Pembangunan Infrastruktur Menggelegar

Oleh Yamin Indas

 

      

Gubernur Nur Alam. Foto Yamin Indas

  RAKYAT sumringah melihat Pemerintahan Jokowi-JK jatuh bangun bekerja keras untuk mengatasi berbagai kesulitan bangsa ini. Keseriusan itu menciptakan optimisme dan membuat rakyat tidak terpengaruh ocehan kelompok sinis yang asyik menghitung waktu kejatuhan Jokowi-JK jika kelak nilai tukar rupiah telah berada pada lever tertentu. Padahal, rakyat pun tahu keterpurukan nilai tukar rupiah bukan dosa Jokowi-JK melainkan buah dari kebijakan di masa lalu dan pengaruh pergolakan ekonomi global.

Para pengoceh  boleh jadi kemudian mengalami panas dingin ketika rupiah mulai menguat pekan lalu. Situasi “mengejutkan” itu terpicu antara lain  kegigihan pemerintah melakukan deregulasi dan kebijakan ekonomi untuk merangsang para investor melakukan investasi. Di lain pihak, pembangunan infrastruktur dan sektor-sektor lain telah lebih dulu menggelegar di seluruh penjuru Tanah Air. Kegiatan ini membuat dana APBN mengalir deras sehingga memanaskan mesin ekonomi. Lapangan kerja pun terbuka lebar.

Gelegar tersebut ikut menggetarkan Sulawesi Tenggara, khususnya pembangunan infrastruktur jalan. Warga Kota Kendari sendiri selama musim kemarau beberapa bulan terakhir terpaksa bermandi debu dari penggalian dan penggusuran tanah oleh proyek-proyek pelabaran dan pelurusan badan jalan. Alat-alat berat meraung-raung sepanjang hari di hampir setiap sudut kota. Namun, semua itu tidak membuat  warga merasa terganggu. Sebaliknya malah senang dan bangga karena kotanya kemudian tampak sangat mewah atas kehadiran ruas-ruas jalan lebar dan beraspal mulus.

Median jalan di perempatan PLN Kendari tegak sendiri pasca penggalian badan jalan. Median ini bakal diratakan juga. Ini gelegar pembangunan infrastruktur di Kota Kendari. Foto Yamin Indas

Gubernur Sultra Nur Alam memang sangat terbantu oleh gemuruh pembangunan infrastruktur yang dilancarkan pemerintah pusat sekarang ini. Sebab ia juga telah bertekad membangun, memperbaiki,  dan  meningkatkan kualitas jalan di Sultra menjelang berakhir masa jabatannya yang  kedua,  periode (2013-2018).

Nur Alam melihat pembangunan infrastruktur jalan di Sultra sangat urgen terkait upaya percepatan pertumbuhan daerah. Tersedianya jaringan jalan mantap bakal melancarkan transportasi dan mobilitas barang dan orang, serta membuka peluang terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, struktur lapangan kerja baru, dan seterusnya. Oleh sebab itu, dalam visi misi Nur Alam saat proses pencalonan gubernur  tempo hari, pembangunan infrastruktur ditempatkan di urutan prioritas, di samping peningkatan sumber daya manusia melalui program kesehatan dan pendidikan gratis.

Kota Kendari oleh gubernur tentu saja diberi perhatian khusus dalam pembangunan infrastruktur karena kedudukan kota ini sebagai pusat pemerintahan provinsi. Beberapa penggal jalan yang merambati bukit dan penurunan, bukitnya dipotong (cutting) alias digusur agar permukaan jalan menjadi rata sejauh mata memandang. “Untuk pengamanan para pengendara dalam rangka menghindari kemungkinan kecelakaan berlalu lintas,” ujar mantan kontraktor tersebut.

Salah satu titik kritis yang menyulitkan para pengguna jalan adalah situasi di perempatan PLN. Di situ terdapat tanjakan ke arah bypass dan lampu pengatur lalu lintas (traffic light). Pada saat menyala lampu merah, para pengendara dari arah P2ID (Pusat Promosi dan Investasi Daerah) menuju jalan bypass dan yang mau ke arah kantor Imigrasi terpaksa berhenti dengan terus menghidupkan mesin kendaraannya sampai lampu hijau menyala. Bila rem kendaraan tak berfungsi alias macet, maka risiko kecelakaan sulit dihindarkan.

Kondisi genting tersebut kini tidak ada lagi setelah dilakukan cutting di semua arah. Kepada penulis, Gubernur berjanji akan melakukan tindakan serupa terhadap alur jalan dari bundaran Mandonga ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) di bilangan Punggolaka. Kecuali masalah tanjakan/penurunan, penggalan jalan tersebut agak berkelok sehingga rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Penyelesaiannya ditargetkan tahun 2016.

Gubernur Nur Alam konsisten mewujudkan misinya di bidang infrastruktur jalan. Di awal masa jabatan, sol sepatunya menipis bolak balik ke pihak-pihak yang menjanjikan program dan dana untuk mendukung pembangunan sektor tersebut. Di awal masa jabatannya (2008), kondisi jalan mantap tercatat hanya 63,52 persen dari 1.293,87 kilometer jalan nasional. Jalan mantap adalah sebuah kondisi jalan yang baik dan sedang. Arus lalu lintas mengalir lancar di ruas jalan seperti itu.

Pj Bupati Muna Barat LM Radjiun Tumada menangkap dengan cerdas gelegar pembangunan infrastruktur dengan program perbaikan dan peningkatan kualitas jalan di kabupaten baru Muna Barat. Bupati Radjiun dengan latar bekalang ruas jalan yang baru diaspal,  tengah mengarahkan para pekerja proyek untuk bekerja cerfmat. Foto Yamin Indas

Kini, keadaan jauh lebih baik. Jalan mantap pada tahun 2015 tercatat 91,18 persen dari 1.397,5 kilometer jalan nasional. Persentasenya cukup tinggi kendati terdapat ketambahan jalan nasional sepanjang 97,63 Km. Berstatus jalan nasional, pembiayaannya tentu bersumber dari pusat. “Tetapi anggaran tidak turun begitu saja tanpa perjuangan keras Pak Gubernur,” tutur Rundubeli Hamid Hasan, Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun kondisi jalan provinsi, menurut Rundubeli, tercatat 55,81 persen jalan mantap dari 488,8 Km jalan provinsi pada tahun 2008. Hingga tahun 2010 terjadi ketambahan jalan berstatus jalan provinsi hampir dua kali lipat yakni 417,29 Km. Ketambahan ini terkait dengan munculnya sejumlah kabupaten baru hasil pemekaran. Namun demikian, jalan provinsi dalam kondisi mantap tercatat 66,19 persen dari total  906,09 Km panjang jalan provinsi tadi.

Salah satu prestasi monumental dalam pembangunan infrastruktur selama kepemimpinan Nur Alam adalah hadirnya jembatan bermakna sangat strategis di hulu Sungai Konaweha. Kehadiran jembatan tersebut praktis membebaskan penduduk Kolaka Timur dari problem isolasi. Jembatan Sungai Konaweha Hulu tercatat sebagai jembatan terpanjang di Sultra. Bentangan sepanjang 237 meter di atas batang Sungai Konaweha, masih ditambah lagi 150 meter opritan di ujung jembatan wilayah Kabupaten Konawe dan 70 meter lagi di ujung wilayah Kolaka Timur. Jadi jembatan ini, memang  menghubungkan dua kabupaten.

Terwujudnya jembatan ini adalah buah dari komitmen tinggi Nur Alam terhadap pembangunan infrastruktur. Pembangunan jembatan ini membutuhkan dana Rp 40 miliar. Sedangkan APBD Sultra hanya mampu menyediakan Rp 4 miliar. Maka, gubernur pun  menempuh jalan terobosan. Dia meminjam dana dari PIP (Pusat Investasi Pemerintah) Kementerian Keuangan. Langkah ini dinilai tepat selain untuk mempercepat terwujudnya jembatan, juga untuk mengatasi pembengkakan anggaran akibat inflasi jika proyek ini ditangani bertahap beberapa tahun anggaran.

Ada lagi proyek monumental Nur Alam: jembatan Teluk Kendari!  Jembatan ini memperpendek hubungan transportasi kota berkarakter pantai teluk yang melingkar. Panjangnya sekitar 1,7 Km dengan biaya sekitar Rp 750 milyar. Pembangunan jembatan yang akan menjadi salah satu ikon Kendari sebagai kota wisata, mulai digarap tahun ini dengan dana APBN. Pembebasan tanah di kedua ujung jembatan telah diselesaikan dengan dana APBD Provinsi dan Kota Kendari.

Cerita menipisnya sol sepatu terkait jatuh bangunnya Nur Alam melobi pejabat pusat mulai eselon IV hingga tingkat menteri, bukanlah isapan jempol belaka. Bukti tak terbantahkan adalah meningkatnya secara tajam anggaran pembangunan infrastruktur jalan. Pada tahun ini (2015), misalnya, tercatat Rp 1,4 trilyun dana pemerintah pusat yang akan digelontorkan ke Sultra. Pada tahun 2008 hanya 84,2 miliar, dan Rp 26,2 miliar pada tahun 2005. Mengapa seminimal itu? Kepercayaan pusat kepada kemampuan daerah mengelola dan menyerap dana menjadi pertimbangan utama.***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>