RSU Bahteramas

Menko Perekonomian Hatta Radjasa diapit Gubernur Nur Alam dan dr H Nurjayadin menjelang peresmian RSU Bahteramas

     RUMAH sakit megah dengan peralatan canggih bernilai hampir Rp 500 miliar, Minggu 21 Oktober 2012 diresmikan pemanfaatannya oleh Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II Hatta Radjasa. Warna biru putih mendominasi suasana tempat upacara peresmian diteras gedung rumah sakit. Suasana tersebut terasa menyejukkan kendati matahari bersinar terik di siang Minggu itu. Senyum bahagia mengembang terus di wajah Nur Alam karena rumah sakit itu merupakan karya monumental dan merupakan megaproyek yang siap dimanfaatkan rakyat di akhir masa jabatannya sebagai Gubernur Sultra

    Peristiwa ini membuktikan, bahwa di era kepemimpinan Gubernur Nur Alam kegiatan pembangunan fisik sebetulnya berpacu dengan pesatnya pembangunan non-fisik. Kepala Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan, Soritaon Siregar, mengibaratkan bumi dan langit ketika membandingkan kondisi Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra yang lama dengan rumah sakit baru tersebut. Rumah sakit itu dibangun antara lain dengan dana pinjaman dari PIP Kementerian Keuangan.

Segelintir orang sering melontarkan pendapat bahwa selama Nur Alam menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara, selama itu tidak ada atau kurang nampak pembangunan fisik. Tentu saja pendapat itu berasal dari mereka yang membandingkan era Ali Mazi. Sebab pada masa Ali Mazi menjabat Gubernur Sultra publik dipertontonkan pembangunan Tugu Persatuan yang berdiri tinggi menjulang di tengah Kota Kendari.

Maka, orang awam pun lantas beranggapan bahwa keberadaan pembangunan itu tidak lebih dari hanya dalam bentuk fisik belaka. Adapun asas manfaatnya, itu soal lain lagi. Harus diakui bahwa di era Ali Mazi (menjabat Gubernur Sultra satu periode saja), pembangunan fisik lebih menonjol dan lebih mudah kelihatan karena berpusat di kota. Ada dua proyek yang selalu menjadi andalan dan kebanggaan, yaitu menara Tugu Persatuan yang berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 4 hektar, dan terminal Bandara Haluoleo. Yang terakhir ini kemudian dilanjutkan pembangunannya oleh Nur Alam sebagai penerus Ali Mazi.

Rumah Sakit Umum Bahteramas seperti diakui Nur Alam, dibangun dengan modal nekat. Ada memang dana tetapi sedikit. Yaitu Rp 20 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Sultra. Kementerian Kesehatan ikut membantu sebesar Rp 30 miliar. Keberdaan dana tersebut membuat Gubernur Nur Alam makin bersemangat, lalu ia meletakkan batu pertama pembangunan rumah sakit tersebut pada tanggal 6 April 2009.

RSU Bahteramas secara faktual telah dioperasikan sejak Jumat 19 Oktober 2012. Keluarga pasien ketika menunggu giliran untuk membezuk. Suasana ini direkam Minggu 21 Oktober 2012.

Modal nekat tetapi ditopang gagasan besar dan kerja keras. Rumah sakit yang kemudian diberi nama RSU Bahteramas itu didesain sebagai rumah sakit tipe B dengan kapasitas 500 tempat tidur. Bandingkan dengan RSU lama yang hanya 267 tempat tidur. RSU Bahteramas dibangun di atas tanah 17 hektar. Pada saat diresmikan Menko Perekonomian Hatta Radjasa, realisasi pembangunan RSU Bahteramas telah mencapai ketersediaan 386 tempat tidur. Peralatan kesehatan mulai dilengkapi termasuk peralatan canggih CT-scan dengan 64 slice. “Alat ini hanya dosa pasien yang tidak bisa terdeteksi”, canda Nur Alam di suatu kesempatan.

RSU Bahteramas akan dilengkapi ruang inap superkelas setara kamar hotel bintang lima. Untuk keluarga pasien superkelas juga disediakan ruang penginapan very very importen person (VVIP). Dengan kondisi rumah sakit seperti itu, seperti dikemukakan Menko Hatta Radjasa, orang belum berobat sudah sembuh. Sebab biasanya, baru saja melihat kondisi rumah sakit yang kumuh serta peralatan seadanya, pasiennya bertambah sakit.

Desain mewah dan canggih RSU Bahteramas menjadi modal Gubernur Nur Alam untuk mencari dana. Ia memutuskan mempercpat pembangunan rumah sakit itu untuk menghemat waktu dan anggaran. Gubernur memanfaatkan peluang mendapatkan pinjaman dari pemerintah pusat melalui PIP Kementerian Keuangan. Kepala PIP Soritaon Siregar sangat merespons keinginan gubernur tersebut. Alhasil, PIP mengucurkan dana pinjaman pembangunan RSUP Bahteramas sebesar Rp 196 miliar pada tahun 2011.

Ketua PKK Sultra Dra Hj Ny Tina Nur Alam ikut menyaksikan peresmian RSU Bahteramas. Sekda Provinsi Sultra Drs H Zainal Abidin (paling kanan) juga hadir

Dengan demikian, pembangunan RSU Bahteramas berlangsung lebih cepat. Bila menunggu kucuran APBD dan APBN setiap tahun, maka proses pembangunan kebutuhan pelayanan dasar publik tersebut bisa mencapai puluhan tahun. Biayanya juga akan semakin membengkak karena akan terdongkrak inflasi dan dimainkan terjadinya eskalasi harga bahan-bahan bangunan. Kemungkinan buruk ini yang dibaca dan dihindari Gubernur Nur Alam.

Pendapat bahwa tidak ada pembangunan fisik di era Gubernur Nur Alam, sebetulnya tidak beralasan. Sebab Pemprov Sultra telah menerima piala rekor pembangunan balai desa terbanyak di Indonesia dari MURI (Museum Rekor Dunia versi Indonesia). Dengan dana block grant Rp 100 juta setiap desa/kelurahan, sebanyak 1.900 desa di Sultra telah membangun balai desa atau kantor desa sendiri.

Pembangunan infrastruktur juga berjalan pesat. Selama 4 tahun terakhir Pemprov Sultra telah memperbaiki dan meningkatkan kualitas jalan sepanjang 1.000 km. Kesulitan transportasi di pedesaan mulai teratasi. Selain itu pelabuhan Kendari sebagai pintu gerbang ekonomi provinsi telah dikembangkan dengan pembangunan pelabuhan kapal container di Bungkutoko. Pelabuhan baru itu sudah siap dioperasikan. Terminal bandar udara Haluoleo tak ketinggalan pula dilengkapi fasilitasnya.

Tiga program pokok yang tercakup dalam konsep Bahteramas terfokus pada pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia. Wujudnya adalah pendidikan dan kesehatan gratis, serta pembangunan desa melalui penyediaan dana block grant Rp 100 juta setiap desa/kelurahan. Dana pembiayaan ketiga program pokok tersebut sekitar Rp 400 miliar setiap tahun. Dana sebesar ini mengalir ke lapis bawah di desa dan kelurahan, dan bukan dalam bentuk proyek fisik. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>