NUR ALAM MELEGENDA

OLEH YAMIN INDAS

     

Gubernur Nur Alam bersama Sekjen Kementerian Pekerjaan Umum dan Pwerumahan Rakyat Taufik Widjoyono (ketiga dari kiri) dalam suasana peresmian awal pembangunan jembatan Teluk Kendari

  MUNGKIN belum sekarang. Tetapi di suatu waktu nanti, Nur Alam akan dikenang sebagai pemimpin yang melegenda di Sulawesi Tenggara. Letnan Jenderal Purnawirawan (Marinir) Ali Sadikin malah masih sedang menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota telah dipandang melegenda oleh banyak orang. Dia pemimpin fenomenal, yang mampu mengubah kota kumuh (slum area) the big village Jakarta menjadi kota metropolitan yang berkilau cemerlang.

Nur Alam juga adalah gubernur.  Dia Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara yang saat ini (tahun 2016) terdiri atas 15 kabupaten dan dua kota otonom (dulu disebut kotamadya).

        Sama seperti Ali Sadikin, Nur Alam bukan seorang idiolog atau filosof. Tetapi Nur Alam seorang idealis yang ngotot mewujudkan sebuah gagasan untuk memaknai jabatan terhormat yang dipangkunya, agar lebih  mendorong peningkatan martabat kehidupan rakyat.

        Perihal pemimpin melegenda ini muncul di pikiran saya, saat menyaksikan ground breaking (pembangunan awal) jembatan Teluk Kendari, Jumat tanggal 19 gustus 2016.  Seremoni itu dihadiri antara lain Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Taufik Widjoyono mewakili Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan tentu saja Gubernur Sultra Nur Alam.

        Usia teknis proyek itu 100 tahun. Tentu saja jembatan Teluk Kendari akan terus dirawat selama dunia ini masih terkembang. Artinya, sarana koneksitas di ibukota Provinsi Sultra itu akan terus direguk manfaatnya oleh generasi demi generasi bangsa Indonesia.

        Jembatan sepanjang 1.346 meter itu melayang di atas Teluk Kendari. Kehadiran jembatan tersebut akan menambah daya tarik Kendari sebagai kota teluk. Akan terjadi perpaduan keindahan alam dan kecanggihan teknologi sebagai sumber daya buatan di teluk itu.

        Saya mencatat banyak proyek monumental yang telah diwujudkan Nur Alam sebagai Gubernur Sultra dua periode. Pelabuhan Kendari di Bungko Toko hanya salah satu di antaranya. Dermaga pelabuhan itu kini telah dioperasikan untuk menggantikan fungsi pelabuhan lama peninggalan era penjajahan Belanda.

        Secara historis pembangunan pelabuhan Bungko Toko bernilai agak spesifik. Hanya dua hari setelah dilantik sebagai gubernur di periode pertama, Nur Alam menyambut pagi hari dengan menyisir pantai teluk untuk mencari titik lokasi pelabuhan baru.  Ia didampingi Walikota Kendari Asrun. Bungku Toko kemudian dianggap lebih tepat karena berada di mulut alur masuk teluk dari Laut Banda. Sehingga kapal-kapal besar tidak sulit menjangkau dermaga pelabuhan.

        Jembatan di hulu Sungai Konawe Eha adalah proyek besar lain yang menguras perhatian Nur Alam. Pasalnya, masyarakat dua kabupaten di hulu sungai itu berpandangan, kalau bukan Nur Alam siapa lagi gubernur yang akan mau membangun koneksitas dua wilayah itu.

        Alhasil, pembangunan jembatan berbentang 237 meter dan lebar 7 meter bisa dilaksanakan dengan dana pinjaman dari PIP (Pusat Investasi Pemerintah) Kementerian Keuangan. APBD Sultra tak mungkin menyediakan dana Rp 40 miliar ketika itu. Sementara dana pemerintah pusat di era Presiden SBY juga sulit bagi daerah-daerah terutama  di kawasan timur.

        Kota Kendari yang sekarang mulai berkilau adalah buah dari lobi-lobi Nur Alam dengan para pengusaha kakap seperti bos Lippo Group James Riady. Nur Alam juga berlatar belakang pengusaha sehingga dia tidak alergi bergaul dengan para pemilik modal.

        Maka, di kota itu kini bermunculan supermarket (pasar swalayan) dan hotel-hotel berbintang. Dalam waktu sisa masa jabatan 1,5 tahun ke depan ini, akan dibangun pula stadion olahraga, superblock, gedung pencakar langit milik Bank Sultra (dulu Bank Pembangunan Daerah).

        Kurang dari 10 menit dari Kota Kendari dengan speedboat para pelancong bisa  menikmati kawasan wisata eksklusif Pulau Bokori, pulau berpasir putih di ambang masuk Teluk Kendari. Kawasan itu kelak akan dikelola pihak ketiga (investor) bekerja sama dengan Pemprov Sultra yang saat ini tengah menyiapkan infrastruktur dasar.

        Salah satu keunggulan Nur Alam sebagai Gubernur Sultra selama dua periode, ialah bahwa dia tidak terjebak pilihan-pilihan pembangunan bersifat jangka pendek. Sambil mengerjakan proyek-proyek jangka pendek dia terus mengembangkan ide dan kreativitasnya dalam rangka membangun fondasi pembangunan Sultra ke depan. Artinya, dia seorang visioner yang baik. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>