Menyadap Air dari Pohon Bambu

 

                                     Oleh Yamin Indas

 

       

Penduduk di daerah kekeringan menyadap air dari pohon bambu. Salah satu warga Desa Tongkuno di Kabupaten Muna (Sultra) memperlihatkan cara menampung air sadapan dari pohon bambu. Foto Yamin Indas

AIR  adalah kebutuhan vital bagi manusia. Orang bisa bertahan berhari-hari tanpa makan, asalkan masih mengkonsumsi air. Tetapi manusia tidak akan mampu bertahan hidup berhari-hari tanpa minum air. Karena itu, betapa pun sulitnya kehidupan sebuah komunitas sosial, kebutuhan air mutlak dipenuhi dengan cara apa pun.

        Begitulah penduduk Muna yang mendiami daerah Tongkuno di belahan timur pulau itu. Daerah ini merupakan perbukitan karst yang topografinya berkarakter kering selama dunia ini terkembang. Sumber-sumber air hanya didapati di cerukan-cerukan bukit karst tadi. Artinya, sumber air terdapat  di bawah permukaan bumi. Tidak juga semua bukit karst bermurah hati mengeluarkan air dari celah-celah batu gamping.

        Akan tetapi manusia Muna purba justru memilih daerah kering ini sebagai daerah pemukiman. Raja-raja Muna dan leluhurnya berasal dari sini. Kota Wuna, ibu kota kerajaan terletak di kawasan celah perbukitan karst. Kota yang ditandai keberadaan sebuah masjid tua itu kini tak lebih sebuah desa sederhana, kering,  dan miskin.

        Maka, masalah kesulitan air adalah perkara biasa bagi masyarakat Tongkuno. Baik di musim hujan, apalagi di musim kemarau panjang seperti saat ini (2015). Karena lokasi ceruk-ceruk sumber air jauh pula, berkembanglah kreativitas penduduk memanfaatkan pohon bambu dan pohon pisang sebagai sumber air. Tentu saja sebagai alternatif manakala belum sempat ke gua bukit karst tempat sumber air yang jernih dan sejuk.

        Keterampilan itu masih berlanjut hingga generasi sekarang. Sebab kesulitan air bagi warga Tongkuno, nyaris menjadi masalah abadi. Bagaimana teknik mendapatkan tetesan air dari pohon bambu atau pohon pisang?  Prakteknya hampir sama dengan cara menyadap karet,  dan pohon-pohon lainnya.

        Pohon bambu yang akan disadap dipilih batang tertinggi dan terbesar diameternya di antara rumpun pohon bambu di belakang rumah. Hampir semua pohon bambu memiliki bekas tunas di buku (pertemuan dua ruas). Bekas tunas itulah yang dicukur dengan parang tajam. Luka bekas cukuran tadi lantas berair, dan lambat laun menetes lemah. Tetesan ini ditahan dengan sejepit rumput ilalang yang dililitkan di bawah luka tadi dan berujung ke sebuah wadah yang telah disiapkan. Jadi ilalang tadi berfungsi sebagai kanal.

        Tempat penyadapan tersebut akan digeser ke ruas bambu berikutnya secara vertikal hingga pohon itu tak berair lagi. Dari sebatang bambu biasanya diperoleh 3-4 liter air dengan proses penyadapan selama beberapa hari. Ini dituturkan Waode Harasiah (41), ibu rumah tangga beranak 5 orang. Dia  tercatat sebagai warga dusun Madawa, Desa Tongkuno (Kunjungan ke desa itu dilakukan Selasa 27 Oktober 2015).

        Menyadap pohon pisang tidak berbeda jauh. Obyeknya adalah akar. Akar pisang yang usianya hampir berbuah dikerok sehingga terbuat sebuah lubang kecil sebagai tempat keluarnya air dari batang pisang itu. Di bawah lubang ditancap belahan bambu seperti pancuran mini. Ujung pancuran ini dibenamkan ke mulut sebuah wadah yang telah disiapkan. Menurut warga, volume air pisang agar banyak dari air pohon bambu. Air pisang juga lebih nyaman diminum dibanding air dari pohon bambu.

        Sebagai pohon serba guna, bambu dan pisang mestinya mendominasi lahan pekarangan atau tanah umum di daerah Tongkuno. Sehingga daerah tersebut dengan sendirinya hijau oleh hutan bambu dan pisang.  Dalam kondisi seperti itu bukan tidak mungkin bakal muncul mata air di kaki-kaki tebing karst setelah melampaui proses waktu yang panjang, tentunya.

        Akan tetapi, sifat asli penduduk lokal sulit dikikis dalam waktu satu dua generasi. Penyakit malas membuat lahan pekarangan maupun ladang penduduk hanya didominasi semak dan belukar liar. Pohon bambu dan pisang malah hanya merupakan tanaman sporadis. Lahan semak dan belukar liar tadi merupakan lahan pertanian yang baru akan diolah pada musim hujan, untuk tanaman singkong, jagung, sayur-sayuran, dan jambu mete.

        Lahan di Pulau Muna yang umumnya berkapur merupakan lahan subur untuk pertanian segala macam komoditas, mulai tanaman semusim hingga tanaman industri seperti kelapa dan jambu mete. Namun, penyakit sosial tadi membuat peluang-peluang itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu, kecuali kemiskinan. Dalam kondisi sosial yang getir itu, pemerintah Kabupaten Muna di bawah Bupati La Ode Rasjid hingga adiknya Bupati La Ode Kaimoeddin, segenap penduduk Tongkuno dipindahkan ke wilayah barat yang dianggap lebih subur dan tersedia sumber air lebih banyak.

        Resettlemen desa, begitu nama program transmigrasi lokal spesifik di Provinsi Sulawesi Tenggara di era Gubernur H Eddy Sabara, waktu itu (mulai paruh kedua 1960-an hingga tahun 1970-an).  La Ode Kaimoeddin sebagai Bupati Muna malah menggunakan tangan besi dalam pelaksanaan program itu. Penduduk yang keberatan dipindahkan dari tanah leluhurnya, tidak jarang kena cambuk bupati yang kemudian menjadi Gubernur Sultra dua periode itu. Kaimoeddin masih turunan langsung Raja Muna La Ode Dika sehingga Secara moriil merasa bertanggung jawab untuk mengangkat taraf hidup rakyat Muna yang terpasung penyakit malas.

        Sejalan dengan program resettlement itu Kaimoeddin mewajibkan penduduk Kabupaten Muna menanam jambu mete. Pemda membantu menyediakan bibit. Alhasil, Muna dan Sultra kemudian dikenal sebagai penghasil jambu mete terbesar di Indonesia. Selain diantarulaukan ke Surabaya, produksi ini diekspor pula ke India. Memasuki tahun tahun 2000-an, produksi jambu mete makin berkurang karena tidak dilakukan peremajaan.

        Pada masa booming produksi jambu mete, penduduk eks-Tongkuno diam-diam kembali membuka kebun di daerah leluhur mereka. Setiap tahun mereka panen besar, terutama sayur-sayuran. Jambu mete pun ditanam pula. Keberhasilan itu kemudian mendorong mereka kembali membuka perkampungan baru. Alhasil, Tongkuno kini telah dibagi menjadi 4 wilayah administrasi kecamatan dan 25 unit desa. Soal akses bukan masalah. Sebab daerah Tongkono sejak zaman Belanda dilintasi ruas jalan raya dari Kota Raha ke Tolandona, tempat penyeberangan ke Kota Bau-Bau.

        Penduduk di 25 desa itulah yang mengulang kembali penderitaan pendahulu mereka: kekeringan. Bupati Muna dokter Baharuddin telah melakukan langkah strategis untuk mengatasi masalah abadi itu. Dia memutuskan untuk menyedot air gua Langkeba, belasan kilometer dari perkampungan penduduk, melalui program pipanisasi. Namun, program belum dilaksanakan, Baharuddin keburu selesai masa jabatannya sebagai Bupati Muna periode 2010-2015. Sekarang dia ikut pilkada serentak 9 Desember bersama pasangannya La Pili. Besar peluangnya terpilih kembali, tetapi terserah rakyat apakah mau melanjutkan usaha meraih kesejahteraan (konkretnya hidup berlimpahan air dari pipa) yang telah dirintis dokter, atau status quo. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>