Pulau Bokori Dalam Catatan di Awal Tahun

OLEH YAMIN INDAS

Gubernur Nur Alam dalam suatu pertemuan dengan para anggota DPR-RI Dapil Sultra di Jakarta beberapa waktu lalu. Foto Yamin Indas

 

NGILER juga ketika saya membuka Facebook Jum’at pagi, per satu Januari 2016. Banyak gambar kembang api menghiasi langit Pulau Bokori. Warna-warni. Indah sekali. Pesta kembang api memang berlangsung di pulau itu beberapa jam lalu dalam rangka menyambut detik-detik pergantian tahun dari old ke new year, 2015 ke 2016. Happy Old & New Year!

Saya merasa tidak menyesal tidak ikut hadir di pulau eksotik itu dalam rangka melepas 2015 yang penuh kenangan (suka dan duka), dan menyambut 2016 yang sesungguhnya masih penuh misteri. Namun demikian, kita harus menyambutnya dengan penuh rasa optimistis.

Saya memang tidak berencana untuk ikut eksis di pesta tersebut. Banyak alasan. Pertama, di pulau itu tidak ada fasilitas umum untuk ibadah shalat, katakanlah seperti mushalla minimal berbentuk darurat. Saya khawatir terulang pengalaman dalam pesta kembang api tahun lalu. Di tengah kepadatan pengunjung, saya dkk terpaksa nyelonong numpang shalat ke tenda teman yang kebetulan juga taat menegakkan shalat lima waktu. Tetapi sebelum itu harus berjuang mencari air bersih untuk wudhu.

Selama ini kalau saya ikut Pak Gubernur pada hari-hari biasa, tidak ada masalah. Urusan shalat saya tunaikan di vila milik Gubernur Nur Alam yang tentu saja lengkap fasilitasnya. Saya tidak merasa sungkan atau ragu karena suasananya sepi, tidak banyak orang. Hampir semuanya juga mengenal saya. Tetapi dalam situasi ramai, seperti suasana malam menjelang Tahun Baru, saya merasa tidak etis keluar masuk ke tempat orang Number One, itu. Saya harus ikut menjaga kehormatan pribadi dan wibawa beliau di hadapan publik. Beliau adalah pejabat negara, kendati dia sendiri tidak suka suasana serba protokoler.

Kedua, kondisi fisik kurang kondusif. Saya baru pulang dari pembukaan Festival Selat Tiworo di Tondasi, Kabupaten Muna Barat. Seperti lazimnya kaum jurnalis, ketika pulang dari suatu acara atau perjalanan, saya berkonsentrasi untuk bekerja (menulis). Tidak seperti kaum birokrat, setelah tiba di rumahnya dia istirahat total, tidur pulas. Alasan capek itu yang saya sampaikan kepada sahabatku, salah satu Kepala SKPD Provinsi Sultra, saat dia mengajak saya ke Bokori, Kamis petang 31 Desember 2015. Melalui tulisan ini sekali lagi saya memohon maaf kepada sahabatku yang baik budi itu, atas kealpaan saya tidak ikut ke pulau sore itu.

Hal ketiga, suasana Pulau Bokori terlalu padat pada hari istimewa, yaitu perayaan Tahun Baru. Apa lagi diselenggarakan Pemerintah Provinsi yang pasti menyedot banyak pengunjung. Salah satu daya tariknya tentu saja Gubernur Nur Alam, yang gagah dan pandai berpidato itu. Kepadatan pengunjung dan perumahan (vila) membuat suasana tidak nyaman. Maklum, pulau itu tak seberapa luas (daratannya mungkin kurang dari 5 hektar).

Ke depan akan lebih sumpek lagi jika seluruh 52 SKPD Provinsi Sultra membuat vilanya masing-masing. Sekarang belum ada 10 SKPD punya vila. Pengunjung juga pasti akan semakin membludak. Jadi, Anda bisa bayangkan seperti apa situasi sumpeknya daratan Pulau Bokori dalam waktu 2-3 tahun ke depan.

Kita patut hargai kreativitas Gubernur Nur Alam membangun Bokori untuk berfungsi sebagai salah satu destinasi wisata di Sulawesi Tenggara. Tetapi idealnya, pembangunan itu melibatkan investor sebagai pelaku utama. Investor lah yang membangun fasilitas atau akomodasi seperti hotel, cottage, tempat-tempat hiburan, dan lain-lain. Adapun peran Pemda, tentu menyiapkan infrastruktur, termasuk air bersih. Dengan demikian, Pemda Sultra tidak perlu all out, menangani semuanya seperti sekarang.

Rakyat Sultra memiliki catatan masa lalu terkait pembangunan suatu kawasan, sebut saja kawasan rekreasi dengan menggunakan dana APBD. Ada bukit Toronipa yang direncanakan akan dibangun dengan mencontoh San Fransisco (AS), dan Pulau Bokori sendiri. Di pulau ini telah dibangun beberapa vila. Namun, baik “San Fransisco” maupun Bokori kemudian lenyap bersama perginya (selesai masa jabatan) para gubernur yang memprakarsai proyek-proyek tersebut.

Saya sangat berharap, karya yang kini sedang mulai diukir di Bokori tidak mengalami nasib seperti proyek-proyek sebelumnya. Tetapi siapa yang bisa menjamin, Gubernur Sultra pasca Nur Alam tidak akan menciptakan “mainan” sendiri lalu mencampakkan karya-karya para pendahulunya? Kekhawatiran ini yang membuat saya tak bosan-bosannya mengingatkan Pak Nur Alam untuk bekerja sama dengan investor terkait pembangunan Pulau Bokori sebagai resort wisata di Sultra.***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>