GUBERNUR NUR ALAM PIMPIN UPACARA DETIK-DETIK PROKLAMASI DI PULAU BOKORI

 OLEH YAMIN INDAS

 

       

GUBERNUR MEMIMPIN UPACARA DETIK-DETIK PROKLAMASI

GUBERNUR Sulawesi Tenggara Nur Alam memimpin upacara detik-detik Proklamasi dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 71 Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2016  di Pulau Bokori, sekitar 7 mil (1 = 1852 meter) dari pelabuhan Kendari.

        Banyak kalangan masyarakat memuji kebijakan Gubernur Nur Alam menempatkan lokasi upacara peringatan detik-detik Proklamasi di pulau yang ideal sebagai kawasan wisata itu. Dia dinilai konsisten dan integratif dalam melaksanakan program-rogram pembangunan di daerahnya.

Upacara dimulai sekitar pukul 09.50 Wita, saat Komandan Upacara Letkol Infantri Norman Syahreda melapor kepada Gubernur Nur Alam sebagai Inspektur Upacara. Norman Syahreda adalah alumnus Akademi Militer tahun 1999 dan kini menjabat Komandan Batalyon 725 Woroagi.

Pulau Bokori yang semula tak berpenghuni seolah tenggelam oleh ribuan pengunjung yang datang mengikuti upacara khidmad tersebut. Nuansa merah putih tentu saja mendominasi suasana  dan membuat perayaan HUT Kemerdekaan seolah mengalirkan energi semangat kejuangan,  patriotisme, nasionalisme.

Semangat itu terasa makin menyala ketika pasukan paskibraka yang dipimpin Kapten CPM M Harlan Pariyatman menggebrak memamerkan kemahiran baris berbaris dengan langkah tegap dan gerakan patah-patah selama prosesi ritual pengibaran Sang Merah Putih. Tak terkecuali anggota paskibraka putri.

Hanya saja, suasana khidmad itu sempat terganggu ketika kerekan Sang Merah Putih tersendat-sendat setelah mencapai lebih separuh tiang bendera. Lagu Kebangsaan pun sudah habis bait terakhirnya. Dengan sabar, anak-anak paskibraka mengerek terus hingga ke puncak tiang diiringi ilustrasi musik Indonesia Raya.

Upacara detik-detik Proklamasi dalam rangka HUT ke 71 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pulau Bokori dihadiri antara lain Wakil Gubernur Saleh Lasatta, Ny Tina Nur Alam yang juga anggota DPR-RI, Kapolda Sultra Brigjen (Pol) Agung Sabar Santoso, Danrem Haluoleo Kolonel Infantri Immanuel Ginting, Kajati Sultra Djoko Susilo, serta Ketua DPRD Sultra H Rahman Saleh SH MSi yang tampil membacakan teks Proklamasi.

  Para peserta upacara dari pegawai negeri sipil dan para pejabat struktural Pemprov Sultra mengalungkan scarf (syal) merah putih dan memakai kopiah yang juga bersimbol  merah putih. TNI-Polri dengan uniform masing-masing, sementara Nur Alam menggunakan seragam putih-putih  khas kepala daerah. Mengalungkan selempang Mahaputra, Nur Alam tampak lebih gagah karena di dadanya bertaburan tanda-tanda penghargaan dari berbagai pihak.

Pulau Bokori terasa sangat meriah. Burung-burung camar  mengurungkan niatnya terbang mencari ikan-ikan kecil yang melayang timbul di atas permukaan laut. Perahu bermotor dan kapal-kapal rakyat sarat dengan hiasan umbul-umbul merah putih. Armada tersebut berlabuh di sekeliling pulau, berkhidmad mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi di tengah pulau berpasir putih itu.

Sepoi-sepoi angin laut membuat daun dan pucuk-pucuk nyiur bergerak pelan. Udara terasa segar dan nyaman sehingga terik Matahari di awal musim kemarau bulan Agustus 2016 di Sultra, nyaris tak membuat gerah peserta upacara.

Menyelenggarakan upacara peringatan hari keramat di Pulau Bokori bukan pekerjaan ringan. Mulai dari pematangan lahan (pasir), pembuatan tanggul dan jembatan penghubung sampai mobilisasi ribuan orang peserta upacara, termasuk sekitar 700 personel pasukan TNI-Polri, serta pelajar mahasiswa dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

Kita mencatat, setidaknya ada dua pejabat yang sangat diandalkan Gubernur Nur Alam dalam kepanitiaan peringatan HUT ke 71 Kemerdekaan Republik Indonesia Tingkat Provinsi Sultra tahun 2016. Yaitu Asisten III Sekda Provinsi Sultra, Saemu Alwi, dan Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasina.

Tentu peran Ketua Umum Lukman Abunawas tetap dominan. Namun, urusan penataan dan pengendalian pekerjaan di lapangan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai arahan dan kebijakan Gubernur Nur Alam,  merupakan tugas Saemu Alwi. Tugas ini dilaksanakan dengan cermat terutama jika Gubernur Sultra tadi tak berada di tempat alias keluar daerah.

Adapun Hado, kandidat doctor Universitas Negeri Jakarta (UNJ)  bertanggung di bidang pengangkutan logistik dan peserta upacara. Semuanya berjalan lancer. Alat angkutan yang digunakan antara lain kapal tongkang dan sebuah kapal penumpang rute Kendari-Raha. Kapasitas sebuah kapal tongkang sekitar 1.200 orang. Selain itu setiap SKPD menyiapkan angkutan sendiri.

  Mengapa harus di Pulau Bokori? Biasanya upacara peringatan hari keramat itu dilakukan di alun-alun rumah jabatan gubernur, dan belakangan di lapangan upacara Kantor Gubernur Sultra. Namun, kali ini beralih ke pulau karena Gubernur Nur Alam sedang menggenjot pembangunan infrastuktur dan promosi Pulau Bokori dalam rangka pengembangannya  menjadi sebuah kawasan wisata.

Kebijakan menempatkan kegiatan berskala provinsi maupun event nasional adalah salah satu manifestasi dari upaya mempromosikan Pulau Bokori sebagai destinasi wisata di Sultra selain Wakatobi yang menawarkan wisata bawah laut. Kejurnas bola voli pantai telah digelar di Bokori akhir tahun 2015.

Pulau mungil itu teletak di ambang masuk Teluk Kendari, berhadapan dengan Laut Banda. Daratannya  tidak lebih dari 6 (enam)  hektar. Tetapi jika terjadi pasang surut, menurut Nur Alam, daratannya bisa mencapai 400 hektar. Karena itu, di pulau mungil itu sangat memungkinkan dibangun lapangan golf dan landasan pesawat terbang.

Daya tarik Pulau Bokori antara lain daratannya yang melulu pasir putih, perairannya yang jernih serta mendapatkan terpaan sinar Matahari sepanjang hari. Keadaan alam seperti itu sangat diminati turis dari negeri-negeri beriklim dingin.

Keunggulan Pulau Bokori (Bokori Island) adalah kedekatannya dengan ibukota provinsi. Dari desa-desa nelayan di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara, pulau wisata itu bisa dicapai kurang dari dari 10 menit dengan menggunakan alat angkutan setempat.

Kesungguhan Gubernur Nur Alam mengembangkan Pulau Bokori sebagai kawasan wisata dinilai banyak pihak sebagai sebuah terobosan yang akan berdampak pada peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat pesisir. Masyarakat tersebut dapat menyediakan jasa angkutan lokal, produksi perikanan, dan kebutuhan lainnya bagi para pengujung.

Didi Supriyanto, anggota DPR-RI periode 1999-2004 dari  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyebut peneyelenggaraan upacara detik-detik Proklamasi pada hakikatnya adalah launching Pulau Bokori sebagai kawasan wisata di Sulawesi Tenggara. Komentar ini tepat karena pasca detik-detik Proklamasi 17 Agustus 2016, diprediksi akan semakin banyak pengunjung,   baik  pelancong lokal maupun mancanegara. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>