ZAYAT KAIMOEDDIN DI PUNCAK KARIER

OLEH YAMIN INDAS

 

 

Drs Muhammad Zayat Kaimoeddin MSi

DI ERA teknologi canggih saat ini telah terkonfirmasi bahwa kematangan otak manusia terjadi ketika usia memasuki 40 tahun. Pepatah lama juga mengatakan, kehidupan dimulai pada usia 40 tahun. Islam telah lebih dulu membuktikan perihal itu sejak 15 abad silam. Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu pertama dan diangkat Allah Swt sebagai Nabi penutup pada usia 40 tahun. Subhanallah !

Putra mantan Gubernur Sultra dua periode mendiang  Drs H La Ode Kaimoeddin bernama Muhammad  Zayat  Kaimoeddin, kariernya juga mulai bersinar ketika  dia berusia 40 tahun. Saya ada feeling, anak muda ini kelak bakal mengikuti jejak ayahnya menduduki jabatan politik tertinggi di Sultra.

Aura itu mulai terbaca ketika dia menduduki jabatan eselon II di lingkup Pemerintah Provinsi Sultra. Jiwa kreatif dan inovatif membuat dia tak nyaman berkantor di gedung Sekretariat Korpri yang menempati bangunan kumuh karena dimakan usia di sebuah pojok kota lama.

Gubernur Nur Alam kemudian tidak keberatan ketika stafnya itu minta gedung bekas Kanwil Departemen Pekerjaan Umum di Kemaraya, untuk dijadikan kantor Sekretariat Korpri. Pertimbangannya, supaya lembaga ini kelihatan agak elite. Kaum PNS tidak minder jika datang berurusan di markasnya tersebut. Gedung tersebut berlantai  dua dan masih menyisakan kemegahan.

Tg Bagi ASN (Aparat Sipil Negara) di daerah, jabatan eselon II adalah puncak karier (tertinggi). Ada jabatan eselon I (I-B) yakni Sekretaris Daerah Provinsi. Tetapi kolom dan personelnya cuma satu. Untuk menduduki lowongan tunggal itu harus ada garis tangan, campur tangan, dan tanda tangan (meminjam istilah Gubernur Nur Alam),  mulai dari Gubernur hingga Presiden.

Dengan demikian, Zayat Kaimoeddin saat ini sebenarnya telah berada di puncak karier sebagai ASN di daerah. Bintang Zayat makin bersinar saat menduduki jabatan Kepala Biro Pemerintahan Kantor Gubernur Sultra. Sekitar 200 kepala keluarga penghuni Pecinan di kota lama digusur dalam rangka pembangunan Golden Gate Kendari alias Jemabatan Bahteramas di atas Teluk Kendari. Tak ada gejolak, dan sepi pula dari rumor pemotongan biaya ganti rugi.

Tanggung jawab lebih berat dipikulnya ketika Gubernur Nur Alam menunjuknya sebagai Pejabat Bupati Muna untuk mengisi kevakuman  sepeninggal Dokter Baharuddin yang telah berakhir masa jabatannya. Sambil menangani kemelut pilkada dalam arus politik Muna yang keras, Zayat terlihat kencang melaksanakan kegiatan pembangunan dan konsolidasi jajaran pemerintahan hingga unit terdepan: desa dan kelurahan.

  Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tersebut justru makin menunjukkan kematangan Zayat Kaimoeddin sebagai pemimpin.

Hingar bingar politik pilkada Muna membuatnya makin teruji kemampuannya menyelesaikan konflik pertikaian dua kelompok besar di Muna yang secara fisik dan moral terlibat dukung mendukung dalam politik tersebut. Dia membangun dan menjalin hubungan kerja sama dengan forum kemunikasi pimpinan daerah, terutama pimpinan Polri dan TNI setempat.

Ketika kariernya sedang ‘mateng-matengnya’ itu, Zayat ingin meneruskan pengabdiannya di Kota Kendari. Dia menyasar jabatan Walikota untuk periode 2017-2022. Dia menyadari, inilah masa yang tepat buat dirinya untuk menjajal kemampuan leadership yang telah dipraktikkan selama ini, melalui jabatan walikota.

Zayat alias Derik merintis kariernya sebagai pamongparaja dari bawah. Dia memulai dengan jabatan lurah di suatu kelurahan, kemudian menjabat  Camat Poasia. Jadi sebenarnya dia memiliki darah biru sebagai pewaris tanggungjawab pembangunan Kota Kendari.

Pengertian darah biru di sini tidak terkait keturunan melainkan pelanjut sebuah ideologi pembangunan kota yang ideal bagi kehidupan manusia di tengah arus modernisasi. Pembangunan kota berwawasan lingkungan dalam rangka ‘back to nature’, itulah tantangan yang hendak dijawab Derik Kaimoeddin. ‘Back to nature’ adalah kecenderungan masyarakat global, begitu menurut La Ode Kaimoeddin.

Kapasitas, kapabilitas, dan visi  Derik untuk memimpin Kota Kendari telah menjadi catatan parpol yang akan dijadikan kendaraan politiknya sebagai calon walikota. Sebab dia telah menyampaikan visi misinya melalui panelis panitia seleksi calon walikota yang diadakan parpol-parpol tadi.

Respons masyarakat terhadap pencalonan Derik sangat positif. Tanggapan itu terkonfirmasi antara lain pada acara deklarasi sebagai bakal calon walikota di arena MTQ Tingkat Nasional, beberapa waktu lalu. Ribuan masyarakat berbondong-bondong ke tempat itu.

Kuatnya dukungan terhadap Derik juga terindikasi melalui survei elektabilitas yang dilakukan Indikator Politik, lembaga survei politik di Jakarta yang dipimpin Burhanudin Muhtadi. Survei dilaksanakan bulan April dan dirilis hasilnya pertengahan bulan Mei 2016.

Salah satu variable hasil survei itu menyebutkan, seandainya  pilkada walikota Kendari dilaksanakan hari ini, maka Muh Zayat Kaimoeddin akan memenangi pemilihan walikota tersebut. Kesimpulan survei bulan April, memang menempatkan Derik pada posisi agak jauh di atas para kandidat lainnya.

Di beberapa billboard dan baliho yang terpasang di sudut-sudut kota tertulis ‘Muh Zayat Kaimoeddin, Solusi Semua Golongan agar Kendari Lebih Mau’.

Slogan ini dapat dimaknai bahwa jika terpilih Derik akan merangkul dan memanfaatkan semua golongan etnis yang ada di Kota Kendari secara seimbang dan proporsional untuk ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di ibukota Provinsi Sultra itu. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>