BAU-BAU MENJADI PUSAT PERHATIAN

 

OLEH YAMIN INDAS

 

Pai Bau-Baunggung MTQ Provinsi Sultra XXVI Tahun 2016 di Bau-Bau. Foto Internet/Ramli Akhmad

MUSABAQAH Tilawatil Qur’an tingkat provinsi yang  digelar sekali dalam dua tahun, merupakan pertunjukan hiburan bernuansa spiritual, selain sarat dengan makna-makna religius sebagaimana tujuan pelaksanaan MTQ tingkat nasional ketika diselenggarakan pertama kali di Makassar tahun 1968 dan dibuka Presiden Soeharto.

Kota Bau-Bau menjadi tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Sultra XXVI Tahun 2016. MTQ ini dibuka Sabtu malam dan diikuti kontingen dari 17 kabupaten/kota minus Kabupaten Kolaka. Dalam sambutannya Gubernur Nur Alam menjelaskan, Kolaka absen karena diberi tanggung jawab menjadi tuan rumah perayaan HUT KE-52 Provinsi Sultra. Kolaka kini fokus melakukan persiapan untuk suksesnya perayaan HUT Sultra tersebut.

MTQ XXVI digelar di Kotamara, Bau-Bau, sebuah pantai eksotik hasil urukan di era Walikota Amirul Tamim. Untuk mempercantik kawasan tersebut sebagai tujuan wisata,  di situ telah dibangun dua rumah susun lima lantai, kolam, taman dan fasilitas lain seperti gedung Islamic Centre. Panggung atau arena MTQ dibangun di kawasan ini di sebuah pelataran nan luas. Panggung MTQ berbentuk masjid  berhiaskan kaligrafi dalam sapuan warna yang didominasi hijau.

Panitia mestinya memanfaatkan saja gedung Islamic Centre sebagai arena MTQ XXVI Provinsi Sultra Tahun 2016. Sehingga dana yang ada praktis bisa digunakan untuk menyelesaikan dan menyempurnakan pembangunan fisik gedung  Islamic Centre itu.

Masalahnya, panggung sekarang ini  akan digunakan untuk apa pasca MTQ. Namun, penempatan arena MTQ di Kotamara dinilai sudah bagus dengan harapan Pemerintah Kota Bau-Bau akan terus memelihara dan mengembangkan kawasan wisata ini.

Gubernur Nur Alam sempat menghangatkan suasana, saat  ia akan berpidato dan sekaligus membuka MTQ. Kebekuan  memang agak terasa di malam  itu.

Begitu menginjak lantai panggung, gubernur berlari kecil ke arah podium berjarak 10-15 meter. Tangan kanannya memegang naskah sambutan. Hadirin pun memberinya  aplaus, bertepuk tangan,  sehingga situasi  menjadi riuh rendah. Terdengar suit-suitan dari beberapa sudut.

Gubernur membuka MTQ Provindi Sultra XXVI sekitar pukul 21.10 Wita. Sebelumnya dia bersama Wakil Gubernur HM Saleh Lasata menerima defile kafilah dari 16 kabupaten/kota di panggung kehormatan. Tidak kurang dari 4.000 personel berbaris membawa bendera dan lambang daerah masing-masing, bergerak melewati panggung kehormatan dalam suasana temaram karena cahaya lampu listrik mungkin sengaja diredupkan. Akibat minimnya cahaya lampu listrik,  penonton tidak dapat menikmati keindahan barisan, atribut, dan warna warni busana maupun fisik peserta defile.

Suasana remang-remang kembali terasa saat ditampilkan tari kolosal berjudul “Sujud di Atas Benteng” yang melibatkan 500 pelajar Bau-Bau. Tari tersebut merupakan atraksi penutup seremoni pembukaan MTQ XXVI Bau-Bau. Cahaya redup ditambah malam yang semakin larut membuat penonton tidak betah lagi duduk berlama-lama.

Dalam sambutannya Gubernur Nur Alam menyatakan, misi MTQ sebenarnya sarat dengan nilai-nilai kemanfaatan dan kemaslahatan tidak saja bagi umat Islam tetapi juga bagi segenap elemen masyarakat, termasuk umat lintas agama.

Bagi umat Islam, lanjut gubernur, tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada tuntunan Al Qur’an. Ini seiring dengan kebijakan Pemerintah yang telah dicanangkan Presiden yaitu gerakan Revolusi Mental. Tujuannya untuk menegaskan jati diri ke-Indonesiaan kita.

Tidak lupa gubernur mengingatkan gejala kerusakan moral dalam masyarakat seperti penyalahgunaan narkoba. Bahkan belakangan ini muncul lagi gejala lebih parah yaitu apa yang disebut LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Perilaku tersebut pernah muncul di zaman Nabi Luth, lalu Allah SWT memusnahkan umat yang telah melampaui batas kewajaran itu dengan bencana yang sangat mengerikan.

Bau-Bau sebagai kota wisata praktis menjadi pusat perhatian masyarakat Sultra selama penyelenggaraan MTQ. Sebagian mereka mengadakan perjalanan ke kota Keraton Buton untuk menyaksikan secara langsung event keagamaan tersebut. Sebagian lagi cukup memantau melalui media, termasuk media sosial fb.

Kapal-kapal penumpang rute Kendari-Raha-Baubau tentu diuntungkan kegiatan MTQ tingkat provinsi di Bau-Bau. Nyaris tak ada seat tak terjual setiap kali pemberangkatan ke dan dari Bau-Bau. Para penumpang juga menikmati perjalanan laut ini karena Laut Banda di rute pelayaran tersebut pada bulan-bulan ini, memang agak tenang. Ombak dan gelombang di jalur ini baru akan kembali bergejolak pada periode Mei – September.

Perjalanan nyaman tersebut dimanfaatkan para penumpang untuk santai dan tiduran di kapal. Di kapal Express Bahari 6E yang kami tumpangi, terlihat beberapa pejabat kabupaten, antara lain Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman, Bupati Muna Barat LM Rajiun Tumada, pelaksana Sekda Buton Utara Hado Hasina, dan lain-lain.

Tidak ketinggalan juga Karo Humas Pemprov Sultra Drs H Kusnadi MSi bersama beberapa wartawan dalam rangka menyertai kunjungan kerja Gubernur Nur Alam ke Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton Selatan.

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>