Menteri Amran Pulang Kampung

 Oleh Yamin Indas

    

Menteri Pertaian Amran dan Gubernur Nur Alam dikerubut warga di Desa Lere, Konawe Selatan, seusai panen di areal sawah 1.605 hektar. Foto Yamin Indas

  Di tengah cuaca terik di puncak musim kemarau tahun ini  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan panen padi sawah di dua tempat di Sulawesi Tenggara, Sabtu (24 Oktober 2015).  Di tempat pertama,  adalah di Desa Tosiba (Kabupaten Kolaka) pada areal 1.200 hektar, dan tempat kedua menjelang siang di Desa Lere (Kabupaten Konawe Selatan) seluas 1.605 hektar. Dalam kegiatan itu ia didampingi antara lain Gubernur Nur Alam. Ke dan dari kedua tempat tersebut mereka menggunakan helikopter melalui titik start Bandara Haluoleo Kendari.

        Ketika panen di Konawe Selatan, Amran menghidupkan memori masa lalunya. “Delapan tahun saya merintis karier di sini sebagai penyuluh pertanian lapangan dengan status pegawai harian,” tuturnya saat berbicara di depan para petani. Amran mengaku pulang kampung  atas kunjungannya ini. Bersama  teman-teman PPL lainnya, ia berjalan kaki dari Desa Andoolo ke Desa Anese  di Kecamatan Tinanggea. Berangkat pagi pulang sore. Gajinya Rp 150.000 per bulan. “Pernah tiga blan tidak dibayar gaji,” kenangnya seraya menambahkan, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya  bekerja melayani petani terkait usaha pertanian mereka.

        Amran menebarkan pandangannya ke arah hadirin sambil menyebut satu per satu teman-teman seperjuangannya dari PPL maupun warga masyarakat. “Pak Mega, ke sini (disuruh naik ke panggung). Pak Syawal … sekarang jadi camat ya,”  begitu Menteri Pertanian membuka diri terhadap warga masyarakat yang  pernah bekerja sama dan akrab dengannya selama 8 tahun menjalankan tugasnya sebagai PPL di Tinanggea, mulai tahun 1996. Selanjutnya ia memerintahkan pejabat terkait agar memberikan satu traktor tangan kepada Pak Mega, sahabatnya yang dia sebut sebagai orang jujur. “Benih dan lainnya yang saya bagikan tadi, harus diberikan pula kepada Pak Mega,” Amran mengingatkan.

        Seusai memotong padi secara simbolik bersama Gubernur Nur Alam, Menteri Pertanian menyerahkan sejumlah alat sarana produksi seperti traktor, benih unggul, dan dua buah mesin panen. Ia mengritik salah satu dirjennya karena hanya menyalurkan 13 unit traktor tangan kepada petani Desa Lere. “Saya tambahkan 100 traktor lagi dan harus diserahkan dalam tahun ini juga,” kata Amran yang sebelumnya dikenal pula sebagai pengusaha dan dosen Fakultas Pertanian Unhas.

Allah Swt Maha Pemurah kepada bangsa Indonesia. Di tengah terik puncak musim kemarau 2015, sebagian petani di Sulawesi Tenggara masih panen padi sawah. Ini hamparan sawah di Desa Lere (Konawe Selatan) yang secara simbolik dipanen Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto Yamin Indas

        Menanggapi laporan poduksi padi sawah yang masih di bawah 5 ton padi per hektar Amran mengatakan, produksi tersebut harus ditingkatkan menjadi 8 ton padi kering panen per hektar. Pemerintah akan segera menyediakan berbagai sarana produksi, tenaga PPL, dan sebagainya, terkait upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi dalam rangka mencapai swasembada pangan (beras) nasional. Menurut Amran, dalam satu tahun ini (2015), tidak ada impor beras. Bahkan kita mengekspor beberapa komoditas pangan tertentu.

        Di Desa Lere terdapat sarana irigasi berkapasitas 2.800 hektar. Tetapi sawah terolah pada musim hujan hampir 4.000 hektar, sebagaimana dituturkan warga bernama Lukman (42). Oleh karena itu, warga berharap irigasi tersebut diperbesar dengan membendung Kali Lambandia sebagai tambahan irigasi  Benua Aporo.

        Lokasi panen Menteri Pertanian Amran Sulaiman berjarak sekitar 110 kilometer dari Kota Kendari. Aksesnya adalah ruas jalan pada lintas tengah daratan jazirah Sulawesi Tenggara. Dua ruas jalan lainnya ialah lintas jalan lingkar Sultra (Kendari-Tinanggea-Kasiput- Poleang-Kolaka) sejauh 350 Km, dan ruas jalan poros Kendari-Kolaka (Kendari-Unaaha-Raterate-Kolaka) sepanjang 171 Km.

        Selanjutnya menurut Bupati Irawan, sawah fungsional di Konawe Selatan 22.980 hektar. Setelah dikurangi kebutuhan beras per kapita penduduk, kabupaten tersebut tahun ini mengalami surplus beras sebanyak 25.889 ton. Kendala yang dihadapi petani antara lain kelangkaan pupuk di pasaran, kurangnya alat pengolah lahan seperti traktor dan sebagainya. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>