Desa Wisata Tangkeno Terus Digenjot

 

Oleh Yamin Indas

 

     

Bupati Bombana Tafdil. Foto Yamin Indas

Spanduk penyelenggaraan Festival Seni Budaya Tangkeno di Tangkeno 1-6 September 2015. Ini prakarsa Tafdil untuk menggenjot Tangkeno sebagai desa wisata di Bombana. Foto Yamin Indas

   BUPATI BOMBANA M Tafdil, bersungguh-sungguh membangun Desa Tangkeno sebagai kawasan wisata yang akan mendorong peningkatan pembangunan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Kabaena. Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas karena bisa mempercepat pertumbuhan potensi pariwisata yang dimiliki desa berhawa sejuk di Pulau Kabaena itu.

        Dalam sebuah acara yang dirangkaikan dengan festival seni budaya Kabaena di bulan Mei 2013, Desa Tangkeno dicanangkan sebagai desa wisata di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, oleh Bupati Tafdil. Kawasan itu pun secara resmi mengusung tagline atau slogan Tangkeno Negeri di Awan. Mengapa? Desa ini memang terletak di lereng Gunung Sangia Wita (1850 M) sehingga hampir setiap saat ia berselimutkan awan.

         Suhu udara di Tangkeno pada bulan Juli-Agustus bisa mencapai 18 derajat celcius. Waktu mudik ke sana awal Agustus 2015, saya merasa seperti di Darwin, ibu kota Negara Bagian Utara Australia. Bedanya, di Darwin saya menginap di hotel berkelas, sedangkan di Tangkeno di gubuk sendiri. Tetapi kenyamanan dan suasana damai rasanya tentu saja lebih dalam di kampung sendiri itu.

        “Dingin di sini ya”, ujar Jett, salah satu rombongan turis dari Texas, Amerika Serikat, ketika baru saja duduk di rumah mantan Kades Tangkeno Abdul Madjid Ege, awal Agustus 2015. Rombongan itu berjumlah 5 orang ditambah seorang guide dari biro perjalanan yang memiliki kantor perwakilan di Kota Bau-Bau, Pulau Buton. Mereka terkesan bukan cuma pemandangan alamnya tetapi juga keramahan penduduk Tangkeno.

        Jett yang berprofesi guru menyatakan sudah kedua kali ini berkunjung ke Tangkeno. Dia melihat ada kemajuan. Akses jalan ke Tangkeno makin baik. Di Desa Tangkeno juga  tampak bangunan-bangunan pemerintah maupun milik warga yang mulai berbenah.

        Ia memuji lokasi gubuk saya yang tepat berhadapan dengan lereng dan puncak Sangia Wita, gunung terbesar kedua di Pulau Kabaena. Dari situ tampak pantai dan laut, tentu saja dari kejauhan. Hill-view, coastel-view, and sea-view adalah panorama alam yang tersaji di situ. Puncak Watu Sangia berbentuk buah dada (maaf, wanita) tampak berkilau diterpa sinar Matahari jika tidak sedang berselimutkan awan.

        Salah satu daya tarik Tangkeno, memang pemandangan alam. Sebab ia terletak di lereng gunung yang memudahkan pengunjung menyaksikan sebagian besar sosok Pulau Kabaena yang alamnya bergunung-gunung itu.  Setelah pemandangan alam, di sana terdapat benteng-benteng pertahanan yang disusun secara primitif leluhur orang Kabaena. Tangkenolah pusat peradaban manusia Kabaena yang asal usulnya adalah suku Moronene di daratan besar semenanjung tenggara Pulau Sulawesi.

Masyarakat ini kemudian menerima pengaruh sosial budaya dari suku Bugis-Makassar, Buton, dan Muna, bahkan pengaruh Maluku (Tobelo). Tetapi yang terakhir ini lebih sebagai penyerang untuk merampas harta benda warga Kabaena. Sifat agresor Tobelo inilah yang memotivasi pembangunan sejumlah benteng di Tangkeno dan sekitarnya.

        Ada juga air terjun yang belakangan dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi warga lokal dan pengunjung. Jaraknya sekitar 4 km dari pusat desa, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor. Air terjun tersebut merupakan bagian dari batang Sungai Lakambula, yang membelah hampir sepertiga daratan Pulau Kabaena. Sungai ini berbatu-batu besar dan berair sejuk pula.

Rombongan turis dari Texas, Amerika Serikat. Dari kiri arah jarum jam: Mike (ahli Tata Kota), Tommy (guru besar teologi), Erika (Administartive Asst), Jett (guru), dan Carol Ann (ibu rumah tangga). Foto Yamin Indas

        Agak ke hulu dari air terjun terdapat lesung batu di bibir sebuah kolam berair bening. Daerah itu kemudian disebut Watu Nohu (batu lesung, istilah lokal). Lesung batu tersebut memiliki tiga buah alu penumbuk. Salah satu di antaranya mirip ulekan cabe. Bisa dipastikan bahwa lesung batu tersebut merupakan peninggalan zaman batu tengah (mesolitikum). Pada zaman ini  kehidupan manusia dipandang lebih maju dibanding kehidupan zaman batu tua (paleolitikum). Manusia mulai hidup agak menetap dan mempunyai alat untuk mengolah makanan seperti lesung batu tadi. Dengan adanya situs masyarakat primitif tersebut, Tangkeno patut dijadikan obyek penelitian buat kajian-kajian peninggalan prasejarah di Tanah Air.

        Di arah lain, yaitu di lembah Wa Ombu ada batu misterius yang disebut Watu Amala-a. Disebut begitu karena di zaman pra-Islam batu itu digunakan sebagai perantara manusia dengan Tuhannya. Melalui batu itu mereka berdoa untuk mendapatkan kesejahteraan. Batu itu dimitoskan memiliki dua anak, tetapi anak yang lebih kecil sering diambil tangan-tangan jahil. Ketika saya mengunjungi tempat itu tahun 2012, terlihat hanya satu anaknya terbaring di sisi induknya. Bentuknya memang mirip induknya yang tergeletak di atas lahan urukan batu kali. Batu induk ini mirip buaya buntung (tanpa ekor).

        Kecuali sebagai wisata budaya dan sejarah, Tangkeno juga memiliki potensi wisata kuliner. Pengunjung bisa menikmati antara lain nasi bambu dari ketan, berbagai kue dari tepung beras ketan, air gula arena segar, gula kelapa.  Ada juga dodol khas Kabaena yang diproduksi di desa lain, yaitu Desa Batuawu, salah satu pelabuhan akses Tangkeno Negeri di Awan. Tumbuhnya kerajinan rumah tangga tersebut merupakan dampak positif dari pembangunan daerah tujuan wisata di Tangkeno yang letaknya di pedalaman (pegunungan) Pulau Kabaena. Penduduk di sepanjang jalan menuju desa tujuan wisata tersebut dapat mengembangkan usaha-usaha kreatif seperti dodol tadi atau mengupayakan tempat rekreasi alami yang spesifik.  Semakin banyak obyek menarik, pengunjung Kabaena akan semakin padat pula. Secara ekonomis warga lokal pasti menikmati kunjungan tersebut dari pengeluaran belanja makan minum dan biaya penginapan selama mereka berada di pulau itu.

        Dari sisi itulah Tafdil melihat urgensinya pembangunan potensi pariwisata di Kabaena. Penduduk lokal diarahkan bergaul dengan masyarakat dari kalangan lebih luas dan mendunia melalui program pariwisata. Pemerintah pusat juga mendukung. Sejumlah homestay dan fasilitas lain yang saat ini tengah dibangun di sebuah alun-alun (plaza), sebagian dibiayai dengan dana Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

        Pemerintah Kabupaten Bombana sendiri kini sedang fokus membangunan sarana air bersih dengan sistem pompanisasi. Air baku diambil dari sebuah lembah dan selanjutnya dialirkan ke atas dengan tenaga listrik untuk dimanfaatkan penduduk. Proyek itu ditargetkan selesai dan berfungsi saat penyelenggaraan Festival Seni Budaya Tangkeno yang dijadwalkan 1-6 September 2015. Festival itu disesuaikan dengan program Sail-Indonesia.

        Seperti halnya festival sebelumnya, Festival Seni Budaya Tangkeno menggelar berbagai atraksi budaya masyarakat Kabaena, termasuk cerita-cerita rakyat dalam rangka melestarikan kebudayaan masyarakat Moronene di Kabaena. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>