PROF MASIHU DAN MAHASISWA SULTRA MELESAT KE AS

 OLEH YAMIN INDAS

 

       

Gubernur Sultra Nur Alam dan Prof Laode Masihu Kamaluddin. Foto Yamin Indas

PADA suatu pagi yang cerah di era Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz sebagai Presiden dan Wakil Presiden, saya diajak NA (kini Gubernur Sultra dua periode) ke Istana. “Saya mau ketemu Pak Masihu”, katanya.

        Ajakan ke Istana adalah surprise buat saya. Sebab orang masuk Istana, pasca Soeharto, kendati sudah lebih longgar, biasanya harus membawa nama institusi tertentu dengan urusan mahapenting. Bukan perorangan, kayak model NA ini.  Keraguan ini saya diamkan saja. Saya mau lihat NA membuat kejutan, menerobos Istana dengan pakaian preman (biasa).

        Kami masuk melalui pintu ke arah Istana Wapres. Sebab Prof Masihu memang staf ahli Wapres Hamzah Haz.  Petugas keamanan tidak mencegat, tidak ada juga yang bertanya tujuan apa, mau ketemu siapa, apalagi memeriksa fisik seperti sekarang kalau kita mau naik pesawat, biar arloji dan sabuk celana disuruh buka. Langkah kami ke area Istana mulus, seperti memasuki kantor-kantor sipil biasa.

        Pertemuan kedua tokoh tidak lama. Terlihat mereka sangat akrab. Ketika NA sibuk sosialisasi, Prof Masihu sesekali juga menemui NA di Kendari. Dan pertemuan semakin sering setelah NA duduk di kursi Gubernur Sultra. NA mengalahkan petahana Gubernur Ali Mazi SH.

        Hubungan pribadi kedua tokoh  kemudian menjadi lebih bermakna bagi rakyat Sultra tatkala Prof Dr Laode Masihu Kamaluddin MSc MEng menjabat Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang (2009-2013). Gubernur Sultra dan Unissula  Semarang mengadakan kerja sama terkait upaya pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia Sultra.

        Untuk mewujudkan kerja sama itu maka lahirlah program Cerdas Sultraku. Rektor Unissula Prof Masihu Kamaluddin memberi semacam kuota bagi Gubernur Nur Alam untuk mengisi sampai 1.000 calon mahasiwa program S-1, S-2, dan S-3. Program ini disambut positif pemerintah kabupaten/kota. Para peserta disediakan beasiswa dari dana APBD masing-masing.

        Program ini masih berjalan sampai sekarang meski Prof Masihu tidak lagi menjabat Rektor Unissula Semarang.  Bagi peserta asal Sultra, program pendidikan di Unissila Semarang bersifat holistik, pendidikan agama dan umum. Artinya, alumni Unissila memiliki nilai tambah berupa pengetahuan agama Islam yang memadai secara akademis dan mahir pula mengaji.

        Beberapa malam lalu saya ketemu Prof Masihu di lobi hotel Plaza Inn Kendari. Kami bersalaman hangat. Belum lama ini saya lihat di media, Prof Masihu meninjau sebuah industri pembibitan (hatchery) teripang di sebuah tempat tak jauh dari Kota Kendari. “Itu semua kekayaan alam kita,” ujarnya menjawab klarifikasi saya.

        Selanjutnya dia menjelaskan sebuah informasi penting dan membanggakan, bukan saja bagi rakyat dan daerah Sultra tetapi juga bagi Indonesia dan dunia Islam umumnya. Tiga mahaiswa Unissula Semarang dalam beberapa hari mendatang ini akan berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti kompetisi robotik dalam ajang Trinity College Fire Fighter Home Robot Contest.

                “Ketiganya adalah putra Sultra dari Kolaka, Muna, dan Buton,” kata Prof Masihu menerangkan. Mereka adalah Faisal Aminuddin Aziz (22), La Ode Muhammad Idris (21), dan Ahmad Zuhri (21). Tim ini diketuai Faisal dan disebut Tim Robotik Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Unissula.

        Kompetisi yang akan berlangsung 1-3 April 2016 itu merupakan lomba robot pemadam api. Penilaian diukur dari kecepatan sebuah robot memadamkan api. Yaitu dengan cara menyemburkan air, atau  menghempaskan angin dengan tingkat risiko seminimal mungkin.

        Menurut Masihu Kamaluddin, robot yang akan dibawa berlomba ke AS adalah juara tingkat regional dan nasional. Artinya, robot-robot itu telah teruji kecepatannya memadamkam api. Sehingga di ajang internasional nanti  diharapkan dapat mengalahkan robot-robot buatan negara lain.

        Tim Unissula didampingi Wakil Rektor 3, Sarjuni, Dekan Fakultas Teknologi Industri Unissula Sri Artini, dan dosen pembimbing Bustanul Arifin. Seperti dikutip Masihu Kamaluddin,  Sri Artini mengatakan, Unissula merupakan universitas Islam pertama yang mewakili Indonesia ke ajang lomba teknologi tingkat dunia di Trinity College itu.

        Bagi Sultra, kebanggaan itu memiliki nilai tersendiri. Duet NA-Masihu dalam program Cerdas Sultraku telah membuahkan hasil berupa proses investasi sumber daya manusia, modal dasar pembangunan untuk meningkatkan daya saing daerah.

                Prestasi yang diukir mahasiswa Unissula Semarang dari Sultra itu membuktikan, potensi sdm di daerah ini jika disentuh dengan pendidikan yang baik, akan melahirkan kader-kader cerdas dan cekatan untuk berkompetisi di tengah persaingan global. Anak-anak mahasiswa hasil rekrutmen di era Rektor Masihu Kamaluddin itu, kini ibarat anak panah yang melesat dari busurnya kemudian menancap ke ajang persaingan global di Trinity College, untuk menjajal kemampuan di bidang teknologi robot.

                Kontribusi Prof Masihu bagi pembangunan Sultra, teristimewa di bidang pengembangan sdm, potensi maritim dan wilayah pesisir, masih sangat dibutuhkan. Saya baca di media, beliau sekarang menjabat Rektor Universitas Lakidende di Unahaa. Ini berarti tokoh ini makin dekat dengan kita, masyarakatnya sendiri.

                Penyandang gelar Doctoral of Philosophy dari Iowa State University Amerika Serikat, ini  lebih banyak menghabiskan waktu pengabdiannya di Jakarta, baik sebagai politisi (anggota DPR/MPR),  akademisi, maupun sebagai pakar kelautan.

Konon, dalam suatu forum resmi dia pernah “baku ambil” dengan Prof BJ Habibie, Wapres RI. Masihu menyampaikan protes karena Habibie lebih memperhatikan teknologi dirgantara dan nyaris tak melirik bidang kelautan yang sangat menjanjikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

        Sejak “insidien” itu Habibie memberi perhatian dan membuka diri untuk Masihu. Bahkan, anak nelayan kelahiran Kaledupa, 17 Agustus 1949, ini kemudian direkrut sebagai salah satu staf ahli Wapres. Jadi kariernya di Istana dimulai pada era Wapres Habibie hingga Wapres Hamzah Haz di era reformasi. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>