ULANG TAHUN DERIK KAIMOEDDIN

OLEH YAMIN INDAS

Muhammad Zayat Kkaiomoeddin

GAYA hidup Muhammad Zayat Kaimoeddin tidak aneh-aneh seperti biasanya anak pejabat atau anak mantan pejabat. Jumat 29 Januari 2016 sebetulnya adalah hari istimewa bagi Derik, panggilan akrabnya. Tetapi suasana hari lahirnya tersebut dilewatkan begitu saja tanpa ritual perayaan. Dia pertama kali melihat sinar matahari di Kendari tanggal 29 Januari 1970.

Perayaan hari lahir, konon telah terjadi sejak era Nabi Nuh alaihi salam. Salah satu anak Nabi tersebut mengadakan peringatan hari lahirnya. Tradisi ini kemudian menjadi budaya Eropa dan seterusnya mewabah ke masyarakat kita, diadopsi sebagai gaya hidup oleh masyarakat menengah atas di kota-kota. Di desa, perayaan hari lahir dianggap aneh.

Sebagai anak mantan bupati dan mantan gubernur ditambah kapasitasnya saat ini sebagai Penjabat (Pj) Bupati Muna, Derik sangat bisa merayakan hari lahirnya di hotel-hotel berbintang di Kota Kendari. Atau, agar lebih eksklusif lagi, dia mengadakan pesta di Pulau Bokori, sebuah resort wisata yang tengah dibangun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Salah satu pejabat Sultra telah melakukan hal itu. Dia menyelenggarakan pesta hari lahir istrinya di hotel Clarion Kendari di saat dia baru saja menjabat sebagai Pj Bupati di sebuah kabupaten baru. Peristiwa itu diliput media lokal. Padahal, tidak ada catatan kapan dan di mana dia pernah mengadakan pesta serupa sebelumnya.

Derik jauh dari kehidupan glamour. Sekitar pukul 09.00 Wita, Jumat (29/1), dia keluar dari rumahnya di Kendari dengan pakaian sederhana. Baju lengan pendek coklat kombinasi celana panjang agak gelap. Dia menumpang mobil temannya untuk pergi ke suatu tempat. Pada hari itu dia memang off sebagai Pj Bupati Muna. Dia tinggalkan Raha, ibu kota Kabupaten Muna, sejak dua hari lalu.

Di suatu tempat, pemilik mobil tadi bertanya, Pak Derik, hari ini berulang tahun, ya? “Ya,” jawabnya. Kok tidak dirayakan? “Tidak,” jawab Derik lagi. Teman tadi kemudian mengulurkan tangan memberinya salam hangat atas ulang tahunnya. Tetapi Derik tetap dingin. Cuek. Tidak ada ucapan terima kasih dari mulutnya.

Gaya hidup Derik kurang lebih sama saja dengan mendiang ayahnya, Drs H La Ode Muhammad Kaimoeddin, mantan Bupati Muna dan mantan Gubernur Sultra dua periode. Hidupnya sederhana mulai dari cara berbusana hingga menu makan sehari-hari. Tetapi tipe pekerja keras, Kaimoeddinlah orangnya. Dia tidak banyak bicara tetapi lebih banyak memberi contoh dengan ikut mengangkat balok atau benda apa saja jika Kaimoeddin sedang memimpin kegiatan gotong royong di lapangan.

Adalah berkat kerja keras Gubernur Kaimoeddin yang membuat Kota Kendari berwajah seperti sekarang. Hingga berstatus kota administratif, ibu kota Provinsi Sultra tersebut hanya memiliki satu ruas jalan raya. Kota itu teronggok di sepanjang jalan mulai kilometer nol di pelabuhan laut hingga di Km- 15 jalan poros menuju Bandara Wolter Robert Monginsidi (kini Bandara Haluoleo). Selebihnya adalah jalan kecil (lorong) yang becek di kawasan-kawasan permukiman kumuh.

Ketika giliran Kaimoeddin menjabat Gubernur Sultra (periode pertama 1992-1997, dan perode kedua 1997-2003), Kota Kendari dijadikannya target untuk dibebaskan dari problem slum area. Langkah pertama dia melibatkan warga untuk memotivasi bahwa program pembangunan lingkungan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan seluruh warga masyarakat.

Kegiatan perdana itu berlokasi di lingkungan Sadoha dan Benu-Benua. Kecuali warga, Gubernur juga melibatkan seluruh pegawai provinsi dan kota Kendari, TNI dan Polri melalui kerja bakti (gotong royong). Alat-alat berat milik rekanan (kontraktor) pemerintah dikerahkan. Dalam waktu dua minggu, daerah kumuh tersebut berhasil disulap menjadi lingkungan tertata rapi: memiliki ruas-ruas jalan beraspal mulus, selokan beton (permanen), jaringan pipa yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga, bahkan pohon-pohon pelindung tak lupa ditanam agar suasana terasa nyaman dan asri.

Operasi tersebut kemudian digelar menyeluruh ke semua penjuru dan sudut kota. Ruas-ruas jalan baru dibuka, menabrak dan menggusur perumahan pejabat. Gubernur Kaimoeddin malah sering naik di alat berat yang menggusur rumah dan tanah pejabat. Ia ingin menghadapi sendiri warga yang mau mencoba menghalangi program penataan kota.

Setelah berjalan kurang lebih dua tahun, operasi tersebut kemudian mendapat “award” dari pemerintah pusat berupa peningkatan status kota Kendari menjadi kotamadya (1995). Hampir sebagian besar dana yang digunakan membangun kota tersebut bersumber dari dana Inpres Tingkat I. Sehingga pada suatu perbincangan di rumah jabatan gubernur, saya mengkritisi kebijakan gubernur tersebut. Sebab dana Inpres Tingkat I adalah alat gubernur untuk memback-up pembangunan infrastruktur di semua kabupaten. Jadi bukan hanya kota Kendari. Gubernur Kaimoeddin secara diplomatis menjawab: “Kota Kendari harus diberi prioritas (sambil menyebut nama penulis) karena dia jendela Sulawesi Tenggara. Kalau jendela ini kumuh tidak ada yang mau melihat kondisi Sulawesi Tenggara secara menyeluruh”.

Alhasil, setelah pola kota Kendari terbentuk dengan jaringan ruas-ruas jalan lebar dan lurus, pembangunan fisik kota berlangsung cepat. Investor segera mengisi ruas-ruas jalan dengan bangunan-bangunan rumah toko (ruko). Di daerah pinggiran juga berkembang pesat industri perumahan, lalu tumbuh pula industr perhotelan di era Gubernur Nur Alam sekarang.

Derik tentu saja bisa mengikuti dengan saksama setiap denyut perkembangunan Kota Kendari. Sebab di era ayahnya itu, dia juga mulai merintis kariernya sebagai kader birokrat. Mulai dari lurah hingga jabatan camat. Bidang studinya memang ilmu pemerintahan, mulai tingkat akademi (D3), S-1 (Institut Ilmu Pemerintahan), dan S-2 Kebijakan Publik.
Sebagai pamongpraja, karier Derik di saat mulai menapak 46 tahun usianya, hampir mencapai puncak. Sebelum ditunjuk sebagai Pj Bupati Muna, dia menjabat Kepala Biro Pemerintahan Kantor Gubernur Sultra.

Sebagai Pj Bupati, dia bekerja all out seperti halnya bupati definitif. Dia cepat menentukan peta masalah kemudian diikuti langkah-langkah pemecehan. Pembangunan pertanian tanaman pangan dengan pola persawahan, pencegahan bencana banjir, dan kesulitan air bersih adalah perkara serius yang menurut Derik harus secepatnya ditangani di Muna saat ini. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>