Bakal Terjadi Eskalasi Produksi Pangan

Oleh Yamin Indas

         SIKAP tidak puas terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebetulnya hanya disuarakan segelintir orang. Minoritas ini terdiri dari koalisi adidaya di parlemen kemudian di-blow-up pengamat yang pandangan politiknya sejalan dengan pihak “oposisi” di Senayan itu. Alat mereka untuk mengekspresikan ketidakpuasan tentu saja media.

        Klaim ketidakpuasan itu juga bersifat sepihak. Indikasi merosotnya ekonomi, misalnya, hanya dikonfirmasi melalui pasar modal di bursa efek berupa kurs rupiah terhadap dollar AS. Namun harus diakui laju penurunan nilai rupiah di era pemerintahan baru memang berlari cukup kencang, dari sekitar 900 menjadi hampir 1.400 rupiah per dollar AS saat ini. Tetapi sentimen pasar uang tersebut juga lebih terpicu pernyataan-pernyataan pesismistis dari pihak “oposisi”.

        Indikasi lain adalah melambungnya harga kebutuhan pokok dan kebutuhan esensi lainnya seperti bahan bangunan. Tidak terkecuali biaya angkutan dan transportasi yang segera bereskalasi menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak, BBM.

        Akan tetapi gejolak itu harus dipahami sebagai sebuah konsekuensi logis dari sebuah perubahan rezim yang pasti menimbulkan dampak di sektor ekonomi, sosial, dan politik. Perubahan itu menjadi sangat sensisitif terhadap kebijakan dan langkah-langkah apapun   yang dilakukan pemerintahan baru karena faktor ekspektasi masyarakat begitu tinggi saat dan setelah menggunakan hak pilih mereka.

        Situasi dibuat seolah makin genting ketika partai pendukung ingin masuk kabinet mengganti menteri yang dianggap kurang menguntungkan partai. Maka dihembuskanlah isu reshuffle kabinet diikuti upaya mendiskreditkan menteri-menteri yang menjadi target perombakan kabinet. Ada trio macan di Istana, misalnya. Terkahir Menteri BUMN diklaim menghina Presiden.

        Publik pun diseret untuk ikut menekan Presiden agar segera merombak kabinet dengan pernyataan emosional adanya seorang menteri menghina Presiden melalui “juru bicara” Menteri Dalam Negeri Cahyo Kumolo. Para politisi kawakan terutama dari Golkar (maaf bukan Golkar periode pengurus saat ini) tentu sangat geli melihat permainan tidak cantik di internal pemerintah. Apalagi pelakunya adalah seorang Menteri Dalam Negeri. Di era Orde Baru,  Menteri Dalam Negeri adalah sosok (Pak Harto)  Presdiden sehingga dia sangat disegani.

        Situasi diuntungkan sosok Presiden Jokowi yang tidak temperamental. Sebaliknya dia tenang saja dan hanya sesekali berkomentar menjawab pertanyaan pers dengan suara bariton yang sejuk. Pernyataan terakhir Presiden adalah meminta kepada jajaran kabinet untuk fokus bekerja, jangan tarpancing isu reshuffle. Ketua MPR Zulkifli juga berpendapat, terlalu dini merombak kabinet yang usia masa kerjanya belum setahun. Evaluasi pasti tak lengkap dan tidak obyektif.

Daerah Angkat Bicara

        Keadaan sesungguhnya ialah bahwa kabinet Jokow-JK telah bekerja seusai pelantikan Oktober tahun lalu. Di sektor kemakmuran, misalnya, Menteri Pertanian dan Menteri Kelautan sejak awal masa jabatannya telah menggelar dan mulai melaksanakan program jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.  Siapa meragukan kinerja dan integritas Susi Pudjiastuti, salah satu menteri di sektor kemakmuran. Atau Menteri Pertanian Amran Sulaiman terkait usaha besar peningkatan produksi pangan menuju swasembada secara nasional.

        Sektor garapan mereka bergelut pada akar rumput perekonomian nasional, yaitu petani dan nelayan yang jumlahnya meliputi sekitar 80 persen penduduk kita. Bila mayoritas ini terangkat, maka wajah kemiskinan dan kesulitan hidup bangsa kita akan perlahan membaik. Kinerja kedua menteri ini tidak bisa diukur hanya dalam waktu setengah tahun atau lebih. Sebab produksi di tingkat akar rumput itu tidak semua  bisa menggunakan teknologi, sebab masih ada faktor cuaca dan iklim.

        Sebagai contoh kinerja pemerintahan Jokowi-JK bahwa tidak seburuk berita di media adalah perluasan lahan pertanaman beberapa komoditas pangan di Sulawesi Tenggara. Perluasan itu bukan wacana tetapi sudah mulai diwujudkan di lapangan.

        Seperti dijelaskan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sultra Ir H Muhammad Nasir MSi, Sultra tahun ini memasuki era produksi pangan secara besar-besaran. Selain padi, kedelai dan jagung juga dijadikan primadona baru. Kementerian Pertanian mengalokasikan areal tanaman kedelai di provinsi ini seluas 30.365 hektar. Selama ini areal panen kedelai di Sultra paling luas sekitar 5.000 hektar. Lahan jagung juga ditingkatkan dari 18.500 hektar menjadi 21.500 hektar untuk tahun 2015 ini.

        Baik lahan kedelai maupun jagung sudah dibuatkan peta dan jadwal tanam. Nasir mengatakan, tidak ada kendala untuk merealisasikan penanaman karena semua sarana produksi disediakan melalui APBN. Pemda Provinsi pun tidak tinggal diam. Melalui APBD disediakan dana penangkaran benih kedelai.

        Kegiatan pertanian padi lebih ditekankan pada proteksi dan peningkatan surplus beras. Di era Gubernur Nur Alam, swasembada beras cenderung kian mantap. Pada tahun yang baru lalu (2014) surplus tercatat 137.163 ton. Padahal pada tahun 2018 baru mencapai 18.815 ton. “Pak Gubernur sangat perhatian terhadap upaya mempertahankan swasembada beras. Tahun lalu terjadi puso sekitar 2.980 hektar. Petaninya diberi benih dan pupuk gratis,  dananya dari APBD”, kata Nasir.

        Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga mendorong Provinsi Sultra untuk membangun industri  gula. Empat kabupaten di provinsi itu diarahkan sebagai daerah penghasil gula yaitu Buton Utara, Muna, Konawe Selatan dan Kolaka.  Masing-masing kabupaten ditargetkan membangun pabrik gula berkapasitas 6.000 ton/tahun. Proyek jangka menengah itu sudah mulai dirintis.

        Dengan demikian, Provinsi Sultra saja mulai tahun ini dan seterusnya akan  mengorbit pada eskalasi peningkatan produksi pangan dan komoditas strategis gula. Bagi provinsi ini, terwujudnya swasembada pangan merupakan kontribusi nyata terhadap swasembada pangan nasional yang ditargetkan Presiden Jokowi harus tercapai pada 2-3 tahun ke depan. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>