Bau-Bau Kukuhkan Diri sebagai Kota Budaya

Oleh Yamin Indas

 

      

Bupati Buton Umar Samiun (kiri) dan Walikota Bau-Bau AS Thamrin bahu membahu membangun Buton melalui sentuhan budaya. Foto Yamin Indas

  BAU-BAU di Sulawesi Tenggara  mengukuhkan diri sebagai kota budaya. Predikat itu diekspresikan melalui tari kolosal yang digelar di stadion Betoambari, Kamis tanggal 15 Oktober 2015. Tari kolosal itu melibatkan 11.000 personel dalam busana pakaian warna warni tenun tradisional Buton, dan menampilkan kolaborasi beberapa tari tradisonal  yang dikreasikan menjadi tari semi konteomprer oleh Samsu Umar Abdul Samiun, Bupati Buton. Formasi dan konfigurasi juga didesain bupati tersebut.  Pertunjukan yang berlangsung hampir dua jam membuat Kota Bau-Bau nyaris berhenti berdenyut. Puluhan ribu warga kota menyaksikan pertunjukan spektakuler itu, tanpa terusik terik Matahari yang menyengat.

        Salah satu keunggulan masyarakat Buton adalah kesadarannya mengapreasi budaya sendiri. Setiap kali terjadi peristiwa budaya tidak dilewatkan tanpa dibanjiri untuk ditonton. Fenomena itu saya saksikan ketika digelar pertama kali festival Keraton Buton di kota itu awal tahun 1990-an. Puluhan ribu warga dari berbagai pelosok Buton dan pulau-pulau lain, tumpah ke  lokasi-lokasi pertunjukan. Secara kultural yang disebut masyarakat Buton adalah penduduk  berbagai subetnis yang mendiami eks-wilayah kesultanan Buton.

        Sultan Buton versi eksistensi budaya adat Nusantara saat ini, dr Izat Manarfa dan seluruh pembesar  perangkat   kesultanan, duduk di deretan kursi  depan panggung kehormatan menyaksikan karnaval budaya dan tari kolosal. DI situ juga tampak Bupati Buton Umar Samiun dan Walikota Baubau AS Thamrin, serta sejumlah Bupati dan Pj Bupati hasil pemekaran Kabupaten Buton. Semuanya menggunakan pakaian adat kesultanan Buton. Tidak ada pejabat pusat maupun provinsi ikut menyaksikan peristiwa budaya tersebut.

        Bupati Buton Umar Samiun dan Walikota Bau-Bau secara bergilir sering menggelar peristiwa budaya, baik di ibu kota Kabupaten Buton, Pasarwajo, maupun di Kota Bau-Bau. Sebelumnya, Samiun telah menggelar tari kolosal di Pasarwajo yang melibatkan 20.000 personel. Kedua kepala daerah memiliki komitmen untuk menelusuri dan menggali  keagungan Kesultanan Buton di masa lalu terutama bidang seni budaya.

Agar upaya tersebut lebih optimal,   maka pembentukan provinsi baru yang akan diberi nama Provinsi Kepulauan Buton, kini menjadi sangat relevan. Terkait dengan aspirasi yang prosesnya telah menggelinding beberapa tahun terakhir,  Gubernur Sultra Nur Alam telah menunjuk Umar Samiun sebagai  Ketua Pelaksana Harian Panitia Percepatan Pembentukan Provinsi Kepulauan Buton.

        Kota Bau-Bau telah disepakati sebagai calon ibu kota Provinsi Kepulauan Buton. Bau-Bau yang dijuluki Kota Keraton akan memperingati hari jadi ke-474 dan hari ulang tahun ke-14 sebagai kota otonom pada tanggal 17 Oktober 2015 ini. Peresmian sebagai kota otonom ditandai pelantikan Umar Abibu sebagai penjabat walikota. Ketika dilakukan pemilihan walikota definitif, Amirul Tamim bersama Ibrahim Marsela terpilih sebagai walikota dan wakil walikota pertama Bau-Bau. Kini, Kota Bau-Bau dipimpin AS Thamrin dan Waode Waasara Manarfa sebagai walikota dan wakil walikota.

        Maka, dalam rangka hari jadi itulah, digelar acara karnaval budaya adat Nusantara dan tari kolosal se-Kota Bau-Bau. Beberapa kesultanan dan pemerintah kota di kawasan timur ikut diundang di antaranya Tidore Utara, Ternate, Gianyar (Bali), Raja Bone dan Raja Gowa (Sulawesi Selatan). Karnaval yang dibuka dengan atraksi marching band Pemkot Bau-Bau, menampilkan barisan wakil-wakil etnis yang ada di kota Bau-Bau. Mereka juga  menampilkan tari khas daerahnya sekalipun dalam bentuk cuplikan saja. KKBK (Kerukunan Keluarga Besar Kabaena), misalnya, sempat menampilkan cuplikan tari lumense dan tari lulo alu ketika barisannya tiba di depan panggung kehormatan.

         Tetapi atraksi yang lebih memukau adalah tari kolosal. Penampilannya dibagi empat kelompok. Kelompok pertama dan kedua menampilkan tari petimbe dan ponare, semacam tari perang. Pelakunya terdiri atas anak-anak usia SD dan SMP dengan properti berupa tombak yang dicet merah darah. Ikat kepala juga berwarna merah. Seluruh peserta meloncat-loncat seraya berteriak heroik dan mengangkat tombak dengan gerak teratur mengikuti irama bunyi gendang. Teriakan itu menggetarkan lapangan hijau Stadion Betoambari.

Tai ri kambero yang melibatkan 11.000 penari dalam konfigurasi membentuk formasi bentgeng Keraton Buton. Foto Yamin Indas

        Kelompok kedua sebanyak 2.500 putra putri menampilkan tari bosu, gerak tari yang diselingi menjunjung guci air di atas kepala seraya melambaikan ujung selendang yang terlilit di pinggang. Dari kejauhan para penari terlihat menggunakan seragam anak sekolahan putih abu-abu.  Ternyata rok bawahnya adalah kain adat khas Buton  bergaris-garis kombinasi warna silver dan biru tua. Mereka kemudian membentuk konfigurasi berbentuk perahu sope, sejenis perahu tradisional yang diandalkan orang Buton sebagai pelaut tangguh. Atraksi ini membuat lapangan  stadion seperti terapung di lautan massa penonton yang bersorak.

        Atraksi paling menyedot perhatian penonton  adalah penampilan tari kambero (tari kipas) yang diperagakan seluruh peserta tari kolosal. Yakni 11.000 personel. Ketika kipas dikembangkan menampilkan warna pelangi dalam konfigurasi benteng Keraton Buton yang menjadi saksi kebesaran dan keagungan Kesultanan Buton di   masa lalu. Terdengar sayup-sayup lagu Sope-Sope dan Kabaena Kampo Tangkeno sebagai ilustrasi penampilan tari kambero ini.

Menjelang berakhirnya atraksi ini sebuah panggung mini yang ditandu beberapa orang, bergerak di tepian formasi penari. Di panggung itu tergolek seorang gadis cantik berkulit putih mulus dalam busana putri duyung berwarna biru tipis. Gadis ini melambai-lambaikan sapu tangan ke arah penonton di  sekeliling lapangan hijau Stadion Betambari. Putri duyung adalah legenda terkenal di masyarakat tradisional Sultra.

Akhirnya, tari kolosal dengan kolaborasi beberapa seni tari tradisional hasil kreasi Umar Samiun secara keseluruhan mengekspresikan Buton dan Kota Bau-Bau sebagai salah satu pusat budaya dan perabadan di Tanah Air. Budaya dan adat masyarakat Buton telah berkembang sejak sekitar 700 tahun silam, seperti dikatakan mendiang Drs La Ode Manarfa kepada saya pada suatu kesempatan.

Semangat heroisme yang ditampilkan tari potimbe dan ponare juga mengungkapkan, semangat bela negara sudah tumbuh menjadi tradisi masyarakat Buton sejak leluhur mereka. Karena itu, gagasan Mnhan Riyamizard  Riyacudu bagi masyarakat Buton, tidak menagada-ada.

Pernyataan yang sering dikemukakan Bupati Buton Umar Samiun bahwa Buton harus dibangun dengan dua kekuatan yakni potensi aspal alam dan budaya, juga sangat realistis. Sembilan ribu dari 11.000 peserta tari kolosal menggunakan kain adat Buton dengan harga paling rendah Rp 150.000 per lembar, bisa hitung berapa duit yang jatuh ke tangan penenun tradisional dalam masyarakat Buton.  Harga guci (bosu) yang digunakan dalam atraksi tari bosu tidak sedikit pula. Harganya befrkisar Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per buah. Bosu tersebut merupakan hasil kerajinan orang Katobengke yang mendiami pinggiran pantai Kota Bau-Bau. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>