SEJENAK BER-WEEKEND DI PULAU BOKORI

OLEH YAMIN INDAS

Gubernur Nur Alam (kiri) duduk santai di atas susunan batu tanggul dengan latar belakang sebagian pantai Pulau Bokori. Foto Yamin Indas

MAKAO bukan pulau wisata biasa melainkan lokasi judi dan prostitusi. Sekujur pulau kecil di RRT itu berhutan beton, gedung-gedung yang menawarkan kenikmatan sesaat: wanita cantik dari berbagai negeri di dunia, minuman memabukkan, teater, bioskop, sarana olahraga, dan tentu saja meja berbagai jenis permainan judi.

Di salah satu sudut pulau seluas 30,3 kilometer persegi itu ada lapangan terbang di atas tanah urukan. Ini akses lebih praktis untuk ke dan dari Makao. Pulau hiburan ini hanya 70 km sebelah barat daya Hongkong. Dari sini (Hongkong) Makao dapat diakses dengan alat transportasi, antara lain kapal feri.

Saya pernah merasa seperti rusa masuk kampung. Asing! Bersama rombongan dari Jakarta, dalam bulan Juli 2013 saya menginap di sebuah hotel di dalam kawasan gedung bernama The Venetian. Ya, gedung ini memang duplikasi Kota Venesia di Italia. Tetapi sebelum ke kamar hotel, kami harus melalui lobi utama di mana semua tamu yang ada kepentingan di The Venetian tertahan di situ sekadar berfoto-foto di latar depan sebuah arca, atau sejenak menyaksikan beragam sosok manusia dari berbagai penjuru dunia yang berlalu lalang dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

Rasa keterasingan makin mengganggu ketika di kesempatan lain saya iseng-iseng naik ke lantai 4 The Venetian. Masya Allah, di situ ada langit buatan yang menggambarkan suasana senja, berawan tipis di bawah kebiruan langit. Di bawah langit ini terdapat kanal, sementara di pojok-pojok tampak beberapa gondola (di Buton disebut koli-koli atau kole-kole di Maluku) berlabuh dan siap digunakan dengan tarif tertentu. Ya, inilah duplikasi kota air Venesia di Italia itu.

Bayangan Makao melintas di benak saya ketika bersama Gubernur Sultra Nur Alam mendarat di Pulau Bokori tepat pukul 16.30 Wita. Pulau seluas kurang lebih 6 hektar ini menawarkan pesona dan alami. Gubernur Nur Alam terlambat menata Pulau Bokori sebagai tempat rekreasi (tujuan wisata). Tetapi masih lebih baik terlambat daripada tidak berbuat sama sekali. Baru lebih setahun ini dia mengarahkan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) lingkup provinsi membangun vila dari konstruksi kayu pilihan di pulau tersebut. Sekarang baru beberapa unit vila berdiri di sana.

Anak-anak pengunjung Pulau Bokori bermain pasir di pantai Pulau Bokoro. Pasirnya halus, putih bersih. Foto Yamin Indas

Saat speedboat gubernur merapat di sebuah dermaga kayu, sekelompok bocah sedang asyik bermain pasir tak jauh dari tempat pendaratan. Anak-anak yang lebih kecil menggali pasir untuk membentuk sumur. Dalam sekejap sumurnya tertimbun pasir kembali, kemudian digali lagi pasirnya. Runtuh lagi, dan seterusnya. Sementara bocah lain menghambur ke laut sambil mendendangkan lagu yang tak jelas liriknya dengan suara fals. Di tempat lain di daratan pulau, para pengunjung tenggelam dalam aktivitas masing-masing.

Sejak kehadiran pemda, pulau ini tak kesepian lagi. Di akhir pekan (Sabtu, Minggu) pengunjung lebih banyak. Mereka membawa bekal sendiri. Tetapi di pulau itu sudah ada 1-2 warga kota membuka warung. Ada juga satu unit kakus umum yang dibuat pemda. Yang belum muncul ialah mushalla, tempat shalat. Kehidupan yang mulai berdenyut di Pulau Bokori berdampak positif terhadap pemilik perahu bermotor di desa-desa pesisir yang berhadapan dengan pulau tersebut. Perahu motor dioperasikan mengangkut pengunjung pulau dengan tarif Rp 20.000/orang, atau Rp 40.000/orang pulang pergi.

Vila agak besar yang difungsikan sebagai ruang rapat Pemda Sultra. Foto Yamin Indas

Lintasan Makao di pikiran saya tadi mengarah pada kemungkinan Pulau Bokori digarap investor. Jadi dia bisa berkilau seperti Makao. Peran investor ialah menyediakan sarana dan prasarana hiburan sehat, termasuk industri perhotelan dan usaha sejenis. Juga sarana dan prasarana olahraga. Harap maklum, di Pulau Bokori telah diselenggarakan kejurnas bola voli pantai akhir bulan November 2015. Adapun peran Pemda Sultra tentu saja dalam hal penyediaan infrastruktur.

Keterlibatan investor adalah dalam konteks kerja sama, seperti yang telah dirintis Pemda Sultra dengan Kelompok Lippo dalam bentuk pembangunan Lippo Plaza yang kini menjadi pusat belanja dan kuliner warga Kota Kendari. Jadi, Pemda hanya menerima pembagian keuntungan dari pengoperasian resort Pulau Bokori.i Teluk Kendari. Pulau ini merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Konawwe. Tetapi lebih dekat dari Kota Kendari, hanya sekitar 5 mil dari pelabuhan AL di Teluk Kendari

Gubernur Nur Alam bersama Kepala Balai Pengairan (kaos merah dan Kadis PU Sultra Saidin di Pulau Bokori. Foto Yamin Indas

Dengan demikian, pembangunan resort wisata Pulau Bokori tidak akan terlalu membebani APBD Sultra. Seperti disebutkan Karo Humas Pemprov Sulura, Kusnadi, dalam tahun 2016 disediakan dana Rp 20 miliar untuk Pulau Bokori. Sasarannya infrastruktur.

Dalam kunjungannya ke Pulau Bokori, Sabtu 9 Januari 2016, Gubernur Nur Alam didampingi Kepala Dinas PU Saidin dan Kepala Balai Pengairan Supardi. Balai ini merupakan struktur Kementerian PU di daerah (semacam Unit Pelayanan Teknis, UPT). Supardi menyatakan kesediaan ikut terlibat dalam pembangunan infrastruktur. Lebih spesifik adalah penyediaan air bersih dengan sistem pipanisasi dari daratan besar ke Pulau Bokori. Jaraknya hanya kurang lebih 1,2 kilometer, lebih dekat dari jarak Pulau Talaga dengan daratan Pulau Kabaena di Kabupaten Buton Tengah. Di sana juga akan dibangun pipa di dasar laut untuk memasok air bersih ke Talaga.

Pulau Bokori yang berpasir putih sangat ideal sebagai tempat berjemur sambil bergelimang pasir untuk mencegah penyakit tertentu. Turis asing dari negara-negara subtropis pasti akan senang berkunjung ke pulau eksotik ini jika fasilitas dan infrastrukturnya telah memadai.

Senja pun makin menyusut. Proses sunset dalam hitungan menit di ufuk barat. Sekelompok muda-mudi secara atraktif terlihat menari poco-poco tanpa iringan musik di bibir pantai. Mereka buying time menunggu giliran diangkut pulang ke kota. Kami juga segera boarding setelah menikmati pisang dan ubi goreng di vila milik Gubernur Nur Alam. Weekend sekejap di Pulau Bokori, berakhir sudah. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>