Semangat Yoker Membuat Kanal di Kota Raha

Oleh Yamin Indas

 

      

Muhammad Yusuf aias Yoker memaparkan proyek kemanusiaan di Kabupaten Muna.Foto Yamin Indas

  MENCEGAH terjadinya bencana jauh lebih baik daripada panik menanggulangi bencana tatkala korban telah berjatuhan baik manusia maupun harta benda.  Ini jalan pikiran Muhammad Yusuf alias Yoker. Didorong jiwa dan semangat kemanusiaan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Kabupaten Muna itu kemudian nekad mengusulkan proposal proyek kemanusiaan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat (BNPBP) di Jakarta.

        Ada dua proyek kemanusiaan yang membuat Yoker tidur tak nyenyak sebelum BNPBP memberinya lampu hijau. Yaitu proyek pengendalian banjir Kali Labalano di Kota Raha, dan penanggulangan krisis air sepanjang tahun bagi penduduk di 25 desa dalam wilayah Kabupaten Muna. Ia menyebutnya sebagai proyek siaga darurat banjir, dan siaga darurat kekeringan. “Jadi bukan tanggap darurat karena bersifat pencegahan belaka,” kata penyandang gelar S-2 dari Studi Pembangunan Universitas Gajah Mada tersebut.

        Kata berjawab gayung bersambut. BNPBP juga berpandangan serupa. Maka, mulailah bergulir proyek pembuatan  kanal untuk menjinakkan Kali Labalano di Raha, ibu kota Kabupaten Muna. Kali itu meluap saban turun hujan lebat dan merendam kantor pemerintah, perumahan penduduk, serta fasilitas publik lainnya. Kepanikan warga makin memuncak manakala luapan banjir kian melebar akibat naiknya air muka laut (rob).

        Panjang kanal yang akan dibuat untuk mengendalikan banjir dan rob kurang lebih 3.700 meter. Sampai bulan Oktober 2015 pembuatan kanal telah mencapai 1.700 meter. Sisanya diusahakan selesai tahun 2016. Sebab menurut Yoker, BNPBP telah menyetujui penyediaan dana sekitar Rp 39 miliar. Pembuatan kanal meliputi pembuatan tanggul, pembangunan jalan inspeksi, pembangunan jembatan di atas tanggul, penghijauan, dan sebagainya. Kanal sendiri memiliki lebar 12 meter, sementara lebar jalan inspeksi 13 meter.

Sebagian kanal di Kota Raha yang telah selesai dibangun. Foto Yamin Indas

        Bagi Yoker, filosofi kehadiran kanal ini kelak adalah terbebasnya warga Kota Raha dari ancaman banjir. Mereka bisa tidur nyenyak saat turun hujan lebat, dan seterusnya mereka bisa bekerja dan hidup tenang.

        Namun, bila pembangunan kanal Labalano telah selesai, akan berdampak pada pengembangan fisik kota dan terbangunnya obyek rekreasi bagi warga kota. Kanal sepanjang 3,7 Km itu dapat berfungsi sebagai alur armada angkutan sungai (kali). Bahkan, menurut Yoker, saat ini telah tersedia sebuah speedboat yang akan dioperasikan di kanal tersebut. “Speedboatnya sudah ada di Jakarta, tinggal  diangkut ke Raha,” ujarnya.

        Potensi ekonomi berupa lahan tambak seluas 150 hektar di sepanjang kanal, juga diharapkan segera berkembang. Sebab para pemilik lahan tambak akan terdorong untuk berproduksi menyusul berfungsinya kanal pengendalian banjir  dan naiknya air laut.

        Obsesi lain dan ini yang paling menyita perhatian Yoker adalah masalah kekeringan abadi di daerah Tongkuno dengan cakupan wilayah bencana kekeringan meliputi 25 desa di empat kecamatan. Sumber air di daerah tersebut didapati hanya di ceruk-ceruk gua bukit-bukit karst, berkilo-kilo meter jauhnya dari perkampungan penduduk. Yoker berpendapat, kesulitan air membuat penduduk tak berdaya melepaskan diri dari kemiskinan.

        Ia memaparkan, sebagian besar waktu mereka tersita urusan mengambil air dari gua-gua. Bukan hanya soal jarak, mereka juga harus antre karena dalam satu kampung  biasanya hanya ada satu sumber air yang jadi tumpuan semua warga setempat. Dengan keadaan seperti itu, sisa waktu untuk mengerjakan ladang dan aktivitas kehidupan lain menjadi sangat sedikit.

        Penderitaan penduduk itulah yang mendorong Yoker mengusulkan proposal proyek kemanusiaan yang disebutnya siaga darurat kekeringan. Tentu saja Yoker bekerja atas petunjuk dan arahan Bupati Muna dokter Baharuddin, dan selanjutnya Penjabat Bupati Muna Muhammad Zayat Kaimoeddin, sekarang ini.

Masa jabatan Baharuddin periode 2010-2015  telah berakhir 16 September 2015. Zayat alias Derik Kaimoeddin akan melanjutkan kepemimpinan Baharuddin hingga terpilih bupati definitif melalui pilkada serentak 9 Desember 2015. Baharuddin sendiri ikut dalam kontestan pilkada tersebut. Ia berpasangan –desa dengan La Pili, kader dari Partai Keadilan Sejahtera.

Seperti dijelaskan Yoker, proyek siaga darurat kekeringan telah direspons Jakarta. Sebuah sumber air di gua Langkeba akan dialirkan ke desa-desa yang kesulitan air melalui program pipanisasi. Program ini membutuhkan dana sekitar Rp 16 miliar. “Ini yang kita masih perjuangkan di Jakarta,” tuturnya.

Yoker terkesan sangat profesional dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai Kepala Pelaksana BPB Kabupaten Muna. Setiap hari ia ke lapangan dalam balutan jaket khas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Di pinggangnya tergantung termos air minum, lalu naik mobil pick-up double cabin yang dikemudikan sopir kantor.

Selama musim kemarau tahun ini Yoker dua kali sehari ke lapangan memimpin operasi pembagian air ke rumah-rumah warga yang kekeringan. Ia juga terus memantau situasi di tempat lain, siapa tahu ada kebakaran hutan, kapal tenggelam ataupun kecelakaan lalu lintas. Tugas SAR dan pemadam kebakaran ditangani sekaligus, kendati dalam kondisi keterbatasan tenaga, peralatan, dan biaya operasional.

Yoker yang diangkat menjadi PNS sejak tahun 1998 mengaku sangat menikmati pekerjaannya belakangan ini karena bersinggungan dengan masalah kemanusiaan. Bila sekelompok warga masyarakat terbebas dari ancaman bencana atau teratasi kesulitan hidupnya, maka ihwal tersebut memberikan kepuasan batin bagi ayah tiga anak, buah pernikahan dengan adik kelasnya, gadis asal Lampung bernama Ira Wilis.

Yoker sendiri adalah asli orang Muna. Ia lahir di Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, tanggal 16 Januari 1970. Ayahnya, La Amba, adalah pensiunan polisi yang dikenal ramah dan suka bercanda. Anak buntutnya yang secara resmi diberi nama Muhammad Yusuf, sejak kecil dipanggilnya Yoker. Boleh jadi di masa itu permainan dengan kartu yoker sedang panas-panasnya di masyarakat. Istri La Amba adalah Wataana  yang memberinya lima anak. Ibunda Yoker tersebut tercatat sebagai anggota DPRD Provinsi Sultra hasil Pemilu 1971. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>