Kepemimpinan Gaya Nur Alam

Oleh Yamin Indas

 

      

Gubenur Suawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi.  Foto Yamin  Indas

  SAYA sering bercanda dengan teman-teman satu visi, bahwa Nur Alam tidak bisa menjadi panglima. Mengapa? Dia tidak punya nyali untuk mengeksekusi bawahan yang melanggar disiplin militer. Hatinya lembut selembut salju Gunung Jayawijaya, gampang trenyuh, gampang mengeluarkan air mata kendati sangat pandai menyembunyikan air matanya jika menggelanggang.

        Maka, beruntunglah pegawai negeri sipil di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang diangkatnya memegang jabatan struktural dan secara langsung bertanggung  jawab kepadanya. Beberapa di antara mereka ada yang menjabat sebagai kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) sejak Nur Alam menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara. Dia kini memasuki tahun kedua periode kedua masa jabatannya  sebagai gubernur. Artinya para pejabat eselon II itu telah hampir 8 tahun menduduki jabatan eselon II di tempat itu.

        Akan tetapi, sebuah anomali terjadi  Senin tanggal 20 Mei 2015. Dia memberi sanksi berat terhadap paling sedikit 23 PNS di lingkup Pemprov Sultra. Empat di antaranya malah diberhentikan dengan hormat. Selebihnya ditunda kenaikan pangkat dan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, serta diturunkan pangkatnya setingkat lebih rendah.  Keponakan langsung yang tercatat sebagai pegawai di Sekretariat DPRD Sultra, tidak luput dari sanksi penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun. Di antara PNS yang diturunkan pangkatnya setingkat lebih rendah tercatat satu orang berpangkat golongan IVb dan IVa.

        Tindakan pemberian sanksi PNS tersebut diumumkan sendiri Gubernur Nur Alam saat dia memimpin upacara peringatan Hari Kebangktan Nasional di halaman Kantor Gubernur Kompleks Bumipraja Andonohu,  Kendari.  Nur Alam berpakaian sipil lengkap dan di dadanya bertaburan tanda-tanda penghargaan, termasuk Bintang Mahaputra. Berpakaian resmi seperti itu,  Nur Alam bertambah gagah dan tampan.

Gubernur Nur Alam diapit Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Woletr Mongisidi yang baru Letkol (Pnb) Rizaldy Efranza (kanan) dan Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Kendari yang juga pejabat baru. Gambar diambil Rabu 20 Mei 2015 di ruang kerja gubernur. Foto Yamin Indas

Anomali kepemimpinan Nur Alam tersebut kemudian dianggap wajar melihat perbuatan mereka yang sudah kebangetan. Makan gaji buta. Sudah diingatkan sekian kali tapi tak digubris. Tetap membangkang. Gubernur pun mengungkapkan, secara materi barangkali memang tidak ada masalah. Sebab mereka mungkin sudah memiliki pekerjaan. Namun, secara moriil mereka telah kehilangan status sosial yang dihormati masyarakat. PNS di mata masyarakat masih dianggap warga terhormat. “Apalagi belakangan ini, untuk menjadi PNS luar biasa sulitnya. Peminatnya pun sangat banyak. Sekarang kalau masih ada PNS yang ingin berhenti dipersilakan. Para kepala SKPD pun kalau mau mundur dan berhenti sebagai PNS, dengan senang hati saya akan proses administrasinya lebih cepat”,  kata Nur Alam.

Saya percaya tindakan pemberian sanksi itu hanya setengah hati. Hanya demi melaksanakan peraturan yang berlaku. Nur Alam termasuk tipe pemimpin yang merakyat. Dia tidak membuat jarak dengan staf. Di luar jam kerja, Nur Alam larut dengan mereka sebagai teman atau  sahabat. Dengan warga biasa tak berbeda. Kalau melihat seseorang warga di sekitar dia, Nur Alam akan langsung menyapa: “Barangkali perlu dengan saya?”.

Nur Alam sebetulnya bukan tidak mau melakukan mutasi di lingkup organisasi Pemprov Sultra. Terjadinya mutasi oleh sebab perpindahan, pensiun, dan meninggal dunia adalah kekecualian. Tetapi mutasi dalam rangka penyegaran organisasi, atau untuk sekadar memberi  pelajaran,  Nur Alam tidak berani melawan kata hatinya.  Dia membayangkan betapa sakitnya orang yang tiba-tiba kehilangan jabatan karena suatu sebab yang tidak jelas alasannya.

Namun demikian, Nur Alam sering tidak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap staf yang tidak kreatif, hanya sekadar menjalankan rutinitas belaka, atau karena memang staf itu bodoh. Perasaannya itu tentu saja tidak diungkapkan ke publik melainkan hanya sebatas kepada teman dekatnya. “Saya heran, ada yang  berambisi menduduki suatu jabatan, katakanlah menjadi jabatan struktural eselon II. Tetapi ketika tiba saatnya diberi kepercayaan, dia tidak bisa berbuat apa-apa”, curhat Nur Alam dalam banyak kesempatan berbincang yang bersifat pribadi.

Adalah sangat wajar jika hati Nur Alam sering menangis sejadi-jadinya melihat staf yang tidak disipilin sebagai PNS, tidak bekerja maksimal melaksanakan tugas dan fungsinya, apalagi tidak loyal. Perihal tidak loyal sering diindikasikan dengan memberi informasi kepada pihak luar dan bahkan kerja sama dengan LSM nakal untuk menghantam Gubernur Nur Alam.

Betapa Nur Alam tidak kecewa melihat perilaku staf seperti itu sebab dia telah memberi sepenuh perhatian terhadap perbaikan nasib mereka. Masih di tengah periode pertama masa jabatannya sebagai gubernur, dia telah menempuh kebijakan terkait perbaikan penghasilan PNS di lingkup Pemprov Sultra. Melalui dana APBD dia menyediakan tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) terhadap setiap PNS di lingkup Pemprov Sultra. Paling tinggi adalah sekitar Rp 11 juta setiap bulan untuk eselon II, dan staf biasa Rp 1 juta untuk golongan III.

Kebijakan itu diungakap ketika dia mengumumkan sanksi terhadap sekian banyak PNS tadi. Menurut Gubernur Nur Alam (48 tahun), total pembayaran TPP setiap tahun sekitar Rp 130 miliar setiap tahun. “Kalau dana sebesar itu digunakan untuk membangun jalan, maka setiap tahun kita bisa mengaspal jalan  sepanjang 130 kilometer”,  kata ayah tiga anak itu.

Kita berharap agar PNS khususnya para pejabat struktural di Sulawesi Tenggara tahu diri. Kepentingan rakyat telah dikorbankan untuk pembayaran TPP. Sangat durhakalah Anda jika tidak bekerja maksimal untuk melayani kepentingan publik. Lebih celaka lagi jika Anda masih melakukan  korupsi dalam bentuk apapun. ***

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>