Pilkada Buton Utara Akan Lebih Menraik

Oleh Yamin Indas

 

      

Tiga pasangan calon Bupati Buton Utara

  PESTA demokrasi tingkat lokal tinggal menghitung hari. Belum semua kabupaten/kota bakal ikut menggelar pemilihan kepala daerah secara serentak pada tanggal 9 Desember mendatang ini. Namun, paling tidak lebih separuh dari jumlah kabupate/kota di Indonesia akan menampilkan potret dinamika demokrasi ketika rakyat turun ke bilik-bilik suara untuk memilih pasangan figur yang dianggap layak menjadi pemimpinnya.

        Ada suatu kondisi atau syarat tertentu yang akan memengaruhi rakyat dalam menggunakan hak pilihnya tersebut. Boleh jadi ia akan termotivasi oleh menguatnya ketokohan calon pemimpin sehingga dipercaya mampu memperbaiki keadaan yang selama ini dianggap tidak sesuai harapan banyak orang. Tetapi pengaruh uang masih lebih kencang daya tariknya terutama di daerah-daerah miskin dan kantong-kantong masyarakat yang kehilangan orientasi (bermasa bodoh) masa depannya.

Pj Bupati Buton Utara Saemu Alwi wawancara TV di Ereke. Foto Yamin Indas

        Dari dua kategori itu, Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara saya melihat akan lebih didominasi oleh motif kekuatan figur. Pilkada di kabupaten ini diikuti tiga pasangan calon. Dua pasangan calon diusung koalisi parpol, sedangkan yang lain merupakan pasangan calon independen. Satu dari dua yang diusung koalisi parpol, adalah petahana. Dia adalah Ridwan Zakariah yang menjabat Bupati Buton Utara masa bakti 2010-2015. Bahkan sebelum itu pamongpraja senior ini telah ditunjuk sebagai Penjabat Bupati Buton Utara 2009-2010. Untuk masa bakti 2016-2021, Ridwan berpasangan dengan La Djiru, pensiunan Sekretaris Daerah Buton Utara. Artinya, jika terpilih, pria berkumis berwajah cerah dan ramah itu akan menggenapkan dua periode  kepemimpinannya sebagai Bupati Buton Utara.

        Akan tetapi, dinamika politik pilkada di Buton Utara cenderung berbicara lain. Sejak awal, dukungan rakyat lebih berat ke pasangan Abu Hasan/Ramadio yang diusung PDI-P, Partai Demokrat, dan PKB. Pasangan Ridwan – La Djiru diusung PAN, Hanura, PKS, Gerindra, dan PKPI. Perihal menguatnya dukungan tersebut terkonfirmasi baik melalui hasil survei maupun arus dukungan masyarakat secara nyata. Dukungan nyata ini antara lain dalam bentuk partisipasi warga mengumpulkan dana dan bahan makanan dalam mendukung kegiatan sosialisasi dan kampanye pasangan ini. Dukungan melalui media sosial juga mengalir deras, terutama dari kalangan anak-anak muda.

        Efek Jokowi tampaknya telah mengimbas pusaran politik pilkada Buton Utara. Rakyat merasa lebih berdaulat untuk menentukan calon pemimpinnya. Kalangan ibu-ibu dari keluarga sederhana (miskin), misalnya, malah menawarkan kontribusinya demi kemenangan sang calon, walau hanya berupa ubi atau jagung rebus. Adapun warga dari kalangan yang agak sedikit mampu secara ekonomi, mereka melakukan mobilisasi dana untuk membiayai kegiatan politik pasangan tersebut.

        Saya agak penasaran mendengar pengarahan Penjabat Bupati Buton Utara, Saemu Alwi, dalam rapat kerja para camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten Buton Utara di Ereke, Rabu pekan lalu (18 November 2015). Saya bersama Halim dari MetroTV secara khusus diundang menghadiri acara tersebut. Pj Bupati didampingi semua anggota forum Muspida dari Raha, ibu kota kabupaten induk, Muna. Dengan nada tegas dan penuh intimidatif, ia menekankan soal netralitas aparat pemerintah setempat sebagai sebuah kewajiban. Saemu mengatakan, netralitas aparat pemerintah dalam pelaksanaan pilkada tidak bisa ditawar.

Ketua KPU Buton Utara Suhuzu

   Sikap tegas mantan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo tersebut kemudian terjawab setelah saya turun ke lapangan. Dari masyarakat saya mendapatkan keterangan bahwa empat dari enam camat di Kabupaten Buton Utara cenderung berpihak ke pasangan Abu Hasan/Ramadio. “Mereka (camat) ikut konvoi pada saat-saat kampanye,” kata seorang warga. Bukan hanya camat. Para kepala desa pun sebagian besar berpihak ke Abu Hasan. “Sekitar 70 dari 90 lurah/kades bekerja untuk Abu Hasan,” kata yang lain.

        Di depan sebuah rumah sederhana di Kota Ereke, terlihat parkir banyak kendaraan roda empat maupun sepeda motor, Kamis pagi (19 November 2015). Ternyata di rumah tersebut ada Abu Hasan melakukan sarapan pagi. Pemilik rumah itu juga bukan keluarga calon ini. Akhirnya batin saya mengatakan, tanda-tanda kemenangan pasangan Abu Hasan/Ramadio telah terbaca, kecuali jika garis tangan mereka berbicara lain.

        Dalam kondisi soliditas dan fanatisme masyarakat terhadap calon pemimpinnya, agak riskan jika ada pihak berbuat nekad melakukan politik uang alias membeli suara. Sebab perbuatan melawan hukum itu pasti mendapatkan perlawanan yang akan berdampak mengacaukan proses pilkada. Tetapi sejauh pemantauan saya di lapangan, hanya memang orang  nekad yang akan berani main politik uang.

        Maka, dari tujuh kaPilkadabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara yang ikut pilkada secara serentak tahun ini, Buton Utara agaknya akan lebih menarik untuk dicermati. Dengan catatan itu tadi, tidak ada yang mencoba mengacau dengan praktik money politic.

        Kendati dinamika dan persaingan politik cukup tinggi, proses penyelenggaraan pilkada di kabupaten ini berjalan aman dan nyaman. Ini ditegaskan Ketua Komisi Pemilihan Umum Buton Utara, Suhuzu SH MH. Kecuali itu, lanjut Suhuzu, tahapan-tahapan kegiatan pilkada juga berjalan sangat lancar berkat dukungan sepenuhnya pemerintah Kabupaten Buton Utara yang saat ini dipimpin Saemu Alwi sebagai PJ Bupati.  ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>