandi menceburkan diri ke laut. Kawanan lain beristirahat di beberapa rumah panggung yang terbuat dari kayu pilihan. Beberapa di antara rumah tersebut masih sementara dikerjakan dan berlokasi di laut.

Kegiatan tersebut adalah yang pertama didatangi Nur Alam, baru kemudian oyek-obyek yang lain. . Saat beristirahat di homestay gubernur kemudian mengajak kami untuk menunaikan shalat zuhur karena saatnya telah tiba. Haji Hasby dari Biro Kesra Kantor Gubernur bertindak sebagai imam. Saya mengambil tempat di sebelah kiri Nur Alam.

Saat sujud di rakaat terakhir Nur Alam terlihat khusuk sekali. Lebih lama sujudnya. Ada rasa kedamaian terpancar di wajahnya saat kami bersalaman. Suasana batin saya pun demikian halnya. Ini Desember terindah yang saya rasakan di Pulau Bokori bersama Gubernur Nur Alam.

Pembangunan Pulau Bokori sebagai salah satu tujuan wisata di Sulawesi Tenggara terus meningkat. Kegiatan itu meliputi pembangunan terminal pelabuhan penyeberangan ke pulau eksotik itu, cottage, dermaga pendaratan, penyediaan sarana air bersih. Proyek air bersih akan mengalirkan air dari daratan besar melalui saluran perpipaan.

Penyiapan pulau tak berpenghuni itu sebagai salah satu tujuan wisata dimulai sejak November 2014. Gubernur Nur Alam melihat Pulau Bokori memiliki prospek yang cerah bila dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Pasir putih dan panorama laut sekitarnya serta kedekatannya dengan Kendari, ibukota Provinsi Sultra disebutkan Nur Alam sebagai keunggulan pulau tersebut. “Tinggal dipoles saja dengan menyediakan sarana kemudahan bagi pengunjung pulau di tepi Laut Banda itu”, kata Gubernur Sultra dua periode itu.

Alhasil, kendati infrastruktur belum memadai, pengunjung makin meningkat. Pengunjung, umumnya warga Kota Kendari. Pengunjung lebih ramai pada hari-hari libur. Sarana hiburan yang ada masih diusahakan sendiri oleh pengunjung seperti membawa alat musik (band) oleh anak-anak muda. Belakangan mulai muncul jetski yang dipersawakan.

Bahkan, pulau mungil itu telah menjadi tuan rumah kejurnas bola voli pantai di penghujung 2015. Peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2016 tingkat Provisi Sultra juga dilaksanakan di pulau wisata tersebut. Upacara itu dipimpin Gubernur H Dr Nur Alam SE MSi.

Pembangunan terminal penyeberangan dilaksanakan di sebuah desa di daratan terdekat dengan Pulao Bokori (1.300 meter). Proyek tersebut ditangani Dinas Perhubungan Provinsi. Kegiatan proyek pembangunan terminal dan penataan desa pesisir di sekitar terminal ditinjau Gubernur Nur Alam, Minggu 11 Desember 2016.
Gubernur mengarahkan Kadis Perhubungan Hado Hasina agar segera melaksanakan antara lain pembangunan tanggul yang sekaligus akan berfungsi sebagai akses jalan bagi warga setempat.

Gubernur juga menyatakan ingin melihat proses pembangunan terminal dan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Bokori secepatnya terwujud.

Infrastruktur tersebut akan melibatkan nelayan sekitar sebagai penyedia jasa angkutan penyeberangan dengan memanfaatkan potensi armada semut milik mereka.

Menurut Hado, terminal tersebut meliputi sarana dan prasaraa darat dan laut. Parasarana darat, misalnya, terdiri dari terminal angkutan penumpang seperti bus, oplet, taksi, dan kendaraan pribadi. Di situ juga disediakan bangunan pertokoan dan restoran yang pengoperasiannya diserahkan kepada masyarakat. Akan disediakan bus pariwisata yang melayani rute Bandara Haluoleo ke terminal tersebut.

Ia mengatakan, sesuai arahan Gubernur Nur Alam, pembangunan terminal penunjang pulau wisata, Bokori, bertujuan juga untuk menata desa dan masyarakat pesisir. Desa-desa di sekitar terminal diharapkan ikut berkembang sejalan dengan kemajuan industri sektor pariwisata.

Suasana di Pulau Bokori Minggu siang 11 Desember 2016

Hado optimistis, pembangunan terminal penunjang Pulau Bokori akan berjalan lancar seusai harapan Guberur Nur Alam. Sebab DPRD Provinsi dan semua Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait, sangat antusias mendukung program pembangunan pariwisata tersebut.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>