Andi Uci: Saya Tidak Mencari Popularitas

Sosok ini memberi kesan sangat religius ketika pertama kali saya mengenalnya. Ketika itu menjelang Hari Raya Idul Adha Tahun 2011, atau awal Zulhijah 1433 H. Dia termasuk di antara tamu yang dijamu makan siang Gubernur Sulawesi Tenggara Haji Nur Alam SE di sebuah restoran di lantai 24 Gedung Wisma Nusantara, Jakarta. Namun, dia tidak ikut makan karena sedang berpuasa sunat.

Dalam syari’ah Islam ada beberapa puasa sunat utama yang diwariskan Rasulullah SAW. Di antaranya puasa satu hari dan berbuka satu hari (puasa Nabi Daud), puasa enam hari (di bulan Syawal), dan puasa 10 hari pertama bulan Zulhijah. Puasa likur pertama ini termasuk puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah bagi umat Islam yang tidak sedang beribadah haji (wukuf di Padang Arafah).

Dalam realitas sosial keberagamaan menunjukkan, umat Islam di Indonesia masih sangat sedikit yang menunaikan puasa sunat secara penuh (9 hari) untuk menyambut Hari Raya Kurban, Idul Adha 10 Zulhijah. Umat muslim yang sedikit itu termasuk Haji Andi Uci Abdul Salam SH, kelahiran Kalimantan Tengah hampir 50 tahun silam.

Andi Uci

Kepatuhan dan kesabarannya melaksanakan agama (menjalankan syari’ah) memberi kesan mendalam bagi saya. Sosok ini memiliki keteguhan pendirian yang religius dalam hidup. Dia mensyukuri nikmat dalam bentuk ketaatan kepada Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah swt.

Dari gelar (bangsawan) yang disandangnya dengan mudah bisa diterka asal usulnya. Pak Andi, panggilan akrabnya, memang asli orang Bugis. Ayah ibunya berasal dari Sinjai, Sulawesi Selatan. Pasangan ini merantau ke Kalimantan, tepatnya di Kuala Pambuang Suryan Ilir, Kalimantan Tengah. Kendati masih keturunan ‘pengela kube’ di Desa Tondong, kehidupan keluarga ini terbilang sederhana. Di rantau pun, mereka hidup sebagai petani biasa.

Adalah Pak Andi, anak ke-4, yang kemudian bangkit dan melesat keluar dari perangkap keterbatasan sumber daya. Pasangan Andi Abdul Salam/Andi Tje dikaruniai enam orang anak. Seperti dituturkan Pak Andi, kehidupan semua saudaranya nyaris tidak mengalami pergeseran vertikal. Mereka hidup masih sebagai petani.

Usaha banting setir yang dilakukan Pak Andi adalah merantau ke Jawa setelah tamat sekolah dasar (SD) di Kuala Pambuang. Surabaya adalah kota tujuan dengan modal nekat itu. Di sana dia melanjutkan pendidikan sambil bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Yang panting halal.

Pak Andi mengaku sering tidur di emperan. Hermanto adalah teman senasib sepenanggungan. Mereka bertemu dan nomaden di sekitar Jembatan Merah. Jembatan Merah adalah jembatan agak kecil di Kota Surabaya yang melintas di atas Kali Asin. Jembatan itu menjadi legendaris karena diabadikan sebagai judul lagu ciptaan mendiang Gesang.

Hermanto, pemuda asal Madura, menempuh pendidikan guru. Perantau di ujung dapur ini kemudian pindah menetap di Bangil, Pasuruan. Pak Andi pun ikut tinggal bersamanya di Bangil, sambil terus mengasah jiwa saudagar dalam dirinya, dan tak lupa mengupayakan kelanjutan studinya sebagai mahasiswa hukum di Universitaa Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya.
Berkat keluletannya Pak Andi lambat laun tumbuh dan berkembang menjadi saudagar. Setelah berkeluarga (menikah), dia tinggal di Gresik untuk mengembangkan bisnis kayu ramin dan meranti dari Kalimantan. Bisnis ini kemudian melebar ke bisnis pertambangan batu bara di Sungai Danau, Tenggarong, Kalimantan Timur.

Bisnis batu bara itulah yang mengkatrol Pak Andi sebagai pengusaha sukses. Produksi yang dihasilkannya mencapai 80.000 ton sampai 100.000 ton batu bara setiap bulan, terantung permintaan pasar. Produksi tersebut diekspor ke Korea dan ada juga yang dikirim ke industri-industri dalam negeri.

Di perusahaan tambang itu Pak Andi mempekerjakan 120 orang karyawan. Mereka digaji mulai dari Rp 2,5 juta hingga Rp 15 juta sebulan.

Ketika pasaran nikel di luar negeri memanas, Pak Andi tertarik pula untuk ikut melakukan investasi. Pilihannya adalah Sulawesi Tenggara karena masih tetangga dengan kampung halaman, Sinjai. Selain itu iklim investasi di Sultra dinilainya sangat kondusif di bawah kepemimpinan Gubernur Nur Alam. Ia sependapat dengan Gubernur yang masih muda usia ini bahwa kegiatan investasi dalam rangka mengolah kekayaan alam yang melimpah sehingga menjadi sumber ekonomi nyata, bakal mengkatrol percepatan pembangunan daerah.

Alhasil, Pak Andi kini telah memiliki lahan nikel di Konawe Utara. Dia menyatakan akan dengan senang hati berpartsipasi dalam pembangunan daerah Sulawesi Tenggara, termasuk pemberdayaan masyarakat sekitar tambang. Namun, niat mulia itu belum terlaksana karena terkendala status hutan yang masih diproses di Kementerian Kehutanan.

Bagi Pak Andi, keberhasilan yang dicapai sebagai pengusaha harus didayagunakan bukan semata-mata untuk menaikkan kelas dan status sosial, harkat, martabat pribadi dan keluarga melainkan juga untuk kemaslahatan orang banyak.

Belakangan ini dia lebih mencurahkan perhatian pada pembangunan masjid di daerah asalnya. Tercatat enam masjid megah telah dibangun dalam berbagai ukuran dan tipe di Kabupaten Sinjai. Ia berharap, kehadiran sarana ibadah tersebut dapat mendorong peningkatan kualitas kehidupan beragama di daerahnya.

Bagi Pak Andi, kesalehan sosial tersebut adalah sebuah komitmen atau obsesi sebagai seorang muslim. Niatnya adalah untuk kepentingan syi’ar Islam dan kemaslahatan umat. Tidak ada kepentingan politik tertentu di balik itu. “Saya tidak mencari popularitas”, ujar ayah empat orang anak tersebut dalam suatu perbincangan akhir Juni 2012. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>