GOLDEN GATE KENDARI BAKAL JADI KENYATAAN

 

Desain Jembatan Bahteramas Teluk Kendari

REVOLUSI adalah menjebol dan membangun. Begitu hakikat revolusi menurut Bung Karno. Di Provinsi Sulawesi Tenggara jelas tidak ada revolusi. Tetapi falsafah Bung Karno itu terasa maknanya amat melukai sebagian warga sebuah wilayah hunian yang pernah menjadi pusat kota.

Hingga tahun 1970-an, denyut kehidupan kota Kendari hanya terpusat di kompleks hunian masyarakat Tionghoa (China) di dataran sempit berjarak sekitar 300 meter dari dermaga pelabuhan alam yang teduh di Teluk Kendari. Pelabuhan ini, menurut cerita warga, di era 1960-an sering dikunjungi kapal dagang berbobot mati 5.000 dwt.

Pusat kota tersebut menyediakan segala rupa kebutuhan masyarakat dari hampir seluruh pelosok jazirah daratan Sulawesi Tenggara, mulai jarum hingga alat angkutan. Sebaliknya, mereka juga menampung semua hasil bumi dan laut dari penduduk Jazirah tersebut. Kendari, dengan demikian merupakan kota dagang. Ia didukung pelabuhan di teluk yang lautnya tenang sepanjang masa.

Di sekitar Kampung China (Pecinan) tersebut – di kaki dan lereng bukit – bertebaran perumahan penduduk pribumi dari berbagai daerah di Sultra, bahkan dari seluruh Nusantara, seperti Bugis Makassar, Manado, Maluku, Jawa, Batak, dan Kalimantan. Ada pula perumahan pejabat dan kantor pemrintah. Letaknya yang strategis membuat kota ini menjadi pusat pemerintahan sejak era kewedanaan hingga provinsi. Sultra menjadi daerah otonom (provinsi) terhitung sejak 27 April 1964.

Setelah memimpin provinsi ini sebagai gubernur selama hampir 12 tahun, menjelang akhir masa jabatannya Eddy Sabara (pensiun dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI-AD) berkunjung ke Amerika Serikat. Salah satu kota yang dikunjungi beliau adalah San Fransisko, California, di tepi barat AS. San Fransisko terletak di teluk yang indah.

Teluk itu diakses dari Samudra Pasifik melalui sebuah alur agak sempit. Alur ini kemudian dibuatkan sebuah jembatan yang disebut Golden Gate San Fransisco. Terkesan dengan jembatan ini, sekembalinya dari Amerika, Eddy Sabara berceramah di depan pelajar dan mahasiswa di Kendari, bahwa suatu waktu juga Teluk Kendari dapat dibuatkan jembatan seperti Golden Gate San Fransisco.

Banyaklah pengalaman menarik yang disampaikan Eddy Sabara. Antara lain ia merasa bangga karena dalam suatu penerbangan lokal di AS, hanya dia satu-satunya penumpang orang Indonesia. Dalam hatinya berkata, ada juga anak Kendari yang naik-turun pesawat di negara maju itu. Namun, inti ceramah beliau ialah soal jembatan itu.

Gubernur Nur Alam menunjuk bangunan terakhir kota lama (pecinan) yang akan segera dirobohkan. Foto Yamin Indas

Puluhan tahun kemudian, muncul pemimpin Sultra yang lebih muda. Saat menjabat gubernur, Nur Alam dari Desa Konda, 25 km barat Kota Kendari, baru berusia 39 tahun. Ia menjabat gubernur Sultra dua periode. Periode kedua akan berakhir 18 Februari 2018.

Sejak di periode pertama, ia terobsesi mewujudkan mimpi Eddy Sabara tersebut. Dia masih bocah berumur 10 tahun saat mendiang Eddy Sabara berceramah menyampaikan mimpinya itu pada tahun 1977. Gubernur Nur Alam menyiapkan desain lalu diusulkan pembangunan jembatan itu ke Bappenas. Pemerintah China malah segera merespons usulan itu dan menawarkan pinjaman. Tetapi justru keterlibatan China membuat proyek ini tersendat.

Dalam penawaran kontrak diminta pembuatan jembatan darurat di sepanjang konstruksi inti. Sehingga biaya pembangunan jembatan Teluk Kendari bakal membengkak hampir dua kali lipat dari plafon pinjaman Rp 700 miliar.

Bukan hanya soal penawaran yang terlalu tinggi melampaui dana pinjaman. Segelintir warga kota lama tersebut membuat pengaduan ke Pemerintah China bahwa Gubernur Nur Alam akan melenyapkan situs China di Kota Kendari.

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Nur Alam lobi ke Pusat dan terakhir meyakinkan Presiden Joko Widodo tentang manfaat jembatan Teluk Kendari. Alhasil, Golden Gate itu telah selesai ditender, dan siap dikerjakan konstruksinya oleh konsorsium PT Nindya Kaya dan PT Pembangunan Perumahan dengan nilai kontrak Rp 729 miliar.

Kepala Biro Pemerintahan Kantor Gubernur Sultra Ali Akbar, eksekutor penggusuran pecinan di kota lama. Foto Yamin Indas

Seperti dikatakan Kepala Biro Pemerintahan Sekretariat Provinsi Sultra Ali Akbar, semua bangunan yang disebut situs China sudah rata dengan tanah. “Tinggal satu yang pemiliknya masih mencoba bertahan. Belakangan dia sudah melunak dan bersedia menerima ganti rugi”, tuturnya.

Golden Gate Kendari tak lama lagi menjadi kenyataan. Jembatan ini melayang di atas Teluk Kendari dengan tinggi dari permukaan laut teluk 25 Meter, dan bentangan sejauh 1.360 Meter, lebih pendek dari Golden Gate San Fransisco (2,7 Km). Selain untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur, jembatan itu akan menjadi ikon ibukota provinsi sebagai kota tujuan wisata.

Beribu bintang di langit hanya satu terang cahaya. Sejuta gagasan dan karya yang telah ditorehkan Nur Alam selama memimpin Sultra sebagai gubernur, satu di antaranya adalah Golden Gate Kendari yang diberi nama Jembatan Bahteramas Teluk Kendari.

Top of Form

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

Bagikan

Bottom of Form

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>