PEMBANGUNAN MUNA BARAT MELALUI SENTUHAN BUDAYA

OLEH YAMIN INDAS

 

      

Pasangan turis dari Selandia Baru sempat menyaksikan pembukaan Festival Selat Tiworo di Tondasi menjelang tutup tahun 2015. Foto Yamin Indas

  MEKARNYA Muna Barat menjadi kabupaten adalah peluang besar bagi daerah itu untuk berkembang lebih cepat, baik di bidang ekonomi maupun sosial budaya.  Bahkan, sebagai daerah yang kaya akan aneka ragam budaya, Muna Barat pun  harus dibangun melalui sentuhan budaya. Ini penting dalam rangka membangkitkan semangat dan kepribadian orang Muna Barat, agar  lebih percaya diri sebagai warga masyarakat berbudaya dan bermartabat di tengah pergaulan masyarakat mondial dewasa ini.

        Oleh sebab itu, kita menyambut gembira prakarsa atau kreativitas Penjabat Bupati Muna Barat, Rajiun Tumada, atas penyelenggaraan Festival Selat Tiworo di Tondasi, kota pelabuhan feri antarprovinsi di Muna Barat. Peristiwa budaya tersebut digelar pertama kali akhir Desember 2014, atau hanya beberapa bulan setelah Rajiun dilantik pada bulan Oktober 2014. Kabupaten Muna Barat terbentuk secara resmi bulan Juli 2014. Ia merupakan hasil pemekaran Kabupaten Muna.

        Festival Selat Tiworo ke-2 dilaksanakan baru-baru ini menjelang tutup tahun, tepatnya  29-31  Desember  2015. Tetapi oleh karena satu dan lain hal, festival ini tidak semeriah tahun lalu. “Biaya sangat terbatas,” kata Abdul Nasir Kola setengah berbisik. Dia adalah Kadis Pariwisata & Ekonomi Kreatif Kabupaten Muna Barat.

        Bagi kita, bukan perkara meriah atau tidak. Prakarsa dan kreativitas Pj Bupati jauh lebih penting. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah keberlanjutan kegiatan itu. Artinya, peristiwa budaya atau event ini harus dijadikan kalender pariwisata Kabupaten Muna Barat. Sehingga Festival Selat Tiworo harus digelar setiap menjelang tutup tahun. Masyarakat turis akan mencatat hal tersebut dan akan dijadikan salah satu agenda dalam setiap rencana perjalanannya.

        Para pelaku UKM (usaha kecil dan menengah) juga sangat berkepentingan dengan kalender itu. Sebab dia akan menyusun rencana bisnis untuk memanfaatkan konsentrasi penduduk di Tondasi sebagai ruang pasar. Para pelaku UKM harus menyiapkan lapak atau tempat berjualan jauh hari sebelum festival berlangsung. Para pelaku bukan hanya berasal dari Muna Barat saja tetapi boleh jadi mereka juga datang dari Raha, Bau-Bau, Kendari, dan kota-kota lain.

        Ada tradisi pembinaan pelaku UKM yang dibangun Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, selama ini. HUT Sultra dipusatkan secara bergilir di kota-kota kabupaten. Kegiatan tersebut dengan sendirinya menciptakan konsentrasi masyarakat yang kemudian dimanfaatkan para pelaku UKM sebagai lahan transaksi. Dalam sehari nilai  transaksi (omzet) bisa mencapai puluhan miliar rupiah.  Peluang ini akan diraup festival atau peristiwa budaya yang diselenggarakan secara teratur oleh pemerintah kabupaten/kota. Sejauh ini hanya Buton dan Kota Bau-Bau yang memiliki program seperti itu. Belakangan muncul si bungsu, Muna Barat ini.

Seorang pejabat senior Pemda Muna Barat membuka Festival Selat Tiworo dengan memukul gong 7 kali. Angka ini terdiri dari angka 2 dan angka 5. Angka 2 menunjukkan dua tahun masa tugas LM Rajiun Tumada sebagai Penjabat Bupati Muna Barat, sedangkan angka 5 adalah masa jabatan berikutnya sebagai bupati definitif. Foto Yamin Indas

        Makna strategis penyelenggaraan Festival Selat Tiworo antara lain adalah pembangunan kepribadian dan karakter. Globalisasi yang ditunjang teknologi informasi membuat masyarakat kita makin kehilangan jatidirinya. Sebagai wanita Muna, misalnya, dia tidak tahu lagi cara berpakaian sebagai perempuan yang telah bersuami, atau perempuan yang masih gadis (lajang). Jika toh dia melihat wanita berpakaian dengan kain bersusun-susun, maka dianggapnya lucu, atau orang kurang sehat. Mengapa? Dia sudah kehilangan kepribadian sebagai wanita Muna.

        Melalui ajang festival, masyarakat Muna, lebih khusus lagi Muna Barat akan merasa bangga bahwa dia sesungguhnya adalah masyarakat berbudaya, bermartabat, memiliki kepribadian dan karakter yang tak akan mudah diombang-ambing pola hidup serba bebas, permisif yang dipraktekkan masyarakat Barat. Setelah rasa bangga dan rasa memiliki, maka akan muncul kesadaran lain. Yaitu bahwa ragam dan corak budaya warisan leluhur itu harus dirawat, dilestarikan.

        Festival Selat Tiworo perdana, konon telah menampilkan hampir semua kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Muna Barat. Antara lain budaya kaghati (laying-layang). Layang-layang Muna paling unik karena terbuat dari daun ubi hutan (kolope). Daun itu dikeringkan kemudian ditempel-tempel untuk memenuhi ukuran kaghati yang diinginkan.

Bukan hanya itu keunikan kaghati. Layangan kaghati bisa berbulan-bulan melayang-layang di angkasa. Dia juga mengeluarkan bunyi yang disebut kamumu (samar-samar mirip deru pesawat terbang dari kejauhan).

Budaya kaghati dihidupkan kembali (dilombakan secara formal)  di era Gubernur Sultra dua periode, Haji La Ode Muhammad Kaimoeddin.

  Kini, layangan kaghati tak pernah absen dalam kejuaraan tingkat dunia, dan selalu bertengger di posisi juara I. Para pemain juara I tersebut berasal dari Muna Barat. Tanpa budaya kaghati sangat tidak mungkin orang-orang kampung dari Muna Barat bisa terlibat pergaulan internasional melalui lomba layangan unik itu.

Ada beberapa pertimbangan mengapa festival diselenggarakan di Tondasi? Tondasi adalah pelabuhan feri di pantai barat Muna Barat. Pelabuhan tersebut saat ini masih dalam tahap rehabilitasi. Sehingga pengoperasian kapal feri ke dan dari Tondasi masih dihentikan sementara.

Orientasi sosial ekonomi Muna Barat cenderung bergerak ke pelabuhan feri tersebut. Secara historis, pusat kekuasaan Kerajaan Tiworo di masa lalu berada di kawasan itu. Benteng Tiworo sebagai keraton Kerajaan Tiworo berada tidak jauh dari Tondasi.

Salah satu spanduk Festival Selat Tiworo Ke-2 di Tondasi. Foto Yamin Indas

Dalam sejarah Kesultanan Buton, kedudukan Kerajaan Tiworo setara dengan Kerajaan Muna. Baik Tiworo maupun Muna merupakan barata Kesultanan Buton. Ada 4 barata Kesultanan Buton. Dua lainnya adalah Kulisusu dan Kaledupa. Ke-4 barata (penyangga) tetrsebuyt pada dasarnya merupakan daerah otonom. Hubungan dengan Buton diikat perjanjian bahwa bila Buton diserang musuh atau dalam kesulitan, ke-4 barata wajib memberikan bantuan.

Lapisan elite masyarakat di ke-4 barata, nyaris tak berbeda dengan masyarakat feodal di Kesultanan Buton yang berpusat di Wolio, Kota Bau-Bau sekarang. Gelar bangsawan La Ode, juga digunakan para raja di Tiworo, Muna, Kulisusu, dan Kaledupa. Bahkan, para penguasa di kerajaan-kerajaan kecil itu termasuk Wolio, masih memiliki hubungan darah.

Pertimbangan lain mengapa di Tondasi ialah karena masyarakat Tiworo Kepulauan secara tradisi telah menyelengarakan festival rakyat dengan kegiatan lomba perahu dari segi kecepatan (balap), dan keindahan (perahu hias). Kegiatan itu dimeriahkan pula dengan acara-acara bernuansa kuliner, serta pesta rakyat lainnya. Kegiatan rakyat tersebut telah berlangsung turun temurun, pada setiap akhir tahun yaitu menjelang musim angin barat seperti sekarang ini.

Tiworo Kepulauan meliputi ratusan pulau kecil besar. Perairan kepulauan tersebut memiliki aneka ragam hayati yang lebih spesifik dari keanekaragaman yang dimiliki Bunaken (Sulawesi Utara) dan Wakatobi (Sultra).

Menurut Nasir,  di laut Tiworo Kepulauan terdapat akar bahar sebesar pohon beringin. Pohon itu sering terimbas racun bom ikan. Namun, secara fisik tidak mengalami kerusakan.  Sangat diharapkan agar nelayan  tidak lagi akan pernah menggunakan bahan peledak atau racun potas dalam kegiatan penangkapan ikan. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>