JOKOWI REALISASI JANJI, RAKYAT NIKMATI KEMUDAHAN

OLEH YAMIN INDAS

      

Menhub Ignatius dan Gubernur Nur Alam menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum meresmikan dermaga dan kapal feri di Amolengu, Sabtu petang (20 Februari w2016). Foto Yamin Indas

Kapal feri ini dioperasikan melayani lintas penyeberangan Amolengu-Labuan (8 mil)di Sulawesi Tenggara. .Foto Yamin Indas

   KONEKTIVITAS antarpulau dan antardaerah mulai terwujud tahap demi tahap di kawasan timur Indonesia. Ihwal itu antara lain ditandai peresmian dermaga pelabuhan feri di Amolengu dan Labuan oleh Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, Sabtu (20 Februari 2016). Dengan kehadiran infrastruktur transportasi tersebut maka ketersediaan sarana kemudahan transportasi telah semakin meluas jangkauannya untuk dapat dinikmati secara luas pula oleh masyarakat.

        Perkembangan tersebut disebut Menhub Ignatius Jonan sebagai perwujudan komitmen pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, bahwa hubungan konektivitas pulau-pulau dan daerah di kawasan timur akan semakin ditingkatkan. Tujuannya mendorong percepatan pembangunan sosial dan ekonomi. Dalam kegiatan sehari-hari, perihal itu akan terlihat pada terjadinya kelancaran pergerakan arus barang dan orang.

        Kedua titik dermaga pelabuhan tadi menghubungan daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara di Kabupaten Konawe Selatan dengan daratan Pulau Buton bagian utara. Untuk lintas feri antara Amolengu (Konawe Selatan) dan Labuan (Buton) sejauh 8 mil telah disediakan sebah kapal motor feri yang juga ikut diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Ignatius Jonan didampingi Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam.

        Paling kurang ada dua kabupaten yang penduduknya terbantu kehidupannya oleh kehadiran dermaga dan kapal feri tersebut. Yaitu Konawe Selatan dan Buton Utara. Buton Utara sendiri  kini sudah dengan sangat mudah mengorbit ke pusaran dinamika pusat pemerintahan provinsi di Kota Kendari. Selama ini hubungan ke dan dari Buton Utara dilakukan melalui laut yang penuh risiko pada musim ombak (angin timur).

Tidak heran jika Bupati Buton Utara, Abu Hasan, tak putus-putusnya mengembangkan senyum di wajahnya sebagai ungkapan sukacita atas kehadiran sarana dan prasarana perhubungan  yang membebaskan daerahnya dari kesulitan transportasi. Abu sendiri baru tiga hari sebelumnya dilantik sebagai bupati oleh Gubernur Nur Alam, hasil pilkada serentak  Desember 2015.

        Sambil menebar pandangannya ke warga masyarakat yang memadati  lokasi peresmian dermaga pelabuhan feri, Ignatius mengatakan, gubernurnya ini cerdas, pintar ngomong. Sepanjang perjalanan tadi, beliau menunjukkan masih kurangnya rambu lalu lintas sebagai penuntun keselamatan masyarakat pengguna jalan. “OK, kita akan anggarkan pengadaan rambu bagi semua atau sebagian besar ruas jalan di Sultra melalui APBN Perubahan tahun ini,” ujarnya. Menurut Nur Alam, selama 8 tahun terakhir ini dia telah membangun, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas jalan di Sulawesi Tenggara sepanjang 2.200 kilometer.

        Menhub menggunakan pesawat khusus dari Jakarta ke Bandara Haluoleo di Kendari. Dari sini, dia bersama Gubernur Nur Alam ke Amolengu dengan  naik mobil sejauh kurang lebih 90 Km.   Jadi sejauh itulah jarak Kota Kendari dengan pelabuhan baru tersebut.

        Ruas jalan tersebut telah beraspal mulus sehingga waktu tempuh lebih cepat, hanya kurang lebih dua jam. Menteri dan gubernur tiba di Amolengu menjelang pukul 17.00 Wita.  Alam pun bersahabat. Meski di sana sini kabut tebal menggantung rendah, air hujan tak mengucur. Suasana peresmian di petang itu terasa hangat. Rakyat terlihat gembira menyambut kehadiran infrastruktur transportasi di daerah mereka.

        Sebagai wilayah yang terdiri atas pulau-pulau dan pesisir, Sulawesi Tenggara memang membutuhkan banyak dermaga pelabuhan feri. Termasuk yang diresmikan Menhub Ignatius, tercatat sekitar 9 pasang pelabuhan feri yang beroperasi: Kolaka-Bajoe, Lasusua-Siwa, Tondasi-Bantaeng, Torobulu-Tampo, Wara-Baubau, Mawasangka-Dongkala, Lasalimu-Wanci, Kendari-Wawonii, dan Amolengu-Labuan. Saat ini masih ada satu lintas feri lagi yang menunggu giliran untuk dibuatkan dermaga pelabuhan yaitu Pising-Larete.

        Pising terletak di pesisir utara Pulau Kabaena, sedangkan Larete di daratan besar jazirah  Sulawesi Tenggara. Lintas feri yang masih blank itu termasuk wilayah administrasi Kabupaten Bombana. Selama ini konektivitas Kabaena dengan daratan besar dilayani kapal feri rute Mawasangka-Dongkala, 2 kali seminggu

        Soal pendangkalan Teluk Kendari oleh Nur Alam, juga dibicarakan dengan Menhub.  Pendangkalan tersebut bakal menyulitkan kapal-kapal dagang dan penumpang memasuki alur pelabuhan di teluk itu. Masalah ini pun direspons oleh Menhub dengan mengatakan, pendangkalan pelabuhan  merupakan kewajiban pemerintah untuk mengatasinya melalui program pengerukan.

        Keberadaan 5 bandar udara (bandara)  di Sulawesi Tenggara juga menarik perhatian Menteri Ignatius. Ia  tampak senang karena ke-5 bandara tersebut dioperasikan dan berfungsi dengan baik. Semuanya sudah dikunjungi kecuali Bandara Sugimanuru di Muna. Menteri pun berjanji akan segera meninjua bandara itu. Ke-5 bandara di Sultra adalah Haluoleo (Kendari), Tangketada (Kolaka), Betoambari (Bau-Bau), Matahora (Wakatobi), dan Sugimanuru.

        Sebaliknya, Menteri merasa prihatin karena lebih 50 bandara di Papua, hanya belasan yang berfungsi dan dioperasikan. Masalah tersebut menjadi tantangan pemerintah karena transportasi di dua provinsi paling timur itu lebih mengandalkan transportasi udara. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>