Penyelidikan Kaaus Gubernur Sultra Dihentikan

Oleh Yamin Indas

    

Nur Alam (foto 2005)

JUMAT pagi sekitar pukul 08.00 WIB, tanggal 28 Agustus 2015. Pada hari yang penuh berkah itu Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi (48) dinyatakan tidak terbukti melakukan korupsi maupun melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dipublikasi bertubi-tubi media massa secara sepihak selama kurang lebih dua tahun terakhir. Oleh karena itu, seluruh kegiatan penyeledikan kasus ini telah dihentikan.

Keputusan penting ini disampaikan langsung pemegang otoritas tertinggi sebuah institusi penegak hukum kepada Nur Alam. Yaitu institusi yang sejak awal menangani tuduhan keterlibatan Nur Alam dalam apa yang dilaporkan masyarakat sebagai kasus korupsi ataupun tindak pidana pencucian uang.

Berita tersebut diungkapkan Nur Alam dalam suatu pertemuan silaturahim dengan para kepala SKPD (Satuan Kerja dan Perangkat Daerah) Provinsi, kerabat, sahabat dan teman-temannya di rumah pribadi, bilangan Wua-Wua Kendari, Minggu malam tanggal 30 Agustus 2015. Hampir semua yang hadir meluapkan rasa gembira dengan aplaus, dan selanjutnya hening, ingin mendengarkan keterangan lebih lanjut dari gubernur.

“Jadi, untuk masalah ini sudah selesai, kecuali kalau ada masalah yang lain lagi, saya tidak tahu”, katanya dengan nada bergurau. Ia mengaku banyak dibuat repot oleh tuduhan ini, kendati tidak sampai mengganggu pekerjaan. Pasalnya, ada juga pihak yang memanfaatkan dengan mengail di air keruh. “Ada sebuah koran Jakarta yang halamannya akan memuat rumor tersebut kami harus bicarakan di luar negeri. Bayarannya juga mencapai ratusan juta”, tutur Nur Alam.

Heboh isu korupsi Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam yang dikenal sebagai rekening gendut terkuak melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, lembaga yang selama ini memasok data dan informasi buat institusi Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung. Dari lembaga inilah media sebenarnya mendapatkan pasokan informasi perihal apa yang disebut Rekening Gendut Nur Alam. Media (cetak dan elektronik) kemudian mem-blolw-up isu ini seolah-olah hasil temuan mereka sendiri (investigative reporting).

Seiring dengan itu Kejaksaan Agung didesak dengan modus konfirmasi dan klarifikasi: mengapa laporan PPATK belum ditindak lanjuti, kapan Nur Alam dijadikan tersangka, dan lain-lain pertanyaan menjebak dari para awak media. Ketika terjadi pergantian Jaksa Agung dalam rangka pembentukan kabinet oleh pemerintahan baru Jokowi-JK, giliran Jaksa Agung baru mendapat tekanan publik akibat gencarnya pemberitaan media terkait polis AXA Mandiri yang melibatkan nama Gubernur Sultra.

Jaksa Agung didesak agar langsung saja menaikkan kasus ini ke tingkat penyidikan karena apa yang telah dilaporkan PPATK sudah merupakan HP (hasil penyelidikan), sudah barang jadi begitu. Artinya, Jaksa Agung telah diintervensi oleh kekuatan yang digunakan lawan-lawan politik Nur Alam. Mereka menafikan langkah-langkah penyelidikan yang sebenarnya telah dilakukan Kejaksaan Agung sejak hampir dua tahun lalu. Bahkan, Nur Alam pun telah dimintai keterangan.

Mr Cheng bukan Mr Choang

Apa dan bagaimana sesungguhnya Rekening Gendut Nur Alam? Dalam suatu kesempatan Gubernur Nur Alam mengatakan tuduhan itu bertolak dari masalah yang memang kabur. Namanya juga fitnah. Sebagai contoh Mr Choang (baca Coang) dikatakan bahwa orangnya adalah Mr Cheng juga. Choang alias Cheng, begitu.

Padahal, faktanya berbeda. Choang adalah orang Taiwan yang beristrikan seorang wanita Pontianak. Suami istri ini adalah pengusaha tambang nikel di Kabaena di bawah bendera PT Billy Indonesia dan PT Anugrah Harisma Barakah. Sedangkan Mr Cheng adalah orang China (Tiongkok), mantan pengusaha kayu jati di Muna. Dalam tuduhan disebutkan Mr Choang alias Mr Cheng telah mengirim dana sebesar 4,5 juta dollar AS ke Nur Alam yang disamarkan sebagai polis asuransi melalui PT AXA Mandiri.

Nur Alam mengakui adanya titipan Mr Cheng yang ditransfer ke PT AXA Mnndiri. Ia menjelaskan, polis asuransi itu bukan polis asuransi kesehatan, atau polis asuransi jiwa untuk Nur Alam. Tetapi polis itu adalah polis asuransi investasi, sebuah bidang usaha keuangan yang dikelola PT AXA Mandiri. Masih kata Nur Alam, polis investasi itu memang atas namanya secara pribadi sesuai kepesepakatannya dengan Mr Cheng. Kesepakatan itu adalah semacam jaminan kepada seorang sahabat bahwa Mr Cheng akan kembali ke Sultra untuk berbisnis. Jadi Mr Cheng bukan pengusaha tambang nikel sebagaimana dituduhkan dan dikaitkan kepada Nur Alam.

Nur Alam menuturkan lebih lanjut, dalam suatu kunjungannya ke Hongkong beberapa tahun lalu secara tak disangka-sangka ia bertemu Mr Cheng. Mereka bersahabat saat Mr Cheng masih berbisnis kayu jati di Muna puluhan tahun silam. Nur Alam sendiri adalah pengusaha sebelum menjabat Gubernur Sultra.

Uang Mr Cheng itu kemudian dikembalikan seluruhnya. Pasalnya, Mr Cheng tak kunjung datang juga ke Sultra untuk membuka bisnis. Di lain pihak, ketika itu dollar AS melemah terhadap rupiah. “Agar tidak makin tergerus oleh kurs dollar yang melemah saat itu, maka saya minta uang itu ditarik kembali”, kata Nur Alam. Selanjutnya ia menyerahkan masalah itu kepada proses hukum di tangan Kejaksaan Agung.

Menurut Nur Alam, institusi penegak hukum lain juga berminat menangani tuduhan ini. Itu karena didorong-dorong sejumlah pengusaha hitam yang ingin menjatuhkannya dari jabatan sebagai gubernur. Mereka (pengusaha hitam) juga didukung oknum pejabat dan mantan pejabat yang berseberangan dengan Nur Alam. “Mereka kasak kusuk di Kejaksaan Agung, KPK, dan Bareskrim Polri. Saya pasrah saja. Sebab saya yakin tidak ada tindak pidana korupsi yang saya langgar. Tidak ada keuangan negara yang digunakan, kecuali uang pribadi Mr Cheng yang pernah dititipkan”, katanya. ***

Nur Alam (Foto 2005)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>