Selamat Berulang Tahun Gubernur Nur Alam

                      

Oleh Yamin Indas

Ketika menyisir desa-desa pantai dan pulau-pulau dalam rangka sosialisasi sebagai calon Gubernur Sultra periode 2008-2013. Nur Alam dibantu naik ke darat dari perahu motor yang ditumpanginya. Foto Yamin Indas

HARI ini,  tanggal 9 Juli 2015, Nur Alam berusia 48 tahun. Selamat berulang tahun Pak Gubernur. Usia Anda masih tergolong muda. Tetapi kita berbangga hati karena sudah hampir sewindu dari usia Anda telah digunakan untuk membangun daerah. Banyak prestasi telah diukir. Masa jabatan yang tersisa kita berharap akan lebih melengkapi  prestasi yang telah diraih.

Nur Alam adalah Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode. Saat dilantik untuk periode pertama (2008-2013), dia berumur 39 tahun. Dia anak ke-11 dari 12 bersaudara, dari pasangan Isruddin – Siti Fatimah, warga Desa Konda,  sekitar 20 km dari Kota Kendari.  Ada cerita menarik pra-kelahiran tokoh ini ke dunia. Dan ini terkait grand design Allah azza wajalla.  Setelah melahirkan anak ke-10, Fatimah diajak ikut program KB (Keluarga Berencana). Kebetulan, tak jauh dari rumahnya ada pos KB. Masa itu KB masih bersifat gerakan masyarakat bernaung di bawah sebuah yayasan.

Ajakan petugas KB tadi kemudian disampaikan kepada suaminya. Tetapi Isruddin secara spontan langsung menolak. Dia berpandangan, setiap anak manusia membawa rezekinya sendiri dari Allah Swt jika pembatasan kelahiran didasarkan pertimbangan ekonomi. Kehidupan pun berjalan seperti biasa hingga lahir lagi anak ke-11. Seandainya pasangan ini ikut KB waktu itu, maka tidak bakal lahir seorang Gubernur Sulawesi Tenggara bernama Nur Alam dari rahim Ibu Fatimah. Tetapi Allah azza wajalla telah menetapkan dengan iradat-Nya. Ibu Fatimah kini dalam usia sepuh, namun masih dapat menyaksikan kegiatan putranya setiap hari sebagai seorang pejabat negara.

Nur Alam mencapai jabatan puncak itu sebagai hasil dari kerja keras. Dua atau tiga tahun menjelang pemilihan dia sisir hampir 2.000 desa dan kelurahan di Sultra. Kadang berjalan kaki puluhan kilometer, atau naik kapal kecil ke pantai dan pulau-pulau untuk mendekati rakyat. Hasilnya spektakuler. Dia hentikan langkah gubernur incumbent hanya dalam satu putaran.  Dia putra daratan pertama yang mampu mengalahkan para calon gubernur dari kepulauan, melalui pemilihan langsung pula. Hampir sepanjang sejarah pemerintahan di provinsi ini, jabatan gubernur selalu direbut putra daerah dari kepulauan. Dia menganggap perjuangannya menuju kursi gubernur sebagai sebuah mimpi. “Kalau episode itu mau diulang, saya tidak berani. Malah ngeri”, ujarnya.

Adapun mendiang Abdullah Silondae, boleh dibilang adalah putra mahkota. Ketika itu militer mulai ditarik dari jabatan-jabatan politik di daerah. Perubahan politik Pak Harto itu dimanfaatkan Gubernur Sultra Mayjen TNI Eddy Sabara untuk mendorong karibnya sejak kecil, pamongpraja senior dan mantan Bupati Kendari Drs H Abdullah Silondae untuk menggantikannya melalui pemilihan DPRD. Tokoh yang dikenal jujur dan bersih, ini pun hanya menjabat kurang dari tiga tahun karena keburu wafat. Beliaulah tokoh sipil pertama yang dipercaya Pak Harto menjabat Gubernur Sultra.

          Ketika maju lagi untuk masa jabatan periode kedua, pesaing Nur Alam dari kepulauan tidak setangguh periode sebelumnya. Namun, dengan keberhasilan merebut kembali kursi gubernur, Nur Alam makin mengokohkan dirinya sebagai orang kuat di Sultra yang meliputi wilayah daratan dan kepulauan. Karena itu saya merasa geli melihat anak-anak daratan yang  sering ikut-ikut mengguncang kedudukan Nur Alam. Mereka seperti berkolaborasi dengan lawan-lawan politik gubernur tersebut untuk mencari-cari kesalahan, seperti korupsi  dan penyalahgunaan wewenang lainnya.

            Padahal, belum tentu anak-anak daratan itu bakal mampu bersaing dengan anak-anak kepulauan pada pemilihan gubernur pasca Nur Alam. Untuk ke depan itu, anak-anak kepulauan sekarang  tampak lebih siap. Pada sebuah tulisan terdahulu secara eksplisit saya sudah menyebut nama salah satu bupati di kepulauan yang berpotensi menjadi gubernur menggantikan Nur Alam. Seandainya Bupati Buton Umar Samiun mau ikut berkompetisi, besar peluangnya untuk memenangi pertarungan. Ia concern dan memiliki komitmen sosial yang tinggi. Seperti halnya Nur Alam, Umar Samiun tidak tega melihat temannya kesulitan tanpa ia menawarkan bantuan.

Santai bersama Ibunda Hj Siti Fatimah di rumah pribadi di bilangan Wua-Wua di suatu sore awal 2015. Foto Yamin Indas

Nur Alam  berangkat dari bawah. Orangtuanya adalah keluarga sederhana di Desa Konda. Ayahnya, Isruddin adalah pegawai kehutanan golongan rendahan dengan jabatan KRPH (Kepala Resort Pemangkuan  Hutan) Konda dan sekitarnya. Adalah kepiawaian Siti Fatimah mengelola gaji/pensiun yang tak seberapa sehingga selusinan anak-anak mereka bisa bertahan hidup dan bersekolah. Perjuangan hidup Ibu Fatimah makin berat ketika suaminya dipanggil lebih dulu menghadap Sang Khalik pada tanggal 26 Februari 1982. Nur Alam sendiri tidak ikut menyaksikan kepergian ayahnya untuk selama-lamanya karena waktu itu dia sedang mengikuti kegiatan nasional Pramuka di Cibubur. Ketika itu dia masih duduk di kelas 3 SMP.

Nur Alam mengaku sejak SD telah berusaha hidup mandiri. Dia menjual kelapa atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Nur Alam menamatkan pendidikan SD di Konda tahun 1979. Dia melanjutkan sekolah ke SMP Negeri Ranomeeto, lalu pindah ke SMP Negeri 3 Kota Kendari. Ke sekolah-sekolah tersebut dia berjalan kaki. Bila kecapekan, dia menginap di rumah sepupu ayahnya, Haeruddin. Ibunya, Siti Fatimah   pun menyertainya  buat menyiapkan makanan dan pakaiannya.

Kendati ditekan kesulitan ekonomi, Nur Alam dapat menyelesaikan jenjang-jenjang pendidikannya  tepat waktu. Otaknya cerdas. Tamat SMP tahun 1983, tiga tahun berikutnya menggondol ijazah SMA. Tetapi ketika di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo, kuliahnya agak tersendat karena ia sibuk berbisnis. Dia sudah terjun ke dunia usaha formal, antara lain menjadi kontraktor (pemborong).   Benderanya adalah PT Tamalakindo, perusahaan yang dia dirikan sendiri. Gelar sarjana ekonomi baru diraihnya tahun 1993. Bergelar MSi dari almamaternya Universitas Haluoleo, dia saat ini tengah mengikuti pendidikan doktoral di sebuah pendidikan tinggi negeri di Jakarta.

Nur Alam menikahi Asnawati  pada 15 Januari 1994. Tina, panggilan akrabnya adalah putri tokoh politik Sultra yang disegani di permulaan Orde Baru. Hasan tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Sultra di era transisi politik tersebut. Sebuah sumber menyebutkan, perkenalan Nur Alam dengan Tina terjadi di sebuah rumah sakit Kendari tatkala dia menjenguk Pak Hasan yang sedang dirawat di situ. Alhasil, Nur Alam bercanda kepada ibunya Siti Fatimah: “Ternyata ada anak gadisnya om Hasan yang cantik”. Ibunya senyum-senyum saja sebagai ungkapan rasa hati sang Bunda bahwa putra bungsunya itu sudah ingin menikah. Pasangan Nur Alam-Tina Asnawati membuahkan tiga putra putri. Sitya Giona Nur Alam, anak pertama dan kini studi di Singapura. Anak kedua Muhammad Radhan Algindo Nur Alam bersama si bungsu Enoza Genastry Nur Alam kini di bangku SMA dan SMP di Jakarta.

Kiprah politik Nur Alam telah dirintis sejak aktif di asosiasi-asosiasi pengusaha yang semuanya bernaung di pohon beringin Golkar era Orde Baru. Politik dukung-mendukung bupati atau walikota juga tak luput dari perhatiannya. Persahabatannya dengan mendiang La Ode Kaimoeddin, Gubernur Sultra dua periode justru dimulai dari suasana pro-kontra hasil pemilihan Walikota Kendari. Nur Alam menggugat putusan DPRD Kendari yang  menetapkan pasangan Masyhur Masie Abunawas/Muzakkir sebagai walikota dan wakil walikota terpilih. Mereka menang tipis, satu suara atas Buhari Matta bersama pasangannya. Dalam konflik itu Nur Alam dan Gubernur Kaimoeddin ternyata satu aspirasi.  Sejak itu hubungan pribadi kedua tokoh terjalin baik dan hangat.

Ketika partai politik tumbuh menjamur dalam rangka pemilu yang dipercepat di era Presiden BJ Habibie, Nur Alam  bergabung  ke Partai Amanat Nasional (PAN). “Saya tertarik konsep dan pandangan-pandangan ideologis para tokoh pendiri PAN, termasuk Amien Rais”, ujarnya menjawab pertanyaan mengapa memilih PAN. Nur Alam pun kemudian terpilih sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah PAN Sultra. Ketuanya adalah mendiang Andrey Djufrie SH, mantan jaksa senior yang dikenal bersih dan masih kerabat istri Nur Alam. Jabatan itu kemudian beralih ke Nur Alam hingga dua periode, dan baru akan berakhir pada Muswil PAN Sultra, Desember 2015.

            Di tangan Nur Alam PAN berhasil geser dominasi Golkar dan Partai Demokrat. DPRD Provinsi Sultra hasil pemilu 2014 diketuai kader PAN, Abdurrahman Saleh.  DPRD di 17 kabupaten/kota nyaris dikuasai kader PAN. Bahkan lebih separuh kepala daerah di Sultra saat ini dipegang kader PAN.  Melalui pemilu 2014, PAN juga berhasil meraup satu kursi DPR Pusat atas nama Asnawati Hasan, istri Nur Alam sendiri.  Salah satu keberhasilan kepemimpinan Nur Alam adalah terwujudnya program kaderisasi calon-calon pemimpin daerah, bukan hanya bidang politik tetapi juga birokrasi (legislatif dan eksekutif). Kaderisasi di bidang birokrasi dilakukan melalui mekanisme pengangkatan penjabat-penjabat (Pj) bupati dan walikota untuk mengisi kevakuman selama proses pilkada . Kader yang didorong ke jabatan strategis itu tentu kader-kader yang prestasinya paling menonjol di samping pengalaman.

            Ketika melantik Saemu Alwi sebagai Pj Bupati Buton Utara bulan lalu, Gubernur Nur Alam menyebutkan, Saemu adalah Pj Bupati ke-10 yang dia dilantik. Itu tidak termasuk pasangan bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota terpilih melalui pilkada selama Nur Alam menjabat Gubernur Sultra. Agar terjadi pemerataan, Nur Alam hanya memberikan kesempatan satu kali bagi setiap kader.

            Peningkatan sumber daya manusia merupakan kebijakan prioritas Gubernur Nur Alam. Di masa jabatan periode pertama dia melaksanakan program kesehatan dan pendidikan gratis. Pendidikan gratis bukan hanya sampai jenjang sekolah lanjutan atas tetapi sampai perguruan tinggi. Gubernur melakukan kerja sama  dengan Universitas Sultan Agung (Unisula) Semarang untuk menampung 1.000 mahasiswa dari kabupaten/kota di Sultra. Program pendidikan S1 tersebut masih berlanjut hingga sekarang. Mahasiwa yang dikirim ke Unisula terlebih dulu menjalani seleksi kemudian dibekali beasiswa. Selain kesehatan dan pendidikan gratis, ada pula bantuan dana segar kepada setiap desa dan kelurahan selama masa jabatan periode pertama, sebesar Rp 100 juta setiap tahun. Program ini telah “diambil alih” pemerintah pusat dalam bentuk dana desa yang bersumber dari APBN. Dengan demikian, desa dan kelurahan di Sultra telah memiliki pengalaman mengelola dana seperti itu.

            Pesatnya pembangunan infrastruktur juga membuktikan keberhasilan Nur Alam sebagai gubernur. Ruas-ruas jalan dan jembatan, pelabuhan laut dan udara dilakukan penambahan,  diperbaiki, dan ditingkatkan kualitasnya untuk mendukung dinamika kegiatan sosial dan ekonomi yang semakin tinggi. Dia, antara lain  telah membebaskan penduduk hulu Sungai Konawe-Eha dari isolasi selama dunia ini terkembang, dengan pembangunan jembatan sepanjang 237 meter. Jembatan ini menghubungkan  dua kabupaten: Kolaka Timur dan Konawe.

            Di sisa masa jabatan periode kedua, Nur Alam ingin merampungkan pembangunan jembatan Teluk Kendari sepanjang 1,7 km dan sebuah masjid megah di tengah teluk. Sumber daya buatan ini akan melengkapi keindahan Teluk Kendari sebagai  landmark Kota Kendari,  ibu kota Provinsi Sultra. Gubernur Nur Alam juga berharap dapat menyaksikan dimulainya pembangunan jembatan Baruta  yang menyatukan Pulau Muna dan Pulau Buton. Di situ ada obyek wisata berupa anak-anak nelayan berebut koin atau apa saja yang dilemparkan penumpang kapal ke laut saat melintasi jalur selat Buton itu.

            Nur Alam yang berlatar belakang pengusaha sangat mudah membangun lobi dengan pengusaha kakap dari Jakarta dan Makassar untuk membangun hotel berbintang  dan pasar modern (swalayan). Group Lippo, misalnya, kini mengoperasikan sebuah pasar modern di Kota Kendari. Mall Lippo Plaza Kendari kini menjadi salah satu pusat rekreasi belanja dan kuliner. Gubernur juga masih menawarkan eks-lokasi Rumah Sakit Umum Provinsi seluas lima hektar ke investor untuk dibangun sebuah kawasan terpadu (superblock) di Kota Kendari. RSUP Sultra yang baru telah dioperasikan sejak dua tahun lalu. Pembangunan RSUP baru tersebut menelan biaya Rp 400 milyar.

            Salah satu keunggulan Nur Alam sebagai pemimpin adalah kemampuannya berbicara di depan publik. Dia orator meskipun suaranya tidak lantang dan membahana seperti Bung Karno. Dia mampu menangkap sebuah suasana, kemudian secara spontan diungkapkan  dalam pidato dengan bahasa  yang lugas. Ketika menyampaikan sambutan selamat datang kepada Presiden Jokowi di Kendari, 6 November 2014, misalnya, Nur Alam di luar teks berujar: “Ada dua fenomena alam yang menandai kunjungan Bapak Presiden ke Sulawesi Tenggara. Pertama, beberapa jam menjelang kedatangan Bapak Presiden, bumi Sulawesi Tenggara diguyur hujan. Ini hujan pertama setelah beberapa bulan berlangsung musim kemarau di sini. Kedua, warga Sulawesi Tenggara tumpah ke sepanjang jalan yang dilalui Bapak Presiden. Ini tidak biasa. Sebab masyarakat kami dikenal cuek terhadap kedatangan atau kehadiran pejabat tinggi dari Jakarta”.  Sebagai manusia biasa Jokowi tentu terkesan dengan orasi Nur Alam itu.

Ketika Nur Alam naik panggung sebagai gubernur, para bupati/walikota di Sultra sedang mabuk-mabuknya menikmati kekuasaan sebagai raja kecil di era otonomi daerah. Hampir semua perizinan di tangan mereka. Hubungan koordinasi dan konsultasi dengan gubernur tidak jalan. Maka, ketika mengadakan kunjungan kerja ke daerah-daerah, Nur Alam menegaskan prinsipnya dengan ungkapan antara lain seperti ini: “Gubernur tidak menguasai sejengkal pun tanah di Sulawesi Tenggara. Tetapi tidak sejengkal pun tanah di Sulawesi Tenggara yang tidak bisa diurus oleh gubernur”.

            Kemampuan Nur Alam berbicara di depan publik tanpa konsep membuat lawan-lawan politiknya berpikir dua kali untuk berdebat dengannya secara terbuka. Sultra pernah memiliki gubernur yang tampil memberi sambutan pada acara pemberangkatan jenazah pegawai pemda ke pekuburan, dengan membaca teks yang telah disiapkan staf.  Padahal, isi sambutannya hanya beberapa kalimat. ***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>