Benteng di Tangkeno, Ciri Kerajaan Buton

 

OLEH YAMIN INDAS

       

Pintu masuk benteng Tawulagi. Foto Yamin Indas

  SEJUMLAH benteng di sekitar Desa Tangkeno praktis menjadi salah satu obyek wisata ‘Negeri di Awan’ tersebut. Ada 5 benteng di kawasan wisata tersebut. Dua di antaranya yakni benteng Tawulagi dan Tuntuntari berjarak kurang dari satu kilometer dari perkampungan penduduk. Sedangkan tiga lainnya agak jauhan, sekitar 4-5 Km dari pusat permukiman.

        Keberadaan benteng tersebut menunjukkan bahwa  Tangkeno sebagai pusat budaya dan peradaban masyarakat Kabaena di Pulau Kabaena merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Buton di masa lalu. Kerajaan ini berubah menjadi kesultanan setelah raja ke-6 bernama Lakilaponto memeluk Islam. Maka dia pun bergelar sultan, seperti halnya para pemimpin negeri-negeri Islam di bawah pengaruh Khalifah Utsmaniah yang berpusat di Istanbul (Turki). Istanbul sebelumnya bernama Konstantinovel.

        Baik sebelum maupun setelah menjadi kesultanan, negeri tersebut selalu diganggu gerombolan bandit atau perampok yang berasal dari wilayah Ternate, sebuah kesultanan yang mengklaim Kesultanan Buton sebagai wilayah kekuasaannya (J.W. Schoorl, JAMBATAN 2003). Klaim tersebut bertolak dari anggapan bahwa Ternate-lah yang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Buton.

        Kesultanan Buton adalah wilayah yang sangat terbuka dengan dunia luar. Ia terdiri dari pulau-pulau dan pantai. Pulau-pulau agak besar adalah Buton, Muna, dan Kabaena, lalu gugusan Kepulauan Tukang Besi (kini Kabupaten Wakatobi). Wilayah pantai mencakup pesisir selatan jazirah tenggara Pulau Sulawesi yang disebut Poleang dan Rumbia (kini Kabupaten Bombana).

Menjadi pertanyaan mengapa wilayah Kesultanan Buton tersebut dijadikan sasaran perampok dari Maluku? Cerita masyarakat Kabaena lebih spesifik menyebut orang Tobelo, Maluku Utara, sebagai pelaku kejahatan tersebut. Apakah perilaku tersebut berlatar belakang politik, atau hanya bermotif ekonomi belaka. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban para peminat sejarah lokal kerajaan Islam Buton.

Satu-satunya alat perang modern di benteng Tawulagi adalah meriam kuno ini. Meriam ini adalah sisa muatan serombongan kapal VOC yang tenggelam di perairan Pulau Kabaena, tepatnya di pulau karang Sagori di awal abad ke-17. Sebagian besar meriam tersebut dimuatkembali setelah para ABK mendapatkan pertolongan. Foto Yamin Indas

Secara ekonomi Kesultanan Buton harus diakui lebih baik. Pasalnya, orang Buton suka bekerja ulet, baik sebagai petani tradisional maupun sebagai pelaut. Kaum wanita Buton juga tidak suka hidup berpangku tangan. Sambil menunggu suaminya bekerja di ladang atau dari pelayaran, mereka aktif menenun kain di bawah kolong rumah, untuk menghasilkan bahan pakaian. Dengan demikian, negeri ini di masa lalu sesungguhnya relatif mampu memenuhi kebutuhan sendiri, baik kebutuhan sandang maupun pangan.

Kerawanan negeri ini adalah justru di bidang keamanan. Dan sumber ancamannya datang dari utara yaitu para perampok asal Maluku  itu. Tantangan ini kemudian diatasi dengan membuat benteng pertahanan di hampir semua konsentrasi penduduk dalam wilayah Kesultanan Buton. Keraton sendiri berlokasi di sebuah benteng luas di atas ketinggian Kota Bau-Bau sekarang. Benteng itu kemudian disebut Benteng Keraton Buton.

Benteng tersebut dikenal sebagai benteng terluas di dunia (23,375 hektar). Konon jika dilihat dari udara, Benteng Keraton Buton menampilkan konfigurasi huruf Arab dal (Latin d). Total panjang konfigurasi huruf dal sekitar 2.740 meter.  Huruf dal adalah huruf terakhir nama Nabi Muhammad Saw. Perihal tersebut menjadi sumber motivasi dan inspirasi masyarakat Buton sebagai penduduk negeri Islam di mana berlaku norma dan ajaran agama Islam yang dibawa Rasulullah Saw.

Setelah Benteng Keraton Buton, bangunan serupa yang tersebar di hampir seluruh wilayah kesultanan tentu saja berukuran lebih kecil dan lebih sederhana. Hanya strategi penempatan lokasinya sama: di atas bukit yang bertebing terjal. Begitulah semua kondisi benteng di Pulau Kabaena, termasuk benteng di Desa Tangkeno.

Benteng Tuntuntari

Benteng ini terletak di sebuah bukit terjal dalam kawasan lereng Gunung Sangia Wita (1.850 M), salah satu atap di Sulawesi Tenggara. Akses ke benteng berupa jalan agak lebar dan bisa dilalui kendaraan roda empat sampai ke titik paling terjal. Perjalanan sekitar 200 meter dilanjutkan dengan jalan kaki untuk mencapai pintu gerbang. Bentuk benteng dengan luas sekitar 3 hektar ini oval sesuai kondisi pelataran puncak bukit.

Bangunan benteng terdiri dari susunan batu gunung pipih  warna gelap. Sebagian masih tersusun utuh kendati dikangkangi belitan akar pepohonan liar. Sebagian lagi telah dipugar atas biaya Pemda Kabupaten Bombana. Ketinggian tidak merata menyesuaikan konjungtur bibir tebing. Ada yang 2 meter, dan paling tinggi 3 meter. Ketebalan tembok sekitar 1,5 meter.

Suasana di dalam benteng Tuntuntari. Teduh di bawa pohon liar, termasuk pohon beringin yang menyeramkan (tidak tampak). Yamin Indas

Daya tarik benda peninggalan masa lalu tersebut tentu saja sejarah dan proses pembuatannya. Namun, sejarah pendiriannya masih kabur. Pihak kepurbakalaan belum pernah melakukan penggalian untuk mengukur usia benda-benda benteng. Cerita penduduk juga banyak versinya. Nama benteng  Tuntuntari tidak jelas apakah nama itu diambil dari seseorang penguasa (mokole) lokal, atau dari nama pohon bambu, misalnya. Apalagi tahun pembangunan benteng, lebih gelap lagi.

Keistimewaan mengunjungi benteng ini adalah jangkauan pemandangan alam lebih luas. Dari benteng ini kita bisa menyaksikan fenomena alam pegunungan Pulau Kabaena, karang atol (Pulau Sagori) yang tampak terapung di atas kebiruan laut, dinding puncak Sangia Wita dan bukit-bukit lain. Konon, Kota Bau-Bau yang berkilau di malam hari dapat dilihat dari benteng ini.

Benteng Tawulagi

Obyek yang satu ini bernama benteng Tawulagi. Sama dengan Tuntuntari, pemberian nama Tawulagi tidak jelas alasannya. Apakah itu berasal dari nama seseorang yang diabadikan, atau  nama sesuatu benda. Dibanding yang lain, Tawulagi agak menarik. Di tengah benteng terdapat sebuah kamar dengan sebuah amben yang juga tersusun dari batu. Boleh jadi, ini tempat istirahat mokole atau penguasa lokal.

Ada indikasi bahwa di benteng ini sering terjadi penyergapan pihak bandit dan mendapat perlawanan penduduk. Di sekitar benteng banyak kuburan dan sering pula ditemukan belulang manusia. Bahkan, dua tahun lalu saat benteng dipugar, warga Tangkeno menemukan sesosok rangka manusia berpostur tinggi besar masih berbekal golok di pinggangnya. Sosok itu tersandar di dinding tembok benteng. Dari posturnya itu disimpulkan bahwa dia adalah anggota kelompok penyerang dari suku Tobelo, Maluku Utara.

Sekitar 3 Km dari Tawulagi ada lagi sebuah benteng bernama Tondowatu. Menurut Kepala Desa Tangkeno, Abdul Madjid Ege, di situ pernah pula terjadi penyerangan oleh sekelompok Tobelo. Kelompok ini memasuki benteng dengan cara baik-baik dan meminta makan karena mereka sedang kelaparan. Tetapi ketika penuduk benteng terlelap tidur, kelompok ini menyerang dan berhasil membawa kabur seorang anak gadis. Konon anak gadis Kabaena tersebut kemudian diperistri dan melahirkan banyak keturunan di sana (Tobelo).

Benteng Tawulagi lebih mudah dikunjungi. Benteng ini terletak di jalan poros Tangkeno – Enano. Sedangkan lokasi benteng tidak terlalu sulit didaki.

Di dalam benteng Tuntuntari terdapat pohon unik. Pohon liar ini memiliki cabang yang membentuk angka delapan. Bagi masyarakat Sultra, angka delapan adalah simbol Haluoleo, tokoh pemersatu Sultra. Foto Yamin Indas

Upaya Bupati Bombana Tadfdil membangun Tangkeno sebagai destinasi wisata di Kabupaten Bombana patut diapresiasi. Bupati Tafdil kini masih merampungkan pembangunan kompleks plaza di sebuah puncak yang indah. Di situ dibangun beberapa sarana dan fasilitas seperti gedung serba guna, rumah adat, masjid, pelataran luas untuk pameran dan pementasan seni. Dilengkapi pula dengan lampu tenaga surya untuk penerangan di malam hari. Tetapi masih ada lagi infrastruktur vital yang perlu diwujudkan yaitu fasilitas air bersih dan sarana jalan beraspal.

Selain itu menyiapkan perilaku dan mentalitas masyarakat Tangkeno dan Kabaena umumnya untuk ramah, kemudian memberi rasa nyaman serta aman bagi pengunjung (turis), memanfaatkan kunjungan orang sebagai peluang ekonomi dalam bentuk penjualan makanan, minuman, souvenir, pertunjukan seni budaya spesifik (unik), termasuk pelaksanaan syari’ah Islam. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>