Gubernur Nur Alam di Depan Pengusaha Wanita

 

Ketua Umum DPP IWAPI bersalaman dengan Gubrrnur Sultra Nur Alam setelah menyerahkan sebuah tanda mata di Hotel Plaza Inn Kendari, Sabtu 19 Desember 2015. Foto Yamin Indas

GUBERNUR Sulawesi Tenggara Nur Alam pandai memikat perhatian kaum wanita. Lebih-lebih jika para wanita itu memiliki kedudukan sosial dan  cantik pula. Namun, sabar dulu. Cara Nur Alam  memikat perhatian bukan dengan memamerkan dirinya yang ganteng tetapi ia antara lain mengungkapkan pengalaman hidupnya yang getir di masa lalu. “Saya pernah menjadi sopir ibu-ibu pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia”, tuturnya saat membuka Musda III Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Sulawesi Tenggara, di hotel Plaza Inn Kendari, Sabtu 19 Desember 2015.

        Para pengurus Iwapi Sultra dan Ketua Umum Iwapi Pusat Ir Dyah Anita Prihapsari MBA merespons pengalaman Gubernur Sultra tersebut dengan ketawa riang disertai tepukan tangan yang menggetarkan dinding ruang Musda tersebut. “Bukan hanya nyopir, saya juga disuruh mengangkat barang dari mobil, mengatur dan menyiapkan acara ibu-ibu pengurus Iwapi. Pendek kata, setiap ada acara ibu-ibu Iwapi saya mesti dicari sebagai tenaga inti,” ujar Nur Alam yang siang itu mengenakan kemeja batik dan tampak lebih gagah.

        Salah satu ibu pengurus Iwapi Sultra yang paling sering memberinya pekerjaan adalah istri Ismar Lubis yang namanya tak diingat lagi oleh Nur Alam. Ismar Lubis adalah pemain film tahun 1970-an dan sempat beberapa tahun menetap di Kota Kendari menekuni profesi sebagai kontraktor (pemborong). Di zaman itu Nur Alam remaja juga mulai belajar menjadi pengusaha kontraktor. Tentu berangkat mulai dari bawah, menjadi karyawan perusahaan milik paman atau sepupu.

Gubernur Sultra Nur Alam berbincang dengan Ketua Umum DPP IWAPI Dyah Anita Prihapsari. Foto Yamin Indas

        Selanjutnya Nur Alam dengan nada bercanda menyesalkan para pengurus Iwapi Sultra karena tak pernah sekalipun melakukan kontak dan berkomunikasi dengannya setelah dia menjadi gubernur. Para peserta Musda pun berteriak agak histeris mendengar paparan gubernur tersebut. “Salah sendiri, dulu jadi sopirnya. Setelah sopir jadi gubernur, tidak mau mendekat,” kata gubernur menjawab sendiri uraiannya.

        Dengan mimik serius Gubernur Nur Alam mengajak Iwapi Sultra untuk bangkit. Banyak lapangan usaha yang bisa digarap Iwapi. Kaum wanita di Sultra juga makin banyak yang terlibat di sektor usaha kecil dan menengah. Kerajinan dan usaha kreatif mulai berkembang. Agar lebih mudah pembinaannya, mereka harus dikelompokkan sesuai bidang usaha. Pemerintah memiliki kementerian yang fungsinya membina berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Iwapi harus berani berkompetisi. Dalam rangka itu Iwapi harus memiliki komptensi. Caranya ialah menambah pengetahuan dan latihan. “Iwapi adalah lembaga bergengsi. Karena itu harus perbaiki kastingnya,” katanya.

        Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Iwapi Ir Dyah Anita Prihapsari MBA  berharap Musda Iwapi Sultra dapat menghasilkan pengurus yang memiliki criteria tiga ‘O’ plus ‘N’. Tiga ‘O’ ialah otak, ongkos, otot ditambah ‘N’ yaitu networking. Artinya, pengurus Iwapi harus cerdas melihat peluang ekonomi, harus memiliki dana pribadi untuk keliling kabupaten/kota mengunjungi pengurus dengan uang sendiri, harus selalu fit sehat jasmani dan rohani agar dapat melakukan tugas organisasi dengan baik. Krietria selanjutynya ialah pengurus harus memiliki jaringan yang kuat dengan sesame pengusaha dan pemerintah. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>