DERIK KAIMOEDDIN MENUJU KURSI WALIKOTA

OLEH YAMIN INDAS

DRS MUHAMMAD ZAYAT KAIMOEDDIN MSI BERSAMA ISTRI ANDI FITRIYANTI

DERIK (46) adalah pribadi yang hangat. Derik alias Muhamacmad Zayat Kamoeddin akan memberi warna politik lokal dalam proses pencalonan dan pemilihan Walikota Kendari awal tahun depan. Dia akan ikut berkompetisi dalam pilkada tersebut.

Keputusannya itu dikemukakan di hadapan belasan teman-temannya dari berbagai komunitas dan profesi di Jl Dahlia, Kendari, Rabu (3 Februari 2016). Itu rumah ibundanya, Hj Norma Kaimoeddin, rumah peninggalan mendiang ayahnya Drs H La Ode Muhammad Kaimoeddin, mantan Gubernur Sultra dua periode.

Pertemuan kekeluargaan itu masih bersifat pradeklarasi. Sebab menurut Derik, deklarasi pencalonan dirinya sebagai kandidat Walikota Kendari, dijadwalkan akhir Februari atau awal bulan Maret mendatang. Acara itu akan ditandai dengan pembukaan selubung baliho di suatu tempat di Kota Kendari.

Ketika niatnya itu diungkapkan, semua yang hadir menyambut hangat. Tepukan tangan kemudian menggelegar. Pasalnya, sikap dan kesiapan Derik untuk maju sebagai calon Walikota Kendari telah ditunggu-tunggu masyarakat ibu kota Provinsi Sultra. Lebih-lebih setelah sejumlah kandidat lain “mencuri” start memasang baliho mereka di seantero kota.
“Saya siap untuk ikut berkompetisi secara sehat,” ujarnya.

Ia mengaku agak terlambat merespons aspirasi masyarakat karena perhatiannya masih terfokus pada kegiatan sehari-hari sebagai Penjabat Bupati Muna. Tugas tambahan yang menuntut perhatian tinggi adalah memfasilitasi penyelenggaraan Pilkada serentak.

Ihwal kedudukan dan tanggungjawab yang diemban Derik Kaimoeddin saat ini sebagai Pj Bupati Muna menunjukkan bahwa tokoh muda ini makin kaya pengalaman sebagai seorang pemimpin. Artinya, jika memang rakyat Kota Kendari kelak memilihnya menjadi walikota, maka dia akan melaksanakan amanah itu dengan modal pengalaman dan kematangan yang telah teruji. Dia pasti tidak akan pernah terjebak kebijakan bersifat coba-coba (eksperimentatf).

Perjalanan karier Derik sebagai seorang kader birokrat sudah cukup memadai, kendati usianya masih relatif muda. Setelah menjadi lurah dan camat di awal kariernya, Derik kemudian bergelut dengan tugas-tugas pemerintahan yang menuntut kemampuan lobi dan diplomasi, yaitu ketika menjabat sebagai Kepala Kantor Penghubung Pemprov Sultra di Jakarta, kemudian berlanjut sebagai Kepala Biro Pemerintahan Kantor Gubernur Sultra di Kendari.

Di dua pos ini Derik harus mampu mewakili sosok Gubernur Sultra ketika berhadapan dengan para pejabat di Kementerian Dalam Negeri maupun Sekretariat Negara.

Pengalaman lobi dan diplomasi tersebut justru memberi bobot dan energi kepemimpinan ketika kemudian Derik diberi kepercayaan menjadi Pj Bupati Muna. Dan tentu pengalaman sarat makna itu akan sangat efektif dan berdayaguna jika rakyat kelak memberinya amanah sebagai Walikota Kendari.

Derik Kaimoeddin menyatakan sangat mengapresiasi sinyal-sinyal dukungan masyarakat Kota Kendari kepada dirinya. Isyarat itulah yang mendorongnya segera mengambil keputusan, tanpa ragu sedikit pun. Menurut Derik, masyarakat Kota Kendari adalah Indonesia mini, heterogen. “Semua akan diberi kesempatan yang seimbang untuk berkontribusi dalam membangun dan memajukan Kota Kendari,” katanya.

Salah satu peserta pradeklarasi yang mengaku dari komunitas masyarakat Toraja di Kota Kendari dengan lantang menyatakan, dukungan luas masyarakat untuk Derik tidak diragukan. Alasannya: “Karena Kota Kendari tidak akan maju seperti sekarang ini kalau bukan jasa dan hasil kerja keras Pak Kaimoeddin”.

Sejarah memang mencatat bahwa mendiang La Ode Kaimoeddin adalah arsitek pembangunan Kota Kendari. Sebagai Gubernur Sultra dia menggunakan kekuasaannya untuk menggerakaan semua potensi bagi penataan fisik ibu kota provinsi tersebut. Kekurangan dana pemerintah pada awal tahun 1990-an, itu disiasati dengan pengerahan kekuatan gotong royong semua komponen masyarakat dan pemerintah, termasuk TNI-Polri.

Maka, Kota Kendari yang semula hanya memiliki satu ruas jalan raya, yakni jalan poros mulai dari pelabuhan laut hingga pelabuhan udara Wolter Robert Monginsidi (kini Bandara Haluoleo), gebrakan Gubernur Kaimoeddin menghasilkan ruas-ruas jalan baru yang lebar dan lurus. Kehadiran infrastruktur ini kemudian mengundang minat investor industri perumahan dan perhotelan. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>