IBUKOTA SULTRA PUNYA OBYEK WISATA MENAWAN

OLEH YAMIN INDAS

 

       

Pulau Bokori, Resort Wisata di Kendari, Ibukota Provinsi Sultra. Foto Internet/Zainal Koedoes

KENDARI, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara kini memiliki obyek wisata yang cukup menawan, yaitu sebuah pulau kecil di ambang masuk Teluk Kendari. Di penghujung masa jabatan periode kedua, Gubernur Sultra Nur Alam menata dan membangun infrastruktur dasar pulau ini untuk menciptakan kenyamanan para pelancong yang mengunjungi Pulau Bokori.

Sekujur  daratan pulau ini berhiaskan sabuk pasir putih, halus dan bersih. Sabuk ini tampak berkilauan diterpa sinar mentari. Kecuali pohonan bakau (mangrove) di pantai timurnya, pulau ini masih menyisakan pohon kelapa yang tegak berdiri di sana sini berbaur dengan pohonan liar lainnya.

Kondisi alamiah tersebut membuat Pulau Bokori indah dipandang mata. Keindahan itu dapat dinikmati baik dari laut, di darat pulau mungil ini , maupun dari udara. Kunjungan ke Kendari – kota yang terkenal dengan kerajinan perak bermutu tinggi dan disebut ‘Kendari Werek’ sejak zaman Belanda -  belumlah lengkap jika  tak menyempatkan diri untuk menikmati keindahan anugrah Allah Swt ini.

Pulau Bokori dapat dicapai hanya sekitar 7 menit dengan perahu motor (pepalimba) bermesin 30 PK dari Desa Mekar Jaya di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara. Desa ini memang tumbuh menjadi pangkalan motor pepalimba untuk melayani pengunjung pulau itu.

Peluang ekonomi rakyat tersebut terbuka setelah Gubernur Nur Alam memulai penataan dan pembangunan infrastruktur di pulau destinasi wisata ini. Hampir setiap hari armada motor pepalimba mengangkut pengunjung Pulau Bokori. Pada akhir pekan penumpang ke dan dari Pulau Bokori lebih banyak.

Jalur lainnya ke Pulau Bokori tentu saja melalui pelabuhan Kendari. Jarak lintasan ini sekitar 5 mil (1 mil = 1.852 meter). Dengan kekuatan mesin 100 PK seperti kapal motor dinas Gubernur Sultra, jarak itu ditempuh sekitar 15 menit.

Salah satu keunggulan destinasi wisata Pulau Bokori ialah kedekatannya dengan ibukota provinsi. Frekuensi penerbangan pesawat ke dan dari Bandara Haluoleo Kendari saat ini sekitar 8-10 kali dalam sehari. Dengan demikian, destinasi wisata ini sangat mudah dikunjungi turis domestik maupun asing dibanding ke obyek-obyek wisata lainnya di Sultra.

Gubernur Nur Alam terobsesi segera merampungkan pembangunan infrastruktur agar Pulau Bokori lebih cepat siap menerima kunjungan wisatawan. Senin sore 13 Juni 2016, Gubernur dan sejumlah staf terkait meninjau jalannya pembangunan infrastruktur. Dia berbuka puasa di sana dan dilanjutkan shalat magrib yang dipimpin Karo Kesra Kantor Gubernur Al Hafiz Mursyidin.

Gubernur Nur Alam (kanan) di Pulau Bokori, menunggu saat berbuka puasa di hari kesembilan bulan Ramadhan 1437 H, Senin sore 13 Juni 2016. Foto Yamin Indas

Selanjutnya Gubernur memimpin rapat di alam terbuka sambil menghadap ke layar infocus. “Ibadah puasa lebih tinggi nilai pahalanya jika ditunaikan dengan tetap mengoptimalkan  tugas-tugas pelayanan publik”,  katanya. Seorang penanggung jawab lapangan dari Dinas PU Sultra kemudian menjelaskan tahap demi tahap kegiatan yang telah, sedang, dan akan dikerjakan berdasarkan master plan.

Pekerjaan ke depan ini dan bersifat segera antara lain penyelesaian pembangunan pipa air bersih yang dialirkan dari daratan besar, penambahan jembatan pelabuhan, penataan hutan mangrove di pantai timur,  pembuatan pintu air untuk kolam permandian, dan pengadaan power plant untuk kebutuhan energi listrik.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut ditekankan oleh Guebernur Nur Alam, agar lebih banyak memanfaatkan bahan lokal. Tidak perlu harus selalu beton, bahan dari kayu lebih baik. Dengan demikian, penggunaan anggaran bisa lebih hemat. Tetapi soal kualitas termasuk estetika, tetap nomor satu.

Hutan mangrove disebut Gubernur sebagai contoh. Hutan itu memang sudah ada tetapi harus dirapikan. Jarak pohon ke pohon harus sama dengan cara penjarangan atau penanaman kembali. Bibir pantai pun harus dirapikan, tanpa mengubah bentuknya yang alami.

Hutan mangrove tersebut, kata Gubernur, berfungsi sebagai pelindung para turis asing yang suka berjemur di pantai dengan pakaian minim, bahkan telanjang sama sekali, seperti yang mereka lakukan di pantai Kuta, Bali.

Pantai timur Pulau Bokori sangat ideal sebagai tempat permandian sambil berjemur di hamparan pasir putih, halus, dan bersih. Pantai ini berhadapan dengan Laut Banda yang menawarkan keindahan tersendiri. Di tempat ini para turis bisa lebih leluasa bersantai. Privasi mereka terlindung hutan mangrove tadi.

Kepala Dinas Perhubungan Sultra Hado Hasima minta agar master plan pulau  wisata tersebut dibuat lebih mikro (detail). Hal itu akan memudahkan pihak-pihak terkait segera melakukan aksi sesuai bidang tugas masing-masing. Dia sangat  sependapat dengan arahan Gubernur untuk mengoptimalkan pembangunan Pulau Bokori dengan mengefisienkan anggaran yang ada.

        Gubernur Nur Alam menyatakan, pihaknya menyiapkan Pulau Bokori sebagai destinasi wisata dengan membangun infrastruktur dasar. Adapun sarana dan fasilitas lain termasuk tempat-tempat hiburan diserahkan kepada swasta untuk melakukan investasi.

Pada saatnya nanti, bila pembangunan infrastruktur Pulau Bokori telah rampung,  Gubernur Sultra akan menyerahkan pengelolaannya kepada sebuah lembaga otorita yang pimpinannya diangkat dengan surat keputusan Gubernur.  Para investor akan beroperasi di bawah koordinasi lembaga otorita itu. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>