Muna Jangan Kehilangan Momentum

 

Oleh Yamin Indas

Bupati Muna dokter Baharuddin

MUNA, salah satu pilar terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara, kita harapkan tidak kehilangan momentum pembangunan yang telah berdenyut pada posisi on the track. Sederetan keberhasilan yang telah diraih selama lima tahun terakhir harus dirawat dan dikembangkan lebih luas lagi ke seluruh pelosok. Apabila momentum emas ini lepas atau terputus, maka boleh jadi kabupaten ini akan kembali terseok dan kehilangan orientasi.

        Ada empat kabupaten yang menjadi pilar terbentuknya Provinsi Sultra tahun 1964. Tiga lainnya adalah Buton, Kendari, dan Kolaka. Tanpa kita mencermati sejarah, pilar-pilar tersebut akan kabur seiring perkembangan pemerintahan dan birokrasi di Tanah Air. Cakupan Provinsi Sultra kini bukan lagi empat tetapi 15 kabupaten dan dua kota (otonom).

        Pengamatan saya selama ini sulit bergeser dari menempatkan Kabupaten Muna tetap di posisi underdog dari tiga pilar lain tadi. Kabupaten ini tertidur lelap di tengah belantara hutan kayu jati alam dan jati kultur. Tetapi ketika potensi emas hijau itu habis ludes dicuri manusia serakah, ekonomi masyarakat Muna terpukul. Tetapi belakangan ini kelihatan menggeliat. Dinamika dan semangat tersebut agaknya harus diakui muncul dari cara pendekatan dan strategi dokter Baharuddin selaku bupati yang mengelola pembangunan di sana, sejak  lima tahun lalu. Langkahnya tepat. Dia terlebih dulu memotret peta persoalan, lalu bergerak menanganinya satu per satu sesuai urutan paling prioritas.

        Program yang dijadikan prioritas adalah kegiatan yang dapat memberi kontribusi sub-sub sektor lain  sehingga pembangunan terlihat bergerak simultan. Jadi ibarat suatu penyakit tidak sekadar diberi obat penenang (aspirin). Maka, tidak heran jika pembangunan di Muna dalam lima tahun terakhir mengalir nyaris ke semua pelosok, kendati dengan skala agak kecil karena keterbatasan biaya. Tetapi strategi pemerataan itulah yang membedakan Baharuddin dengan para pendahulunya yang cenderung menggunakan model pembangunan terpusat. Pembangunan Desa Guali dan Kompleks Olahraga La Ode Pandu, bisalah disebut sebagai contoh.

        Apakah titik-titik strategis yang disasar dan menjadi concern Baharuddin? Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, produksi pertanian! Muna paling tertinggal dari kondisi prasarana perhubungan yang nyaman. Pulau ini sebetulnya dibelah jalan provinsi. Namun, masyarakat Muna mengaku belum pernah merasakan kenyamanan melintasi  jalan poros utama tersebut. Masalah ini yang telah dan akan terus dijawab dokter tersebut.

        Bahkan, sejumlah kecamatan yang berada di daratan Pulau Buton tidak dibiarkan terisolasi dari pusat pemerntahan kabupaten di Kota Raha. Dengan dana APBD Muna, wilayah tersebut telah dibuatkan jembatan pelabuhan kapal feri di Pure, titik terdekat dengan Raha.   Sebuah lagi dermaga feri masih akan segera dibangun di daratan Pulau Muna sehingga daerah seberang itu dapat dengan mudah dihubungkan melalui jembatan terapung (armada feri) setiap saat.

        Kurang dari satu jam saya ngobrol dengan Baharuddin di loby Hotel Clarion Kendari, sambil menunggu pembukaan rapat kerja pembangunan kesehatan daerah oleh Gubernur Nur Alam, Rabu 2 September 2015, lebih dari cukup untuk memahami jalan pikiran dan agenda bupati berumur 58 tahun, itu.

Tentang pembangunan rumah sakit modern di kota kabupaten, Raha,  ia mengatakan, pembangunan tersebut terkait dengan upaya pengembangan sumber daya ekonomi menuju Muna yang mandiri. Rumah sakit itu akan menahan 80 sampai 90 persen pasien rujukan yang akan berobat keluar Muna. Dengan demikian, dana kesehatan dari masyarakat tetap akan beredar dan menjadi sumber kekuatan ekonomi lokal.

        Selain itu, kehadiran rumah sakit modern tersebut bakal mengatasi pasien gawat yang membutuhkan pertolongan tidak kurang dari waktu delapan jam. Menurut Baharuddin, pasien patah tulang, strok atau serangan jantung membutuhkan pertolongan lebih cepat, tidak boleh lebih dari delapan jam pasca serangan. Lebih dari itu akan berakibat fatal, dengan risiko mati atau cacat seumur hidup.    Ini sasaran jangka pendek terkait pelayanan yang ingin diwujudkan rumah sakit berkapasitas 300 tempat tidur itu. Peralatan dan tenaga medis disediakan secara bertahap sesuai kemampuan APBD. Dokter spesialis kini sudah tersedia 18 orang. Adapun dokter super spesialis seperti ahli ginjal, misalnya,  juga akan diupayakan kehadirannya melengkapi keunggulan rumah sakit di Kota Raha tersebut.

        Sektor lain yang akan ditangani dalam rangka menciptakan kemandirian dan daya saing Muna adalah pembangunan di bidang pendidikan tinggi. Menurut Baharuddin, setiap tahun Muna menghasilkan tamatan sekolah lanjutan tingkat atas lebih dari 2.000 orang. Mereka ini perlu diberi pilihan dengan menyediakan pendidikan tinggi yang secara ekologis sesuai kebutuhan pembangunan daerah Muna maupun daerah Sultra kepulauan pada umumnya. Dengan demikian,  tercapai dua tujuan sekaligus yakni mendekatkan pelayanan pendidikan yang lebih  terjangkau,  dan dana pendidikan dari masyarakat juga tak tersedot ke daerah lain.

        Muna adalah daerah subur. Lahan di sana umumnya berkapur sehingga tanaman apa saja bisa tumbuh. Persoalannya, usaha pertanian rakyat selama ini belum ditangani pemerintah secara optimal. Jagung, misalnya, sebagai tanaman pokok dan untuk konsumsi utama warga sendiri, selama ini belum disentuh pola intensifikasi secara serius oleh pemerintah.  Sering muncul pihak swasta bekerja sama dengan petani untuk memproduksi jagung secara massal. Namun, rakyat lebih banyak dikecewakan karena setelah panen, harga jagung hanya akan dibeli separuh lebih rendah dari perjanjian.

        Tetapi Baharuddin lebih optimistis upaya peningkatan produksi jagung berskala besar akan lebih baik dan optimal, ke depan. Sebab pemda akan bahu-membahu dengan Kementerian Pertanian untuk memacu produksi dalam rangka mewujudkan swasembada jagung secara nasional.  Programnya akan lebih menarik karena kepada petani disediakan sarana produksi seperti bibit unggul, pupuk, dan mungkin Juga biaya olah lahan.

        Agenda yang tak kalah menariknya adalah rencana Kementerian Pertanian menempatkan satu unit pabrik gula berskala besar di Kabupaten Muna. Menurut Baharuddin, pembangunan industri tersebut bakal melibatkan banyak petani yang akan mengelola perkebunan tebu di atas lahan sendiri, dan hasilnya dijual ke pabrik gula. Program perkebunan tebu rakyat tersebut telah mulai disosialisasikan jajaran Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sultra sejak awal tahun ini.

        Pendek kata, rakyat Muna harus mampu menangkap dan memelihara momentum pembangunan yang kini sedang mulai menggelegar di sekujur pulau itu. Pilkada yang akan digelar bulan Desember 2015 harus dijadikan ajang penguatan legitimasi sebuah kepemimpinan yang telah terbukti mampu mengantarkan momentum pembangunan Muna sehingga berada pada posisi on the track  seperti sekarang ini.  ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>