Ketika Zayat Dilantik Sebagai Pj Bupati Muna

Muhammad Zayat Kaimoeddin Foto Yamin Indas

Oleh Yamin Indas

 

        SUASANA  agak berbeda dari pelaksanaan acara serupa yang pernah saya hadiri. Di teras lobi Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara yang tergolong megah, itu sejak pagi terlihat beberapa karangan bunga ucapan selamat dari kalangan dunia usaha. Saya pikir ini sebuah surprise. Seandainya saja Muhammad Zayat Derik Kaimoeddin ini dilantik sebagai Bupati Muna definitif, dia akan sukses besar  mengemban amanah itu karena terbukti mendapatkan dukungan luas masyarakat.

     Namun, dengan hanya sebagai Pejabat pun  Derik mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dia kelak bakal menjadi orang besar mengikuti jejak ayahnya mendiang Drs Haji La Ode Muhammad Kaimoeddin, mantan Bupati Muna dan mantan Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode. Paling tidak dia menjadi bupati atau walikota.

        Pelantikan di lantai tiga ruang pola Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, agak molor hampir sejam. Ketika Gubernur Nur Alam memasuki ruangan kemudian diikuti Derik dalam setelan putih-putih, PDU (pakaian dinas upacara), hadirin menyambutnya dengan aplaus yang menggetarkan ruang rapat tersebut. Sikap Derik juga menunjukkan dia seorang alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri  yang kenyang dengan tempaan dan latihan militer. Hal itu terlihat ketika dia membanting kaki kanan kemudian memberi hormat secara militer kepada Gubernur Nur Alam. Aplaus hadirin kembali membahana dan menggetarkan ruang pola Kantor Gubewrnur Sultra.

        Suasana dan sikap seperti itu tak terlihat pada upacara serupa sebelumnya. Seperti dijelaskan Gubernur Nur Alam dalam sambutan pelantikan, Zayat ini adalah Pj Bupati ke-14 yang dilantik sejak dia bersama Saleh Lasata menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (2008-2013, dan kini 2013-2018). “Ini yang keempatbelas di luar hasil pilkada”, ujar Nur Alam.

        Penunjukan dan pelantikan Zayat yang biasa dipanggil Derik, terasa agak istimewa bagi Gubernur Nur Alam. Jauh hari sebelum pelantikan, dia berpesan kepada salah satu keluarga Derik agar pelantikan nanti dihadiri semua keluarga besar Kaimoeddin. Malam sebelum pelantikan saya dan beberapa kawan juga mendapat kehormatan diundang langsung Gubernur Nur Alam untuk menghadiri acara pelantikan Pejabat Muna tersebut. Sebagian besar keluarga Derik tampak hadir kecuali ibundanya Hj Andi Norma Kaimoeddin. “Saya mohon maaf, saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur yang memberi kepercayaan kepada anak saya, hanya secara fisik saya merasa belum saatnya untuk hadir nanti”, kata mantan first lady Sultra itu serius beberapa minggu sebelum pelantikan putra keduanya sebagai Pj Bupati Muna.

     Suasana pelantikan Zayat di ruang pola lantai tiga Kantor Gubernur Sultra. Ketua PKK Sulawesi Tenggara Dra Tina Nur Alam (kedua dari k
iri) ikut menyaksikan. Foto Yamin Indas

   Nuansa lain yang menarik ialah suara Gubernur Nur Alam yang mendadak dilembutkan saat membaca kata-kata pelantikan. Derik juga secara spontan mengikuti dengan nada lembut saat melafazkan kata-kata pelantikan. Dalam sambutannya Nur Alam mengemukakan alasan mengapa dia harus bersuara lembut saat membacakan kata-kata pelantikan. “Saya minta Pejabat Bupati Muna ini tidak dijadikan obyek eksperimen politik praktis ketika dia menjalankan tugas”, katanya serius.

        Maksud Gubernur ialah terciptanya suasana politik yang lembut, damai, serta penuh persahabatan dan kekeluargaan    di Kabupaten Muna selama Zayat mengendalikan pemerintahan sebagai Pejabat Bupati Muna. “Tidak lama dia menjabat, paling satu tahun”, katanya.  Gubernur merasa perlu meminta perhatian itu terutama kepada tokoh-tokoh masyarakat Muna karena dia sangat memahami situasi dan kultur politik masyarakat di kabupaten itu.

        Tugas pokok Pj Bupati Muna adalah menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat, serta memfasilitasi penyelenggaraan pilkada serentak bulan Desember tahun ini. Gubernur Sulawesi Tenggara mengingatkan dalam pesta demokrasi itu PNS harus netral.

Zayat bersama istri Andi Fitrianti dan keluarga lain. Foto Yamin Indas

  Pelantikan Zayat didahului penyematan pin penghargaan kepada Dokter Baharuddin di menit-menit terakhir masa jabatannya sebagai Bupati Muna periode 2010-2015 . Pin pertama sebagai Pembina Kebudayaan diterima dari Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia (LKNI) dan disematkan Ketua LKNI Totok Sudarwoto.  Sedangkan pin kedua dari Kuartir Nasional Gerakan Pramuka yang disematkan Gubernur Nur Alam.

        Dokter Baharuddin dipastikan ikut maju dalam pilkada tersebut. Ia berpasangan dengan anggota DPRD Sulawesi Tenggara La Pili. Sedangkan mantan pasangannya periode lalu La Ode Malik Ditu, akan berpasangan dengan Rusman Emba, mantan Ketua DPRD Suawesi Tenggara periode 2009-2014. Gubernur berharap agar Baharuddin kembali memimpin Muna untuk periode berikutnya. “Pak Malik Ditu pun saya doakan agar sukses dalam pilkada nanti”, ujar Gubernur Nur Alam. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>