DUKUNGAN BUAT DERIK KAIMOEDDIN MAKIN KUAT

 OLEH YAMIN INDAS

       

Derik Kaimoeddin (kanan) dan Abdul Kadir Ole. Foto Yamin Indas

PEMBACA, saya mohon maaf karena tulisan saya tentang Derik Kaimoeddin sebagai calon Walikota Kendari selama ini bisa dinilai cenderung tendensius. Penilaian itu saya sikapi dengan lapang dada. Sepintas lalu penilaian itu mungkin benar. Sebab, faktanya hanya peluang dan seabrek kebajikan Derik yang diangkat. Bakal calon yang lain, bagaimana? Bukankah prinsip suatu produk jurnalistik itu harus adil dan obyektif?

        Dari pertanyaan itu saya ingin menyampaikan sebuah pertanggungan jawab. Pembaca, selama ini yang membuka ruang dan komunikasi secara pribadi dengan saya hanyalah Derik. Ini satu hal.  Hal lain adalah hubungan saya secara pribadi dengan mendiang ayahnya, Drs Haji La Ode Muhammad Kaimoeddin, cukup dekat. Kami bersahabat sejak beliau menjabat sebagai pelaksana Bupati Muna sekitar tahun 1974.

        Ketika Jenderal Eddy Sabara sebagai Gubernur Sultra memberikan kepercayaan itu, Kaimoeddin telah mengorbit ke tingkat nasional sebagai kader pemimpin. Dia anggota DPR-RI hasil Pemilu 1971 dari Dapil Sultra mewakili unsur birokrat, salah satu pilar kekuatan Golkar, sebuah partai yang menjadi mesin kekuasaan Orde Baru. Saat itu Kaimoeddin  menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan (F-KP) DPR-RI. F-KP inilah unjung tombak legitimasi kekuasaan Presiden Soeharto.

        Saya tertarik akan pribadi almarhum. Kami berhasil membangun hubungan kekerabatan fungsional. Kami memiliki visi yang sama tentang pembangunan daerah Sultra. Kami sering terlibat diskusi secara pribadi di mana dan kapan pun. Sering di pedalaman daerah terpencil, jika kebetulan bersamaan dalam penugasan di daerah itu (Saya wartawan mandiri. Sebagai wartawan Kompas, saya di-back-up perusahaan untuk bekerja maksimal, di mana dan kapan pun).

         Hubungan menjadi lebih dinamis karena beliau tidak antikritik. Dia hargai profesi saya sebagai wartwan. Suatu waktu saya menulis features – hasil investigative reporting – dan dimuat di halaman pertama Kompas. Isinya tentang keluhan rakyat Muna yang merasa sebagai pekerja romusya di zaman Jepang.

        Warga desa usia kerja digiring mengolah batu kapur di sekitar desa mereka dan hasilnya dijual kepada sebuah perusahaan joint venture yang membuka perkebunan kapas di Kendari Selatan (kini Konawe Selatan). Harga kapur tersebut diterima utuh. Tetapi karena pekerjaan itu bukan atas kemauan sendiri, ya warga merasa dipaksa. Tulisan itu tentu saja menarik dalam situasi kehidupan pers yang tidak bebas akibat tekanan rezim Orde Baru yang antikritik.

        Saya pikir, persahabatan kami sudah pecah. Ternyata, sikap beliau tidak berubah. Bahkan, tak lama setelah itu kami terlibat main domino di kediamannya, rumah jabatan Bupati Muna di Raha. Saat itu saya sedang menyertai kunjungan kerja Gubernur Drs H Abdullah Silondae ke daerah-daerah  kepulauan, termasuk Kabupaten Muna.

        Sebagai kader politik, karier Kaimoeddin melesat hingga ke jabatan puncak di level daerah. Dia menjabat Gubernur Sultra dua periode. Di awal masa jabatan periode pertama, Kaimoeddin mengukir sejarah prestasi. Dengan dana minim dari APBD Provinsi, dia membangun ruas-ruas jalan baru di kota Kendari sekaligus mengatasi permasalahan kumuh (slum area).

        Di masa itu Kendari dikenal sebagai kota yang hanya memiliki satu ruas jalan raya dimulai dari mulut pelabuhan laut hingga ujung landasan Bandara Wolter Robert Monginsidi (kini Bandara Haluoleo). Permukiman warga kota menumpuk di sepanjang jalan tersebut hingga di bilangan Lepo-Lepo, km-20 dari pelabuhan laut.

        Minimnya anggaran bukan masalah pokok bagi pemimpin kreatif dan inovatif seperti Kaimoeddin. Dia melibatkan TNI-Polri, PNS, masyarakat pengusaha, dan warga lain dalam melaksanakan penataan kota. Tidak sampai dua tahun, Kendari yang semula berstatus kota administratif ditingkatkan menjadi kotamadya (otonom). Konsep pembangunan Kota Kendari yang disebutnya ‘Membangun Kota Dalam Taman’ diserahkan kepada Walikota pertama waktu itu Masyhur Masie Abunawas.

        Mengapa Kota Dalam Taman? Dia mengatakan, untuk menjawab kecenderungan global, back to nature. Masyarakat dunia sudah lelah akibat pencemaran industri dan ancaman kerusakan ozon, maka mereka berusaha kembali kepada alam.

        Ketika ruas-ruas jalan sudah merambat ke segenap relung-relung kota, giliran investor memanfaatkan infrastruktur tersebut. Mereka membangun rumah toko (ruko) dan segera diisi pengusaha eceran mulai sembako hingga barang strategis. Kawasan-kawasan tersebut kini telah berkembang menjadi pusat-pusat bisnis. Bersamaan dengan itu muncul pula kegiatan investasi di sektor industri perumahan (real estate) dan perhotelan. Lalu supermarket di era Gubernur Nur Alam

        Sebagai pionir dalam pembangunan Kota Kendari, dalam tulisan-tulisan saya terdahulu, kerap kali  saya menyebut Pak Kaimoeddin sebagai arsitek pembangunan ibu kota Provinsi Sultra tersebut.

        Dalam menjalankan perannya sebagai arsitek, ada dua sosok yang juga saya sebut darah biru pembangunan Kota Kendari. Yaitu Walikota Kendari sekarang Dr Ir H Asrun M Eng. Sc, dan Pj Bupati Muna saat ini Drs Muhammad Zayat Kaimoeddin MSi.

Asrun yang ketika itu sebagai kader Kementerian Pekerjaan Umum, menjadi tangan kanan Gubernur Kaimoeddin dalam menggerakkan roda pembangunan Kota Kendari. Adapun Muhammad Zayat, putra kedua hasil pernikahan La Ode Kaimoeddin dengan gadis keturunan bangsawan dari Bone, Andi Norma, ketika itu juga mulai meniti kariernya sebagai kader birokrasi.

Dia memulai dengan jabatan lurah di suatu kelurahan, kemudian menjabat Camat Poasia. Jadi pengertian darah biru di sini tidak terkait keturunan melainkan pelanjut sebuah ideologi kesejahteraan yang dijabarkan dalam pembangunan kota berwawasan lingkungan dengan tagline back to nature.

Kembali ke soal penulisan Derik. Sebagai wartawan biasa, hampir sepanjang karier saya di Kompas selalu hanya bisa menulis bentuk features. Ada sebuah acuan yang secara umum menjadi tuntunan moral dan etik dalam penulisan features. Yaitu definisi begini: Features adalah artikel kreatif yang kadang-kadang subyektif. Tujuannya untuk membuat senang atau menghibur pembaca yang diasumsikan senantasa disuguhi dengan berita-berita keras (hard newes).

Unsur informasi dalam features tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek dalam suatu kehidupan tetap menjadi konten utama dan berdasarkan fakta. Artinya, tulisan itu tidak bohong alias ngawur.

Fakta adalah landasan pokok bagi saya jika menulis tentang proses pergantian kepemimpinan lokal di wilayah tugas saya. Baik gubernur maupun bupati atau walikota. Berdasarkan fakta di lapangan, saya membuat analisis secara subyektif tentunya, maka muncullah ungkapan-ungkapan subyektivitas dalam tulisan itu, kemudian (mungkin) dinilai tendensius.

Instrumen seperti itu yang saya gunakan ketika menulis tentang peluang Kaimoeddin menjadi Gubernur Sultra, Nur Alam, dan terakhir Abu Hasan di Kabupaten Buton Utara, dalam event pilkada serentak 9 Desember 2015. Sepulang dari lapangan bulan Oktober 2015, saya menulis, kecuali garis tangan menentukan lain (takdir dari Allah swt), tetapi secara faktual Abu Hasan berpeluang besar menjadi Bupati Buton Utara.

Perihal Derik, terlalu dini kita membuat prediksi. Sebab saat ini masih dalam tahap sosialisasi. Itu pun dia agak terlambat dibanding calon pesaingnya yang telah lebih dulu “mencuri”  start. Namun, melihat respons masyarakat, Derik adalah tokoh yang tampaknya siap tarung dalam kontestasi pilkada di Kendari 2017.

Dalam suatu pertemuan silaturahim bersama sejumlah akademisi di Hotel Plaza Inn, Rabu malam (16 Maret 2016), Muh Zayat Kaimoeddin mengungkapkan, sambutan hangat masyarakat warga kota terbangun melalui sentuhan hati. Di sejumlah acara silaturahim lintas etnis, acara itu diadakan warga kota semata-mata karena ikhlas dan dorongan moril untuk mendukungnya sebagai calon Walikota Kendari periode 2017-2022.

“Ketika kita hendak mengganti ala kadarnya untuk suguhan kopi dan pisang goreng, mereka menolak. Ini yang saya artikan dukungan karena sentuhan hati,” kata Derik seraya menambahkan, sejumlah baliho dan billboard yang terpasang di sejumlah tempat dalam kota berasal dari bantuan sukarela teman-teman.

Doktor Bachtiar, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Haluoleo juga menyatakan, dukungan moriil buat Derik juga menguat dari kampus, baik mahasiswa maupun staf pengajar Unhalu. Yani Balaka juga akademisi Unhalu menyatakan dukungan kepada Derik. Dia berharap, jika terpilih kelak Derik harus melanjutkan pembangunan infrastruktur yang telah dirintis mendiang ayahnya, La Ode Kaimoeddin. Sebab tersedianya infrastruktur akan mempercepat berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan baru.

Brigjen TNI (Purn) HM Saleh Lasata ikut hadir dalam pertemuan slaturahim berama para akademisi. Wakil Gubernur Sultra tersebut menjadi Ketua Tim Sembilan yang menjaring kader komunitas Muna di Kendari untuk didorong sebagai calon Walikota Kendari. “Derik layak dan bersedia dicalonkan,” katanya.

                   ———————————–

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>