Tarawih Sepi Kecuali di Pesantren Ummushabri

Oleh Yamin Indas

   

Jamaah tarawih di Pesantren Ummushabri Kendari melimpah ke halaman masjid. Foto Yamin Indas

  JAMAAH shalat tarawih di masjid pesantren Ummushabri di tengah Kota Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, setiap malam meluap hingga ke halaman masjid tersebut. Pemandangan itu kontras dengan suasana di masjid-masjid lain di kota itu, makin dekat Lebaran jamaahnya makin sepi.

Malam ke-24 Ramadhan 1436 H atau 10 Juli 2015 M, saya ikut shalat tarawih di situ sekalian mau lihat teman yang akan berceramah di masjid tersebut. Teman itu adalah salah satu pimpinan daerah Provinsi Sultra. Ketemu di gedung DPRD Sultra di siang hari, saya tanya akan berceramah di masjid mana? Dia jawab: “Di Masjid Pesantren Ummushabri”. Seusai makan malam, saya hitung waktu bahwa sekitar 19.30 saya sudah harus mengambil tempat di depan mimbar, untuk memudahkan pengambilan gambar. Saya mau bikin kejutan untuk tokoh tersebut.

Tetapi perkiraan saya tidak tepat. Saya tiba di masjid, Pak Imam pas menutup shalat fardhu Isya’ dengan salam. Berarti, shalat Isya’ di masjid ini dimulai sebelum pukul 19.30. Dan kalau mau dapat tempat di dalam, kita harus sudah duduk di dalam masjid pada pukul 19.00 Wita atau kurang dari itu. Jadinya, saya hanya mendapat tempat di halaman bergabung dengan jamaah lainnya. Di situ saya juga mendirikan shalat Isya’, dan beruntung ada satu jamaah, yang juga masbuq, ikut menjadi makmum sehingga syarat shalat jamaah saya tetap terpenuhi.

Teman itu ternyata tidak ada. Tapi saya tidak kecewa karena penceramah malam itu adalah teman saya juga, Drs H Muslim dari Kementerian Hukum dan HAM. Dia termasuk da’i kondang di Kota Kendari. Lebih semangat lagi karena pemimpin shalat di situ setiap malam ternyata adalah Drs KH Mursyidin, yang boleh disebut sebagai Imam Pemprov Sultra. Dia menjabat Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Kantor Gubernur Sultra, dan dia selalu menyertai Safari Ramadhan Gubernur Nur Alam. Sangat boleh jadi, salah satu daya tarik masjid pesantren tersebut adalah kiai, sahabatku ini. Pasalnya, dia adalah salah satu dari sedikit penghafal Al Qur’an di Sulawesi Tenggara, dan bersuara merdu pula.

Padatnya jamaah di Masjid Ummushabri Kendari bukan sekadar asumsi saya saja tetapi memang faktanya begitu. Malam sebelumnya ketika saya melewati jalan di depan kompleks tersebut, kendaraan parkir terlihat memadati kiri-kanan sepanjang jalan raya hingga agak jauh dari kompleks itu. Malam itu saya shalat tarawih di suatu tempat yang ritualnya dilakukan dengan super cepat.

Memang begitulah, tradisi shalat tarawih yang saya amati selama ini, super cepat. Surat Al Fatihah dibaca nyaris hanya satu kali tarikan napas. Apalagi surat atau ayat yang melengkapi Al Fatihah, lebih cepat lagi. Pokoknya, jangan bicara tuma’ninah. Tidak ada itu. Dengan demikian, waktu yang digunakan mendirikan shalat tarawih di daerah ini singkat sekali, baik yang 8 maupun yang 20 raka’at plus witir.

Saya sangat prihatin dengan keadaan seperti ini. Saya takut jangan sampai ibadah seperti ini termasuk yang disinyalir ayat 103-104 suart Al Kahfi: “Apakah kalian mau Kami ceritakan tentang orang-orang yang merugi dengan amalnya. Yaitu mereka yang tersesat amalnya di dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat dengan sebaik-baiknya”.

Namun demikian, padatnya jamaah di masjid Ummushabri sangat membesarkan hati. Sebab selain gejala super cepat tadi, makin menipisnya jamaah shalat tarawih seiring dengan mendekatnya waktu kepergian Ramadhan merupakan keprihatinan yang lain lagi. Sulit dibantah bahwa keadaan tersebut mencerminkan bahwa sebagian umat muslim masih menganggap ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah beban dari suatu kewajiban belaka. Artinya, ibadah puasa itu dilakukan hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>