Mengenang Wafatnya Guru Haji Daud

Oleh Yamin Indas

      

Guru Haji Daud (alm). Gambar diambil tahun 1980 di rumah Yamin Indas

  TAK terasa Guru Haji Daud kini telah 30 tahun meninggalkan anak-anak spiritualnya, masyarakat Kabaena. Beliau wafat di kampungnya, Teomokole,  tanggal 14 Juli 1985 dalam usia 82 tahun. Kepergian ulama kharismatik ini tak tergantikan sampai sekarang.

        Sepulang dari Mekkah tahun 1942, dia digelar Guru Hadi atau Guru Ea (guru besar) hingga wafatnya.  Dia sangat dihormati. Namun demikian, Guru Hadi tidak sampai dikultuskan oleh masyarakatnya. Tidak ada yang cium tangannya bila bersalaman dengan beliau. Pasalnya, Guru Hadi memang tidak membuat jarak. Dia bersikap egalitarian. Bahkan dia pun akan sangat akrab serta menghargai dan mencintai seseorang yang taat beragama setelah menerima ajaran dan petuahnya.

        Dalam sejarah perkembangan Islam di Kabaena, Daud adalah orang pertama yang dikirim orangtuanya ke Tanah Suci Mekkah untuk belajar agama. Itu terjadi pada tahun 1929.  Ayahnya, H Abdullah melakukan perjalanan haji ke Mekkah sekaligus mengantar salah satu putranya tersebut untuk belajar agama di Tanah Suci itu. H Abdullah menjabat semacam Imam di kampungnya dengan tugas tambahan memutus setiap perkara terkait agama, termasuk perkawinan. Dia digelar Tuan Kali.

        Selama 13 tahun belajar di Mekkah, Daud antara lain bersekolah di Madrasah Shaulathiyah, setingkat Aliyah di Indonesia sekarang. “Lembaga pendidikan Shaulathiyah masih beroperasi sampai sekarang. Hanya lokasinya sudah dipindahkan agak jauh dari Masjidil Haram”, tutur As’ad Daud (63) yang mengunjungi kampus ayahnya saat As’ad melakukan ibadah umrah beberapa waktu lalu.

        Setamat dari Shaulathiyah, Daud kembali ke Tanah Air dalam suasana Perang Dunia II, tahun 1942. Suasana perang yang berlanjut dengan perjuangan kemerdekaan hingga Proklamasi 17 Agustus 1945, menyulitkan Haji Daud untuk segera mentransfer ilmu agamanya kepada masyarakat melalui kegiatan mengajar, berda’wah atau penyuluhan agama secara terorganisasi. Kegiatan tersebut hanya dilakukan dengan cara tatap muka, baik secara orang per orang maupun secara berkelompok dalam jumlah terbatas di kampung-kampung.

        Di masa kemerdekaan pun, situasi di Kabaena, pulau kecil setelah Pulau Buton dan Pulau Muna di ujung semenanjung tenggara Pulau Sulawesi, tidak tersedia kesempatan yang baik bagi kegiatan sosial dan ekonomi disebabkan pergolakan daerah yang keburu merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah pusat. Timbul gerakan Permesta disusul pemberontakan untuk memisahkan diri dari Republik di bawah pimpinan Kahar Muzakkar. Pemberontakan ini baru dapat dipadamkan secara tuntas tahun 1964. Tetapi keamanan dan ketertiban di Sulawesi Tenggara, khususnya di wilayah Moronene (kini Kabupaten Bombana yang wilayahnya mencakup Pulau Kabaena), baru benar-benar pulih beberapa tahun kemudian. Kabaena adalah bagian Kesultanan Buton, kewedanaan Buton, dan terakhir Kabupaten Dati II Buton. Di masa   kekacauan itu Kabaena sering ditinggalkan satuan aparat bersenjata sehingga gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dapat keluar masuk menjarah di pulau itu  tanpa rintangan.

        Guru Hadi pun pernah ditawan DI/TII dan dibawa ke markas mereka di daratan besar semenanjung tenggara Sulawesi. Namun, Guru Hadi berhasil diselundupkan pulang ke Kabaena  oleh anggota DI/TII yang bersimpati dan mengagumi kesalehan ulama tersebut. “Tetapi buku-bukunya tertinggal di sarang gerombolan”, ujar As’ad.

        Situasi yang tidak menentu ditambah kesadaran masyarakat Kabaena yang masih rendah terhadap pendidikan agama dan pendidikan umum pada umumnya, tak pelak lagi menjadi kendala besar bagi Guru Hadi untuk membuka pendidikan sistem klasikal seperti pesantren, misalnya. Sebab pembangunan sebuah lembaga pendidikan memerlukan kepeloporan untuk memobilisasi kekuatan baik bersifat finansial maupun sarana dan prasarana.

        Tetapi Guru Hadi tidak menyerah pada keadaan. Dia terpanggil mewujudkan niatnya semula, ‘mengislamkan’ masyarakat Kabaena sekuat kemampuannya. Selain aktif mengajar agama di sekolah-sekolah lanjutan pertama (SMP dan PGA 4 Tahun) yang mulai bermunculan di Kabaena pasca kekacauan, dia menyelenggarakan pengkajian melalui pertemuan mingguan secara bergilir di setiap masjid desa di Kabaena. Pertemuan mingguan itu disebut ‘totoro’,  maksudnya peserta duduk di masjid untuk menerima pelajaran dan penerangan agama dari Guru Hadi.

        Kegiatan tersebut dilakukannya secara sukarela. Nyaris tiada hari tanpa perjalanan ke desa-desa sepulau Kabaena dengan menunggang kuda milik pribadi pula. Hujan dan panas adalah soal biasa baginya. Kondisi jalan di Kabaena masa itu masih berupa jalan setapak. Alat angkutan orang dan barang memang hanya kuda saja.

Guru Haji Daud (1980). Foto kenangan keluarga Yamin Indas

        Kegiatan pengkajian dari desa ke desa baru menyurut setelah Guru Hadi terpilih sebagai Ketua Majelis Ulama Kabuaten Buton di era Orde Baru. Kondisi fisiknya pun makin menurun sehingga dia lebih banyak menerima masyarakat di rumahnya. Sisa waktu tersebut sering pula digunakannya untuk mengunjungi keluarga di beberapa kota, seperti Makassar, Palu, Kendari.

        Guru Hadi memiliki 16 putra-putri, termasuk yang telah meninggal tiga orang. Namun, tak satu pun di antara mereka mengenyam pendidikan khusus seperti almarhum. Perpustakaan pribadi almarhum di rumahnya di Teomokole, tak seorang pun mampu membacanya karena semuanya huruf gundul.

        Dalam sejarah perkembangan Islam di Kabaena, Guru Hadi adalah tokoh fenomenal. Dia membawa pembaharuan dalam pengamalan agama yang secara substantive meliputi  aspek akidah, fikih, dan akhlak. Dalam hal fikih, dia berpegang teguh pada mazhab Syafiiyah. Guru Hadi tidak secara frontal mengoreksi praktik-praktik tarekat (sufistik) yang sedikit mewarnai pelaksanaan syari’ah di Kabaena sebelumnya. Tetapi dia hanya menjalankan misi da’wahnya dengan pandangan dan contoh perilaku bahwa beginilah ajaran Islam yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

        Karena pemahaman dan pengetahuan agamanya luas dan terstruktur, maka Guru Hadi dipandang sebagai sosok ulama yang berwibawa baik di mata sesama ulama yang pernah mondok di Timur Tengah maupun masyarakat umum di Sulawesi Tenggara.

        Pelasanaan syari’ah atau fikih mutlak bagi setiap muslim. Bahkan tanda-tanda keimanan seorang muslim justru terlihat pada aspek itu yang direalisasikan dalam bentuk hubungan langsung dengan Allah Swt seperti shalat paling sedikit 5 kali dalam sehari, zakat, haji, dan sebagainya. Guru Hadi sangat keras mengontrol pelaksanaan syari’ah tersebut dalam masyarakat Kabaena. Sehingga pernah ada suatu masa di zaman beliau, dalam masyarakat Kabaena berlaku kontrol sosial terkait penegakan syari’at. Bila ada warga lalai shalat Jumat, atau kedapatan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, maka yang bersangkutan diumumkan perbuatannya melalui suatu acara di masjid atau di forum publik lain.  ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>