PRESIDEN JOKOWI DAN GUBERNUR ALALA

Bupati Konawe Utara Ruksamin dan Dirjen Perkebunan Kementerian Perkebunan Bambang (di kiri bupati) dalam suasana HUT Korpri ke 45 di Desa Andumowu. Foto Yamin Indas

   ANDUMOWU. Ini sebuah desa kecil di Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, sekitar 90 km utara Kota Kendari. Desa ini mendadak menarik perhatian saya karena disangkutkan dengan dua tokoh tersebut.

        Bupati Konawe Utara, Ruksamin, mengungkapkan bahwa hampir 30 tahun silam di desa tersebut Gubernur Sulawesi Tenggara Ir H Alala melakukan panen perdana tanaman kakao hasil Gersamata. Maksudnya, kakao yang ditanam dalam rangka program Gerakan Desa Makmur Merata (Gersamata).

Gersamata merupakan konsep pembangunan Sultra di era gubernur alumni Institut Pertanian Bogor tersebut. Operasionalnya adalah pembagian bibit kepada petani sesuai kondisi lahan setempat. Jika lahannya  cocok dengan tanaman kakao, ya dikasih bibit kakao.

Mendiang Alala nyaris melegenda dengan programnya tersebut. Demam coklat kemudian melanda hampir semua penduduk. Penduduk di lahan berbatu-batu juga tak ketinggalan. Mereka menanam jambu mete atau komoditas apa saja yang bisa tumbuh di situ.

Akan tetapi, masa kejayaan coklat Sultra kian meredup seiring bertambahnya usia tanaman. Keadaan ini diperparah oleh gencarnya serangan hama penggerek batang kakao (PBK).

Nah, Ruksamin yang baru tujuh bulan menjabat bupati bersama wakilnya Raup, memutuskan melaksanakan program revitalisasi. Diawali dengan gerakan pemusnahan. Seluruh tanaman dicabut hingga ke akar-akarnya kemudian dibakar.

Terkait penanaman kembali ia mengundang Menteri Pertanian Amran Sulaiman, untuk membuka penanaman bibit unggul di Desa Andumowu. Mentan diwakili Dirjen Perkebunan Bambang. Bambang sebelumnya adalah Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra.

Bagi Bambang, ini kunjungan kerja pertama ke Sultra setelah ia dilantik sebagai Dirjen Perkebunan pertengahan September 2016. Saat tiba di Andumowu, ia dikalungi bunga dan suguhan sebuah tarian tradisional yang biasa ditampilkan menyambut kunjungan pembesar.

Kegiatan penanaman perdana bibit kakao program revitalisasi didahului upacara peringatan HUT ke-45 Korps Pegawai Republik Indonesia tingkat Kabupaten Konawe Utara, 29 November 2016. Di situ bupati sebagai pemimpin upacara tidak menyampaikan sambutan sendiri tapi membacakan sambutan tertulis Presiden Joko Widodo. Saat memimpin upacara Bupati Ruksamin memakai topi caping dan sepatu bot. “Ini baru bupatinya petani”, seloroh Bambang.

 Wakil Bupati Konawe Utara Raup membisikkan sesuatu kepada Dirjen Perkebunan Bambang Bambang dalam suasana upacara penyambutan Dirjen di Desa Andumowu. Foto Yamin Indas

Tempat upacara berlokasi di tengah hamparan pohon kelapa. Lahan di sela-sela pohon kelapa tersebut telah diolah sehingga tampak siap tanam.

Ruksamin dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kemudian mengungkapkan rencana besarnya. “Kami akan membuka kebun jagung hibrida seluas 10.000 hektar pada musim tanam sekarang ini“, paparnya.

Lahan jagung seluas 10.000 haktar itu termasuk lahan-lahan di bawah pohon kelapa. Pola tumpang sari. Jadi selain tanaman pokok berupa kelapa dan kakao, lahan tersebut diisi pula tanaman semusim yang cepat mendatangan penghasilan bagi petani.

Menteri Pertanian Amran menyambut baik proyek Bupati Konawe Utara tersebut. Karena itu, Amran berjanji akan meminta Presiden Joko Widodo untuk datang membuka panen jagung hibrida di Konawe Utara,  jika proyek tersebut berhasil.

Artinya, sejarah bakal berulang di Konawe Utara. Gubernur Ir H Alala melakukan panen kakao hasil programnya sendiri (Gersamata). Kemudian 2-3 bulan ke depan ini Presiden Jokowi diharapkan akan berkunjung ke Sultra untuk membuka panen raya jagung hibrida.

Ruksamin optimistis proyeknya bakal sukses. Sebab dia sudah menyiapkan beberapa instrument pendukung. Untuk mempercepat pengolahan lahan siap tanam, bupati menggandeng Bank Sultra sebagai penyandang dana kredit bagi petani. Jaminannya bupati sendiri.

Bupati juga mengadakan kerja sama dengan pihak TNI dan Polri terkait pengawasan di lapangan. Aparat tersebut bertugas mendorong dan membantu petani agar mampu bekerja dengan lancar. “Di setiap desa ditempatkan satu Babinsa (Bintara Pembina Desa),  satu petugas Polri, dan satu PNS”, katanya.

Untuk urusan pemasaran, tidak ada masalah. Bupati telah menandatangani nota kesepahaman dengan pihak Bulog (Badan Urusan Logistik) sebagai pihak yang akan menampung (membeli) jagung rakyat tersebut.

Ruksamin sangat berharap, proyeknya itu berhasil dalam rangka penguatan ekonomi petani. Sebagian dari hasil jagung itu bisa digunakan untuk mendukung program revitalisasi kakao. Produktivitas dari varietas jagung hibrida yang akan ditanam, biasanya rata-rata 6 ton per hektar. Jauh di atas jagung lokal yang maksimal hanya 2 ton/ha.

Harga jagung pipilan jenis lokal saat ini Rp 3.000/kg. Sebuah kalkulasi menunjukkan, petani jagung hibrida bakal meraup uang sebesar Rp 18 juta kotor, untuk setiap hektar hanya dalam waktu tiga bulan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>